Beranda Views Suara Publik Surat Terbuka untuk Bu Megawati: Jangan Sandingkan Rano dengan Dinasti Banten

Surat Terbuka untuk Bu Megawati: Jangan Sandingkan Rano dengan Dinasti Banten

86
BERBAGI

Bu Megawati yang saya hormati. Saya adalah pengagum Bung Karno. Ketika Ibu tetap bertahan setelah didzholimi rezim orde baru dan membentuk PDI Perjuangan, saya berharap banyak. Semoga di era Jokowi ini semua perbaikan jadi mudah. Sekarang saya berharap kepada Jokowi, menjalankan program-program terbaiknya dan berimbas ke Banten.

Bu Megawati, saya warga Banten. Saya merasakan, sekarang Pemprov Banten dengan Pemerintah Indonesia nge-klik alias nyambung. Antara Pak Jokowi sebagai Presiden RI dan Rano Karno sebagai Gubernur Banten, rupanya terikat hubungan emosional yang positif. Saya sendiri dengan Rano hanya sebatas fans dan idolanya. Saya penggemar film-film Rano. Barangkali Pak Jokowi juga semasa mudanya penonton film-film Rano. Ah, siapa yang tidak mengagumi karya hebat Rano di “Si Doel Anak Sekolahan”, ya, Bu? Misi pendidikan dibungkus dengan sangat baik, sangat menghibur. Itu sebabnya pada 1997, Rano jadi duta UNICEF.

Bu Megawati, sekarang saya memohon sekali. Rawatlah Rano sebaik mungkin. Rano sudah mulai dicintai warga Banten, berkat kepemimpinannya yang bersahaja dan egaliter. Jangan sandingkan Rano dengan Andika atau Jaman, yang masih terkait dengan dinasti Banten. Andika itu putra Atut, yang kini dipenjara. Jaman itu sekarang walikota Serang dan adik (tiri) Atut. Dugaan kuat seperti itu ada, karena di Koran lokal Banten, berita-beritanya tendensius dan diduga menggalang opini seperti itu. Jika itu terjadi – pada akhirnya keputusan partai di pusat – saya meyakini Banten kembali bernasib di era Atut. Saya sudah melakukan “riset” informal; mewawancarai orang-orang yang bekerja di lingkungan Pemprov Banten. Saya mengumpulkan dua hal yang menarik yang sifatnya keluhan dan kebahagiaan. Yaitu :

1. Ini soal keluhan. Era Rano sekarang, kita tidak mendapatkan bagian apa-apa. budya transaksional terhambat.
2. Soal kebahagiaan. Banyak yang mengatakan, Rano tidak pernah menekan SKPD untuk setor 30%. Para pelaksana kegiatan di lapangan diberi kebebasan yang bertanggung jawab untuk berkarya.

Saya juga pernah mewawancarai Rano, melakukan konfirmasi untuk hal ini. Rano mengatakan, “Memang masih banyak orang-orang yang melakukan praktek KKN di lingkungan Pemprov Banten. Kalau ketemu, lapor ke gue! Bahkan kalau ada keluarga gue yang memanfaatkan posisi gue atau menjual nama gue sebagai gubernur, jangan turuti. Itu tidak atas perintah gue!”

Nah, sejalan dengan itu, Bu Megawati, saya melihat kesungguhan Rano dalam memberantas korupsi dimulai dari dirinya, kemudian ke birokrasinya. Reformasi birokrasi di Banten sedang berlangsung alot. Hal itu dibuktikan Rano dengan menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) , yaitu menyelenggarakan Workshop Integritas untuk kepala daerah se-Provinsi Banten pada Mei 2016 lalu. Workshop tersebut diadakan dua hari, dari Selasa hingga Rabu di gedung KPK. Rano ingin ada perbaikan dalam workshop ini. Masalah penganggaran, sistem, sumber daya manusia, rekrutmen SDM, dan perizinan satu pintu.

Bu Megawati, sebagai warga Banten, saya baru merasa memiliki gubernur yang dialogis, tidak KKN, sejak Rano definitif jadi gubernur Banten per-Agustus 2015 hingga sekarang. Saya kaget. Ternyata Rano mencoba untuk membangun Banten dengan melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk saya di wilayah kesenian.

