Beranda Views Kopi Pagi Surat untuk Pecun

Surat untuk Pecun

3471
BERBAGI

Cun,  demam batu akik sedang melanda kampung kami ketika kutulis surat ini. Kamu pasti tahu bagaimana rasanya jiwa dilimbur rasa suka cita yang meruah demi melihat harapan baru di depan mata. Harapan baru yang bermula dari sekadar bongkahan batu. Ya. Ya. Semua orang di kampungku kini dilanda demam berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan. Mereka menyangka, demam tersebab oleh hawa baik batu yang entah dijarah entah digali dari palung bumi.

Pecun yang baik, saya yakin di kampungmu demam serupa itu juga melanda. Ah, mungkin saja kau juga alih profesi sebagai pengasah batu, setelah kau merasa gajimu sebagai pe-en-es tak cukup buat menghidupi keluargamu selama sebulan. Kalau itu alaanmu, itu sama dengan alasan Suto Blawong yang merasa gajinya yang gedenya sak hohah dan rekening gendutnya tak cukup buat sekadar urut lutut. Itu pula alasanku kenapa aku kini jadi pengasah batu akik.

Ndang yang baik, minggu lalu aku menghadiri deklarasi pencalonan walikota-wakil walikota Bandarlampung. Mereka mendeklarasikan diri sebagai calon independen. Konon katanya, itu karena mereka kurang percaya kepada partai. Aku senang bukan karena calon walikota yang mendeklarasikan diri bersuara ngebas nyaris menggelegar dan kukenal betul orangnya. Bukan. Aku senang karena wakilnya adalah pengasah batu juga seperti aku

Pada deklarasi itu sang (calon) wakil Walikota bangga dirinya sebagai tukang batu akik. Ia harus keliling kampung untuk mendapatkan bahan batu akik terbaik. Setelah didapat, ia mengasahnya dengan sentuhan seni hingga jadilah batu akik yang nangkring di ring dengan indah. Saya lebih senang lagi karena ia berjanji akan menaikkan harkat orang kecil seperti saya, para pengasah batu akik.

Begitulah ceritanya kawan. Senang atau bahagia itu alangkah mudahnya didapat meski hanya sesaat. Oh ya, apakah kamu sekarang sedang bahagia? Semoga saja begitu.

Pecundang yang baik, ihwal bahagia dulu pernah kita diskusikan berhari-hari ditemani bergelas-gelas kopi. Kalau mengingat masa-masa itu, kini aku tertawa geli. Itu memang menggelikan.

Dulu kita meyakini bahwa setelah zaman kegelapan berganti terang benderang, akan lahir hari baru yang penuh kebahagiaan. Bahagia adalah ketika perut anak-istri kenyang, para petani tidak terbelit utang rentenir, sapi dan kerbau aman di kandangnya, sepeda motor dan mobil tak pernah diintai pencuri, harga kebutuhan pokok murah, penghasilan cukup dan bisa menabung, kutang istri tidak robek. rakyat kecil bisa berhaha-hihi di warung kopi. Sederhana sekali. Nyatanya kita salah. Zaman berganti, tetapi nasib rakyat begini-begini terus.

Ya. Ya. Memang selalu begitu nasib orang kecil.

Cun, kita mendengar ujaran berantai bahwa roda nasib itu seperti cakra manggilingan. Roda yang berputar. Terkadang seseorang berada di bawah, lalu tiba-tiba melesat ke atas. Kamu pasti ingat kawan kita Mat Sublewu yang sekolahnya paling bodoh di kelas kita. Ngomong pun ia tergagap-gagap. Hidupnya didera kemiskinan sejak zaman cindil abang. Tapi begtitu zaman berganti, ia tiba-tiba menjadi pengurus partai. Eh, tiba-tiba ia digandeng bupati petahana untuk jadi wakilnya. Dasar rezeki dia, eh, ndilalahnya dia menang pilkada.

Begitulah, Cun,  nasib dan garis tangan. Ada rezeki yang didapatkan dengan sangat mudah, ada yang harus diperjuangkan dengan sangat keras hingga mengeluarkan keringat berember-ember. Ada orang yang tiap helaan napasnya berarti uang ratusan juta rupiah. Tapi ada juga orang yang baru bisa mendapatkan uang sepuluh juta setelah menabung berbulan-bulan.

Cun, saya yakin kamu masih seperti Pecundang, kawanku yang dulu. Pecundang yang tidak pernah iri dengan kebahagiaan dan rejeki orang lain.

Cun, maaf aku sangat ngantuk. Besok di sambung lagi ya….

Salam buat keluargamu.

OYOS SAROSO HN