Survei ISC: Ryamizard Ryacudu Cawapres Terkuat Dampingi Jokowi

  • Bagikan

Bambang Satriaji/Teraslampung.com

Jakarta – Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Ryamizard Ryacudu dinilai sebagai sosok yang paling pas untuk mendampingi calon presiden (Capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi). Hal tersebut terungkap dalam rilis hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Indonesia Survey Center (ISC), baru-baru ini.

Dalam survei yang diadakan pada 12-18 April 2014 itu putra asli Lampung itu berhasil mendapat perolehan suara sebesar 21,5 persen dari total 1.070 responden, disusul Jusuf Kalla 19,1 persen, Mahfud MD 14,3 persen, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) 12,9 persen, Puan Maharani 10,6 persen, dan Agus Martowardojo 8,4 persen. Sementara itu, yang menjawab tidak tahu ada 13, 2 persen.

“Tampilnya Ryamizard di posisi teratas pilihan publik ini tidak terlepas dari performanya yang low profile, tegas, setia, dan berlatar belakang militer non-Jawa,” kata Direktur Eksekutif ISC, Andry Kurniawan di Jakarta, Kamis  (30/4).

Selain itu,  Ryamizard dinilai responden mempunyai kemampuan untuk mensubordinasikan diri dengan Jokowi dalam kabinet pemerintahan Negara Indonesia periode masa jabatan 2014-2019, jika kelak terpilih di Pilpres (Pemilu Presiden) 2014.

Andry mengatakan pihaknya memang sengaja melakukan survei terkait calon wakil presiden (Cawapres) untuk Jokowi  karena saat ini yang paling ditunggu masyarakat adalah seputar siapa figur utama yang bakal mendampingi Jokowi nanti.

“Orientasi publik terhadap figur di atas parpol  masih menjadi rumus politik pemenangan Pilpres 2014 mendatang. Oleh karena itu, pemilihan komposisi capres-cawapres yang jitu saya kira sangat penting menuju kemenangan pasangan kandidat,” kata dia.

Menurut Andry, berdasarkan hasil survei lembaganya, perpaduan kandidat presiden yang berlatarbelakang sipil-Jawa/militer dengan Cawapres dari kalangan militer/luar Jawa, ataupun sebaliknya, ternyata masih menjadi primadona masyarakat.

“Masih menjadi primadona masyarakat untuk melihat calon pemimpin bagi bangsa Indonesia ke depan. Ini menandakan bahwa dikotomi yang masih terjadi ditengah-tengah masyarakat antara sipil-militer, masih tertanam kuat dibenak pemilih,” kata dia menuturkan.

Andry mencontohkan, ketika responden ditanyakan perihal dari kalangan mana yang paling cocok untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2014, ternyata mayoritas publik menjawab dari kalangan militer.

“Kalangan militer menempati posisi teratas dengan 47, 3 persen. Disusul dari kalangan birokrat 23,7 persen, kalangan pengusaha 18,2 persen, tokoh politik dari eksternal PDIP 15,1 persen, dan dari internal PDIP 9,3 persen. Hal itu mengindikasikan dwitunggal sipil-militer dianggap bisa meningkatkan elektabilitas Jokowi-Ryamizard,” kata dia.

Selain itu, kata Andry, sebanyak 30,3 persen publik berharap pemimpin mendatang harus bisa menyelesaikan isu dan tantangan keamanan.

Harapan masyarakat Indonesia selanjutnya adalah penerapan atau penegakan hukum dalam hal pemberantasan korupsi, dimana sebanyak 59,6 persen publik memilih itu. Dan sebanyak 27,4 persen publik berharap Jokowi punya wakil yang bisa mengentaskan kemiskinan.

“Karena itulah tokoh militer (Ryamizard) sebagai Cawapres untuk Jokowi dianggap publik sangat diperlukan, dalam rangka menghadapi segala kemungkinan terjadinya kekacauan (konflik) pascapemilu 2014,” katanya.

  • Bagikan