Beranda Views Opini Sulitnya Mendapatkan Ilmu di Era Pandemi Covid-19

Sulitnya Mendapatkan Ilmu di Era Pandemi Covid-19

330
BERBAGI
Berliana Nadilla Parashati. Foto: Istimewa

Oleh: Berliana Nadilla Parashati

Sejak akhir 2019 dunia dihebohkan dengan munculnya penyakit baru yang disebabkan oleh virus corona jenis baru. Bermula dari Kota Wuhan di China, virus itu kemudian menyebar ke hampir seluruh negara.

Eskalasinya yang besar dan penyebarannya yang luas kemudian membuat organisasi kesehatan dunia atau WHO menetapkan kasus virus corona yang menyebabkan kematian itu sebagai pandemi.

Pandemi Covid-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit coronavirus 2019 (bahasa Inggris: coronavirus disease 2019, disingkat Covid-19) di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh coronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah Covid-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020.

Hingga 23 April 2020, lebih dari 2.000.000 kasus Covid-19 telah dilaporkan di lebih dari 210 negara dan wilayah, mengakibatkan lebih dari 195,755 orang meninggal dunia dan lebih dari 781,109 orang sembuh.

Pandemi virus corona (covid-19) mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam keseharian individu dan aktivitas masyarakat. Pandemi Covid-19 membawa dampak perubahan yang luar biasa untuk semua bidang. Salah satunya bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan.

Pandemi covid-19 telah menciptakan kebutuhan dan perlunya menjaga jarak dalam interaksi sosial (social distancing), karantina, dan isolasi sehingga setiap individu yang rentan tidak akan terpapar virus Covid-19. Upaya tersebut dilakukan salah satunya dengan tu¬¬juan agar tidak meningkatnya jumlah pasien

Sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah pun ‘dipaksa’ untuk melakukan pembelajaran dari rumah. Disrupsi teknologi terjadi di dunia Pendidikan, pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan 100 persen di sekolah, secara tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis.Tak bisa dipungkiri di atas 50 persen pelajar dan mahasiswa berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.

Dalam keadaan normal, pembelajaran model BDR (belajar di rumah) dan BDS (belajar di sekolah) bisa relatif sama tujuan dan kualitasnya. Yang membedakan mungkin hanya sarana pendukung yang digunakan. Pada keadaan darurat, ketika masyarakat (termasuk siswa dan guru) masih dibayangi wabah mematikan covid-19, seharusnya desain dan proses pembelajaran yang diterapkan berbeda sebab belajar tidak lagi bisa dianggap sebagai business as usual. Walaupun demikian, kebijakan BDR—yang diputuskan dengan tujuan untuk menghambat penyebaran virus—dalam praktiknya tetap harus mengacu pada kurikulum nasional.

Sistem pembelajaran jarak jauh yang dilakukan secara daring dengan mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi. Adapun beberapa macam aplikasi yang digunakan selama pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 di antaranya adalah google classroom, whatsapp, meet, zoom, schoology, dan lain sebagainya.

Dengan adanya aplikasi tersebut dapat memudahkan dosen dan mahasiswa dalam melakukan sistem pembelajaran daring. Namun pembelajaran daring ini masih memiliki banyak kendala seperti gangguan sinyal, kuota internet yang kurang memadai, dan lain sebagainya.

Pembelajaran jarak jauh juga masih kurang efektif dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka. Hal ini disebabkan untuk mahasiswa yang mempelajari ilmu eksakta akan sulit memahami konsep-konsep ilmu eksakta dengan baik dan benar sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk mahasiswa yang mempelajari ilmu tersebut terutama pada bidang ilmu biologi, kimia, fisika, dan matematika. Bukan hanya kesulitan dalam memahami konsep, tetapi juga mahasiswa yang seharusnya melakukan praktikum justru menjadi terhambat.

Di samping hal itu, pembelajaran jarak jauh masih menimbulkan masalah yang terjadi pada mahasiswa. Pada kenyataannya mahasiswa mengeluhkan materi yang belum dijelaskan sampai selesai dan justru diberikan tugas yang lebih banyak. Bahkan, untuk mahasiswa yang berada di pedesaan terkadang mengalami gangguan sinyal sehingga ketika dosen menjelaskan materi melalui video call tidak terdengar dengan jelas. Begitu juga ketika melakukan ujian online, masih banyak mahasiswa yang mengalami kendala sinyal. Hal ini mengakibatkan hasil nilai ujian tidak maksimal. Adanya pembelajaran online juga berdampak pada kuota internet yang digunakan semakin banyak.

Pembelajaran jarak jauh tidak hanya memiliki kekurangan tetapi juga memiliki kelebihan. Kelebihannya adalah mahasiswa dapat belajar dirumah dengan santai sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga tanpa harus keluar rumah. Mahasiswa menjadi mahir dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Mahasiswa dapat mempelajari materi yang diberikan oleh dosen dengan mudah bahkan bisa diakses kapan saja dan dimanapun berada. Mahasiswa juga dapat terjalin komunikasi yang baik dengan keluarga. Adanya pembelajaran daring juga membuat mahasiswa menjadi terhindar dari Covid-19 sehingga dapat memutuskan rantai penularan virus.***

*Berliana Nadilla Parashati adalah mahasiswi Universitas Sriwijaya

 

Loading...