Beranda News Wisata Sumber Air Panas, Kekayaan Desa Way Panas yang Belum Dieksplorasi

Sumber Air Panas, Kekayaan Desa Way Panas yang Belum Dieksplorasi

7180
BERBAGI
Air panas memancar dari titik pertama sumber air panas di tepi sungai kecil pinggir Desa Way Panas, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung. (Foto: Oyos Saroso HN/Teraslampung.com)

Oyos Saroso H.N.|Teraslampung.com

DESA Way Panas mungkin bisa disebut daerah terpencil di Kabupaten Tanggamus. Namun, desa yang berada di Kecamatan Tanggamus (tetapi lebih dekat ke Kotaagung) ini bukanlah daerah miskin. Di sisi kanan-kiri jalan yang membelah desa, berjajar rapi sejumlah rumah bagus. Beberapa di antaranya masih dengan arsitektur asli Lampung berupa rumah panggung.

Meski bukan daerah terpencil, untuk masuk ke desa tidaklah mudah. Jika memakai sepeda motor, pengendara harus ekstrahati-hati karena banyak jalan menganga lebar karena tergerus limpasan air hujan. Kalaupun mengendarai mobil, kita juga harus menjalankan mobil dengan  pelan karena di badan jalan terhampar batu-kali sungai berukuran besar. Meskipun tertata, punggung-punggung batu itu akan membuat siapa pun yang berada di dalam mobil dan melintas di jalan desa menuju Pekon Way Panas akan ‘bergoyang’ badan.

Jalan yang membelah desa di kampung ini akan berujung di sebuah sungai kecil. Itulah sebenarnya batas akhir jalan desa. Sebab, di seberang sungai itu sudah yang ada adalah jalan setapak menuju kebun cokelat. Antara jalan besar dengan jalan setapak di kebun, tidak ada jembatan penghubung. Hanya ada 3-4 batu besar sebagai pijakan bagi penyeberang. Namun, warga Desa Way Panas biasa menyeberangi sungai kecil dengan sepeda motor tril. Mereka yang melintas jalan itu dengan tril biasanya adalah para pemuda kampung yang sedang mengangkut beberapa karung kopi atau cokelat yang baru saja dipanen.

Hanya berjarak tiga meter dari sungai tanpa jembatan itu akan terlibat sebuah semburan air yang lumayan kencang. Memang air mancar itu tidak terlalu besar. Namun, jangan sekali-sekali berani membasuh muka dengan air itu, karena itu adalah air panas. Di situlah satu titik di antara empat titik sumber air panas yang ada di Desa Way Panas.

Tiga lokasi air panas lainnya letaknya lumayan jauh.Paling dekat berjarak sekitar 2 kilometer dari sumber air panas pertama. Untuk mencapainya, kita harus melintasi kebun cokelat milik warga. Letaknya berada di sebelah kanan jalan setapak. Jarak dengan jalan setapak kira-kira 100-an meter. Namun, untuk mencapainya juga tidak mudah, karena harus melewati jalan setapak curam berbatu dengan dua undakan dengan kemiringan sekitar 40 derajat.

  Pancaran air panas yang menyerupai gerojokan keluar dari tebing sungai. Inilah titik kedua sumber air panas di Desa Way Panas.
Pancaran air panas yang menyerupai gerojokan keluar dari tebing sungai. Inilah titik kedua sumber air panas di Desa Way Panas.

Dari jalan setapak yang membelah kebun cokelat, gemuruh air terjun yang bersumber dari titik air panas kedua sudah terdengar. Lokasi air sumber panas kedua jauh lebih eksotis dibanding sumber air panas pertama, Sebab, letaknya berada di sebuah tebing tinggi. Tebing tersebut sekaligus merupakan sisi sungai selebar sekitar 7 meter yang dipenuhi batu-batu besar. Di sungai itu juga mengalir air panas yang berhulu di Ulu Belu. Ulu Belu adalah salah satu lumbung energi panas bumi di Lampung.

Pancaran air panas yang memancar dari dalam tebing itu jauh lebih besar dibanding di titik pertama. Suara pancaran air dan iramanya juga terdengar ‘indah’ di telinga.

Saking panasnya air yang memancar dari tebing sungai setinggi sekitar 10 meter itu, pada bagian atas tebing yang ditumbuhi rimbun perdu, terlibat asap mengepul.

SIMAK: Melihat Indonesia dari Desa Way Panas

Sahran, penduduk Desa Way Panas, mengaku meskipun tidak sepanas air yang memancar dari tebing sungai, jika telur dimasukkan ke dalam air sungai dipastikan akan langsung matang. Makanya, para pendatang disarankan tidak mencelupkan tangan atau kaki ke dalam air sungai.

“Tapi kalau sudah terbiasa ya tidak apa-apa. Warga di sekitar sini biasanya tidak apa-apa jika mencelupkan kaki ke dalam air sungai,” kata Sahran, sambil mencelulkan telapak kaki kananya ke dalam air sungai dan menahannya selama beberapa menit.

Menurut Kepala Pekon (Desa) Way Panas, Idham Kholid, air panas di desanya merupakan salah satu kekayaan yang belum dieksplorasi.  Ia  mengaku punya mimpi suatu hari nanti sumber air panas di kampungnya akan bermanfaat dan memberikan kesejahteraan bagi semua warga desa.