Saya pernah mendengar Rano berpidato, “Semua tindakan saya harus berdasarkan riset.” Maka dibentuklah Dewan Riset Daerah oleh Rano. Orang-orang yang dipilih Rano duduk di DRD tidak lagi terkesan “balas budi” setelah berhasil memenangkan jagoannya jadi gubernur seperti di era Atut, yang kini dipenjara krena KKN. Itu sudah rahasia umum. Di era Rano, sya mencium aroma harum, DRD harus representasi dari warga Banten; mulai dari ilmuwan, akademisi, peneliti, budayawan, bahkan unsur pers. Mereka sangat memiliki kapasitas, kompetensi, koneksivitas dengan Jakarta, serta jejaringnya juga bagus. Dan mereka tidak ada kaitannya dengan karir politik Rano. Ini sangat positif.

Nah, Bu Megawati, sepanjang tahun 2016 ini, di Banten mulai marak baliho pencitraan. Ada dua nama yang mencolok muncul dan disokong biaya politik luar biasa. Mereka adalah Andika Hazrumy, putra sulung Atut, anggota DPR, punya kekayaan Rp. 19, 8 milyar. Majalah Tempo edisi 10 November 2013 menulis, “Andika melaporkan kekayaan ke KPK pada 2009. Setengah dari kekayaan Andika berupa 9 mobil mewah.” Saat itu umurnya baru 24 tahun.

Kedua Jaman, sekarang Wali Kota Serang. Jaman adik tiri Atut. Dia juga digadang-gadang mendampingi Rano di Pilgub 2017 nanti.

Apakah mereka tidak boleh menduduki jabatan itu? Boleh, Bu Megawati. Jika amanah apalagi. Tapi, sejarah membuktikan, Atut (guberbur sejak 2003 – 2013?) dan Wawan (adiknya) mempraktekkan KKN. Skandal dana hibah bisa diakses di http://nasional.news.viva.co.id/…/450777-kejanggalan-dana-h… .

Juga dana hibah di era Atut yang mengalir ke lingkungn atau keluarganya ditulis juga di sini : http://www.beritasatu.com/…/145734-dana-hibah-provinsi-bant… .

Dana hibah yang dikucurkan dari APBD Provinsi Banten sejak tahun 2011 hingga 2013 ini sebagian besar mengalir ke yayasan, lembaga atau organisasi yang dipimpin keluarga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah bersama kroninya.

Putra Atut yakni Andika Hazrumi, juga memimpin Tagana Provinsi Banten, mendapat dana hibah sebesar Rp 3 miliar dan Karang Taruna Provinsi Banten sebesar Rp 3,5 miliar. Dana hibah yang diterima organisasi dengan sasaran pemuda karya ini seluruhnya mencapai Rp 10 miliar. Sedangkan, istri Andika (menantu Atut), Adde Rosi Khoirunnisa yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Serang, juga memimpin tiga organisasi yang berbasis kepada wanita karya. Tiga organisasi tersebut di antaranya Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Provinsi Banten, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Banten, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten. Ketiga organisasi itu mendapatkan total kucuran dana hibah mencapai Rp 5,6 miliar.

Masih banyak lagi, Bu, pembahasan tentang mereka – dinasti Atut. Media massa sekelas majalah Tempo saja sudah mengupas skandal dana hibah ke dinasti Atut. Di media online juga begitu.

Bu Megawati yang saya cintai, Saya tidak pernah melarang Andika dan Jaman maju sebagai calon gubernur Banten 2017 – 2022. Itu hak politik mereka. Kalau pun mereka menang, saya tidak punya kuasa menurunkan mereka. Tapi, sebelum mereka maju, saya harus mengatakan kebenaran yang saya yakini ini kepada Ibu. Jika mereka disandingkan dengan Rano, maka visi utama memberantas KKN di Banten kembali ke era Atut, terpuruk. KKN yang dilakukan Atut dan Wawan secara sistemik belum selesai, masih mengakar kuat di SKPD. Seharusnya KPK terus melakukan penyelidikan. Jika mereka maju dengan kekuatan uangnya di Pilgub Banten 2017 dan menang, maka mereka akan melestarikan lagi budaya KKN. Sekarag saja di birokrasi, masih banyak bercokol oknum pejabat yang masih senang dengan budaya KKN.

