Beranda Kolom Sepak Pojok “Summer Camp” Anaknya Fadli Zon dan Pameran Kekuasaan

“Summer Camp” Anaknya Fadli Zon dan Pameran Kekuasaan

263
BERBAGI
Aktivitas Kelas "Summer Camp" Stage Door Manor (sumber: katalog Stage Door Manor/stagedoormanor.com).

Made Supriatma

madesupriatmaSudah lihat suratnya Fadli Zon? Iya. Dia minta bantuan sama KBRI dan KJRI New York untuk menjemput dan ‘mendampingi’ anak perempuannya yang akan melakukan Summer Camp di daerah Catskill, New York.

Anaknya akan menjalani kamp musim panas di sebuah tempat yang bernama ‘Stagedoor Manor’. Ini adalah kamp musim panas untuk latihan pentas — menyanyi, menari, akting, olah vokal, dan lain sebagainya. Dari websitenya, saya tahu bahwa campers berdatangan dari segala penjuru dunia — termasuk Indonesia. Kamp ini dibagi beberapa session.

Session yang diikuti oleh putri wakil ketua DPR ini berlangsung dari mungkin Session I (13 Juni-3 Juli). Satu sesi berlangsung selama 3 minggu. Harganya? Menurut website Stagedoor, satu session berharga $5,895 saja. Dalam kurs hari ini? Itu sama dengan 77.803.127,06 rupiah saja.

Tentu tidak sembarang orang Indonesia bisa mengeluarkan beaya segitu hanya untuk kamp selama tiga minggu. Tidak juga untuk orang Amerika kebanyakan. Ini mahal. Itu pasti.
Nah, keadaan semakin njlimet karena Tuan Fadli Zon meminta pihak KBRI (dalam hal ini KJRI) untuk menjemput dan ‘mendampingi’ putirnya selama di New York. Pihak KJRI setuju menjemput tapi tidak mendampingi. Masuk akal. Pastilah mahal beaya untuk mendampingi selama 3 minggu itu. Jadi pihak KJRI akan menjemput di Airport saja.

Tapi, lagi-lagi dari website Stagedoor Manor hal ini sudah dibahas pada Q&A mereka:

“I don’t live in New York. Can I still attend Stagedoor Manor?
Of course! Campers fly in from all over the world to attend Stagedoor! With proper notification, we can assist with camper pick-up and drop-off from Newark Airport at the start and end of each session.”

Nah sebenarnya pihak penyelenggara kamp sudah memikirkan ini. Disebutkan bahwa mereka bisa mengatur penjemputan dan pengantaran ke bandara Newark di Newark, New Jersey. Saya kira, mereka juga akan melayani antar jemput di JFK, yang lokasinya di New York, dan lebih dekat dengan lokasi kamp.

Fadli Zon mengatakan bahwa pihak KJRI mengantarkan anaknya sampai ke tempat temannya di Queens, NY yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari JFK. Saya tidak mengerti, mengapa dia harus melibatkan pihak KJRI dalam hal ini. Taksi sangat mudah diperoleh.

Lagi pula, menurut Itinerarynya, anaknya sampai di NY siang bolong.

Kemudian, saya melihat surat balasan yang ditujukan oleh Fadli Zon ke Menlu. Dia mengganti rugi beaya bensin, yang dia hitung sendiri sekitar $100. Dia memberikan Rp 2 juta rupiah. Sisanya, untuk tip si sopir.

Apakah di situ masalahnya? Saya kira tidak. Untuk saya, mungkin juga untuk banyak orang, ini hanyalah pertunjukkan kekuasaan. Mungkin dia berpikir, “Ah, cuma segitu … nggak ada artinya.” Di berita lain saya membaca dia mengatakan, “Ini kan bukan Sumber Waras.” Dia mengacu pada kasus pembelian RS Sumber Waras oleh Pemda DKI. Dia ingin memakai kasus yang menimpanya ini untuk menghantam lawan poltiknya, Ahok.

Mungkin masalah ini remeh temeh. Namun ada yang sangat esensial dan sekaligus menjadi petunjuk karakter politisi ini. Soal ini adalah soal pertunjukkan kekuasaan. Bahwa KBRI dan KJRI harus melayani dia dan kerabatnya. Padahal fungsi KBRI dan KJRI bukanlah untuk mengurus pejabat dan keluarga pejabat.

Dan kemudian soal dua juta rupiah itu. Saya tidak mempersoalkan penggantian jumlah itu. Namun nada surat ini, sungguh suatu nada dengan arogansi oktaf tinggi.

Saya mengenal beberapa staf lokal KJRI. Mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Loyal dan penuh dedikasi kepada bangsanya. Sekalipun mereka hanya dipekerjakan sebagai staf lokal. Bisa terbayang bagaimana perasaan mereka. Tidak lebih dari sekedar supir — dengan tip! — untuk melayani putri pejabat yang sebenarnya bisa dengan mudah mencari taksi atau mengatur penjemputan dari pihak penyelenggara kamp.

Lagi-lagi, ini adalah soal mental! Kualitas mental seperti ini berbicara pada dirinya sendiri.