Beranda Teras Berita Surat Eko Tunas untuk Halim Hade: Puisi Esai*

Surat Eko Tunas untuk Halim Hade: Puisi Esai*

86
BERBAGI
Eko Tunas (dok FB Eko Tunas)

Maafkan, saya terpaksa berkabar tentang puisi esei, Lim, satu istilah yang kini sedang ramai dibicarakan. Terlebih, model ‘puisi panjang’ dan berisi pemikiran penyairnya tentang persoalan-kehidupan nyata, seakan baru ada pada 2013 ini dan dilahirkan oleh seorang penyair dadakan. Saya hanya mau mengingatkan, di 1975-an, di Yogya puisi model itu sudah marak, lalu dalam perjalanan waktu mempengaruhi puisi penyair se-Nusantara.

Entahlah, mungkin dimulai dari Rendra, yang harus diakui menyebarkan virus melalui puisi-puisi ‘baladanya’. Seperti sebutlah puisi: Rick Dari Corona, Khotbah, Pesan Pencopet Kepada Pacarnya. Dari konteks yang lebih sosial-politik, Simon Hate muncul dengan puisi-puisi eseinya. Sungguh dalam satu diskusi pembacaan puisi-puisinya bersama Joko Kamto, Simon menyebut puisi-puisi dia dan Joko Kamto sebagai puisi esei.

Bahkan, dalam diskusi yang cukup serius itu, Simon menegaskan satu teori mengejutkan. Bahwa, menurutnya, puisi yang baik ialah puisi-esei, puisi yang mengandung esei, berisi pemikiran intelektual-kontekstual penyairnya. Bukan soal panjangnya, tambah Simon, tapi puisi paling pendek sekalipun mesti berupa puisi-esei. Sebab, tegasnya, puisi panjang atau pendek, membutuhkan pengalaman membumi dan keilmuan umum.

Di samping Simon Hate atau Joko Kamto, bukankah kau menerbitkan puisi-puisi senapas? Misalnya “Nyanyian Gelandangan” Emha Ainun Nadjib, kalau tidak salah melalui penerbit Rajawali Pers. Juga puisi-puisi Wiji Tukul, meski kau terbitkan fotokopian Lalu melalui beberapa buletin Yogya, bermunculan puisi-puisi senapas dari berbagai kota. Dari situ tertampunglah puisi-puisi esei yang tidak bakal dimuat di mediamasa formal.

Tak disangka, dari puisi baladanya, muncul puisi esei terpanjang Rendra, yang pernah menjadi sisipan satu majalah terbitan Jakarta. Saya lupa judulnya, satu puisi yang berbicara tentang kondisi sosial-politik rezim Orde Baru, dalam metafora “Anak”. Satu embrio, yang menurut saya cikal-bakal lahirnya puisi-puisi pamplet Rendra. Bahkan, dari Tegal, puisi-puisi karya Nurhidayat Poso senapas puisi-pusi Simon, Emha, atau Rendra.

Sebagai ilustrasi tambahan, saya pun terpengaruh model puisi Simon, dan puisi inilah yang saya sertakan dalam Forum Penyair 1978 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Salah satunya yang saya bacakan berjudul “Sajak Lawan Kosong”, dan “Katakanlah Saudaraku” (dimuat di majalah Refleksi Yogya). Dalam obrolan di luar forum saya dengar Sutardji Calzoum Bachri meledek: puisi apa itu, puisi kok kayak artikel.

Kemudian puisi-puisi itu saya bacakan di rumah Rendra, dan Rendra menyatakan suka, sambil mengutarakan mengenai puisi yang berpikir. Di hadapan Hamsad Rangkuti dia bilang, agar pusi saya dikirim ke Horison. Usul Rendra saya lakukan, tapi pada kenyataannya tidak pernah dimuat. Satu hal, puisi jenis ini memang tersingkir, dunia sastra di mediamasa lebih diwarnai puisi-puisi yang menurut istilahmu: ‘puisi gelap’.

Di atas ketersingkiran, terkalahkan oleh struktur dan sistem, mendadak muncul puisi sejenis. Puisi ini ditasbihkan sebagai pelopor puisi esei, oleh tim juri, guna mendongkrak nama si penyair. Satu nama baru dalam dunia sastra tapi punya uang, untuk menerbitkan buku lux, dan membayar kritikus bertaraf nasional. Bukankah jelas-jelas disamping sebagai praktek kapitalistik, ini adalah tindakan senyatanya pencurian karya intelektual.

Saya yakini, Lim, bahwa puisi penyair Yogya 1975-an, Rendra, Emha, hingga Wiji Thukul itulah yang dimaksudkan Simon sebagai puisi-esei. Belum lagi, dalam konteks yang berbeda, terbitnya buku puisi dalam satu judul, karya Linus Suryadi Ag, “Pengakuan Pariyem”. Baiklah, Lim, saya hanya berkabar saja, sambil mengingatkan soal etika. Bahwa, penasbihan pelopor puisi esei di 2013 bisa jadi melakukan pembenaran temuannya.

Tapi, menurut saya, kebenaran saja tidak cukup, dalam pembenaran mesti ada riset dan etika, satu hal penting dalam dunia intelektual atau kepenyairan.

Salam dari saya,

Eko Tunas

* Eko Tunas adalah penyair, pekerja seni, tinggal di Semarang