Dalam berpolitik juga Andika dan Jaman tidak memahami etika dan moral. Mereka seolah buta dengan apa yang dilakukan oleh Atut dan Wawan, keluarga besar mereka terhadap Banten. Atut dan Wawan dipenjara kini, tapi tidak pernah terucap permohonan maaf mereka kepada warga Banten. Mereka menganggap hal ini biasa dalam politik. Sebetulnya, mereka juga harus bertanggung jawab.

Bu Megawati, nge-kliknya Rano sebagai gubernur Banten dan Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia, dan lobby ke pemerintah pusat, jadi lebih diperhatikan. Alhamdulillah, 12 proyek nasional dibangun di Banten. Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pembangunan Strategis Nasional. Dua belas proyek tersebut antara lain pembangunan Tol Serang-Panimbang, Tol Kunciran-Serpong, Tol Serang-Cinere, dan Tol Serpong-Balaraja. Kemudian, proyek kereta api ekspres Seokarno Hatta-Sudirman, Bandara Banten Selatan Panimbang, dan pengembangan Bandara Soetta. Selanjutnya, pembangunan terminal elpiji Banten kapasitas 1 juta ton per tahun, energi asal sampah kota-kota besar di Tangerang, Waduk Karian, KEK Tanjung Lesung, serta percepatan infrastruktur transportasi, listik, air bersih untuk kawasan strategis pariwisata nasional (KSN) Tanjung Lesung.

Saya sempat bertanya, “Kenapa pada era sebelumnya hal itu tidak bisa dilaksanakan?” Ternyata, karena proyek APBN tidak bisa disunat 30%. Itu sebabnya, proyek-proyek APBD di Banten berputar-putar di perusahaan satu keluarga saja. Potensi KKNnya sangat besar. Jalan cepat rusak, sekolah roboh, hal yang sering kita baca di media social.

Satu proyek yang sudah pasti dilaksanakan di tahun 2016 adalah proyek tol Serang-Panimbang. Proyek ini sebagai sarana memutus isolasi daerah selatan guna mendukung pengentasan dua kabupaten: Pandeglang dan Lebak yang selama ini berstatus tertinggal. Selain tentu saja mendukung Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Tanjung Lesung. Penetapan lokasi sudah Bag Rano tandatangani pada 29 Juli 2016 dan segera diikuti dengan pembebasan lahan. Soal jalan tol Serang ke Panimbang, rakyat Banten di kedua kabupaten itu udah nungguin selama 24 tahun. Mereka kalau ke Jakarta nih, udah nggak usah pusing-pusing lagi, deh. Nah, ini namanya keadilan bagi seluruh rakyat Banten.

Bu Megawati, ini adalah upaya terakhir dari saya sebagai warga Banten dalam melawan hegemoni infrastruktur politik dinasti di Banten. Sudah rahasia umum, mereka melakukan konspirasi untuk menyandingkan Rano dengan Andika atau Jaman, bagian dari dinasti Atut. Jika upaya saya ini gagal, setidaknya saya sudah berikhtiar. Saya hanya bisa berdoa saja nanti, supaya Banten tidak terpuruk lagi…..

Kepada seluruh warga Banten, terutama para pendukung Andika dan Jaman, semoga bisa memahami situasi dan kondisi ini. Bacalah sejarah. Bacalah diri kita. Bacalah sahabat kita. Bacalah Banten. Bacalah tentang dinasti Banten.

Akhir kata, Bu Megawi. Tentu saya yang awam sekali tentang politik Indonesia, berharap Ibu bisa dengan bijaksana memutuskan persoalan pelik di Banten ini. Maju-mundurnya Banten ada di tangan Ibu. Seperti halnya Bung Karno – maka Ibu akan dicatat dengan tinta emas oleh warga Banten, bukan sebaliknya, jadi bagian dari pelestarian budaya KKN, yang dikembangbiakkan oleh dinasti Atut di Banten.

Tetap semangat mencintai Banten.

Gol A Gong
Warga Banten
Hidup matiku untuk Banten