Beranda News Pilpres 2019 Survei Charta Politika: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Stagnan

Survei Charta Politika: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Stagnan

257
BERBAGI
Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, menyapa hadirin dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tampil kompak mengenakan pakaian adat. REUTERS/Darren Whiteside

TERASLAMPUNG.COM — Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menyebut tren elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo atau Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga stagnan.

Berdasarkan sigi Charta Politika dalam dua bulan terakhir, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin tetap, sedangkan elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami penurunan pada rentang angka margin of error.

“Secara statistik terjadi stagnasi suara pada kedua calon jika dilihat tren Oktober sampai Desember 2018,” kata Yunarto di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu, 16 Januari 2019.

Pada survei Oktober lalu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tercatat sebesar 53,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 35,5 persen. Adapun pada survei yang digelar 22 Desember 2018 – 2 Januari 2019 elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 53,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 34,1 persen.

Yunarto membeberkan, stagnasi terjadi lantaran pemilih loyal atau strong voters keduanya sudah cukup tinggi. Di pihak Jokowi – Ma’ruf jumlah strong voters sebesar 80,9 persen, sedangkan pemilih loyal Prabowo-Sandiaga sebesar 79,6 persen.

Menurut Yunarto, pemilih loyal ini tak akan terpengaruh kendati kandidat jagoannya melakukan kesalahan, kecuali yang bersifat ekstrem. Apalagi, ujarnya, kontestasi pilpres 2019 merupakan pertarungan ulang atau rematch dari pilpres 2014.

“Ini sudah terjadi pada pertarungan asal bukan Jokowi, asal bukan Prabowo. Ini rematch dari dua kelompok yang itu-itu aja, yang berantem terus-terusan,” kata dia.

Faktor stagnasi berikutnya, kata Yunarto, ialah berkurangnya isu kontroversial yang menjadi pergunjingan publik. Yunarto mengatakan masa kampanye yang relatif lama cukup berkontribusi terhadap hal ini. Selepas dua bulan masa kampanye, ujarnya, pola pemberitaan terhadap dua pasang kandidat pun mulai datar.

“Ada kejenuhan dari media maupun pemilih untuk mencari angle baru,” kata dia.

Yunarto mengimbuhkan, publik juga belum terlalu sensitif terhadap perubahan isu. Dia menilai selama ini publik hanya menggunakan isu-isu sebagai justifikasi kecintaan terhadap jagoan masing-masing, bukan melihat relevansinya dengan kebutuhan pemilih.

“Misalnya harga dolar naik hanya menjadi gorengan bagi yang anti kubu inkumben, harga dolar turun menjadi gorengan pendukung inkumben,” kata Yunarto.

Survei teranyar Charta Politika ini digelar dengan melibatkan 2.000 responden. Charta mengklaim margin of error surveinya 2,19 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Tempo.co

Loading...