Susu Kental Manis, Kopat Kapit, dan Aturan

Humam S. Chudori (Foto: dok pribadi/istimewa)
Bagikan/Suka/Tweet:

Humam S. Chudori*

Tahun 1970-an, nama Rudy Hartono sangat popular. Sang legendaris pebulu tangkis ini bukan hanya dibicarakan jika ada perbincangan sekitar bulu tangkis. Melainkan juga di ,kalangan ibu-ibu akan menyebutkan namanya, jika memberikan susu kental manis kepada sang anak. “Ayo minum susunya, biar juara seperti Rudy Hartono,” demikian kira-kira orangtua perempuan akan berkata kepada anaknya, jika sang anak malas minum susu. Tak terkecuali emak saya.

Kenapa demikian? Karena saat itu selain menjadi pebulu tangkis handal. Ia merupakan ikon salah satu iklan Susu Kental Manis – yakni Indomilk. Susu Kental manis yang beredar saat itu memang banyak mereknya antara lain seperti tjap nona, tjap bendera, dan lain-lain. SKM, memang sangat digemari. Bukan saja lantaran harganya relative lebih murah ketimbang susu bubuk (apalagi bila dibandingkan dengan merek-merek tertentu), melainkan juga karena ada kata-kata “susu” di tiap kemasan (dan juga iklannya).

Terhadap anak sendiri saya juga lebih sering memberikan SKM ketimbang susu bubuk. Memberi susu bubuk (apalagi dengan merek tertentu seperti pediasure atau Sustagen, misalnya) kepada anak balita, hanya sesekali saya lakukan. Jika kebetulan ada rezeki lebih. Karena harganya berkali lipat dari harga SKM. Yang penting, bagi kami, anak bisa minum susu agar kebutuhan gizinya terpenuhi.

Namun, alangkah terkejutnya saya ketika awal Juli 2018 BPOM secara resmi menyatakan bahwa SKM (Susu Kental Manis) tak mengandung susu. Dan sejak itu pula kata “susu” hilang dari label mereknya. Di kemasan hanya tertulis “Kental Manis”. (entah apa yang dimaksud dengan kata ini, karena bagi saya yang awam masalah ini bingung juga dengan istilah “kental manis” tersebut) tak boleh ada embel-embel kata “susu”. Dan masyarakat diam, tak pernah ada yang mempertanyakan kenapa tiba-tiba kata “susu” hilang begitu saja dari kemasannya.

Dari uraian di atas, ternyata selama ini (hampir setengah abad) masyarakat percaya dan yakin (termasuk saya) bahwa SKM mengandung susu. Apakah ini tak bisa disebut dengan “kebohongan publik”. Jika cuma satu dua tahun “kebohongan’ ini dilakukan. Boleh jadi ini merupakan kelemahan manusia. Tetapi, setengah abad bukan rentang waktu yang sebentar untuk sekedar mengatakan “kekeliruan” yang tak disengaja. Bukankah banyak yang ahli di bidang ini dan punya kewenangan menyampaikan kebenaran. Sebab masyarakat tidak mungkin akan melakukan penelitian sendiri terhadap sesuatu yang beredar dan dikonsumsi. Bukan cuma karena ini merupakan hal yang mustahil, juga tak serta merta orang kebanyakan punya pengetahuan terhadap hal ini.

***.

Ketika “flu burung” dianggap wabah yang berbahaya dan mematikan. Untuk memutus mata rantai penyebaran virus H5N1 akhirnya ada aturan – dan dilaksanakan – membasmi unggas secara besar-besaran. Banyak peternak tradisional dirugikan karena tak sedikit unggas mereka yang dibantai (dibakar hidup-hidup) tanpa mendapat penggantian atas kerugian yang mereka alami. Padahal, saat ibu Siti Fadilah Supari (menkes saat itu) tidak menyatakan demikian. Lalu apa akibat yang harus ditanggung perempuan itu karena tak sepakat dengan who? Tak usah kita bahas di sini, semua kita sudah tahu. Dan, tulisan ini memang tak hendak membicarakan ‘nasib’ beliau.

Nasib “serupa tapi tak sama” juga dialami oleh menkes Terawan Agus Putranto,setelah beliau mengatakan bahwa bahwa flu biasa lebih berbahaya daripada covid-19, dengan menyatakan bahwa flu biasa memiliki jumlah kematian lebih tinggi dari kovid-19. Bahkan sempat menyalahkan pembeli masker. Menurutnya percuma yang sehat pakai masker. Beliau dikritik . Dianggap “anti-sains.” Dan dianggap arogan dengan pernyataannya.
Tetapi, “The show must go on” peraturan penggunaan masker bagi masyarakat diberlakukan.

Diadakan razia masker. Yang tak pakai masker mendapat sanksi (bisa denda berupa uang atau sanksi sosial – menyapu jalanan). Mungkin karena masyarakat lebih banyak yang memilih sanksi sosial, razia masker pun mengendur. Tak lagi ketat. Padahal, sebelumnya hampir setiap jalanan ada saja razia ini.

Untuk tetap meyakinkan masyarakat tentang bahayanya covid ini, masyarakat disuruh untuk rajin cuci tangan, juga pakai handsanitizer. Seolah-olah masyarakat kita kurang kesadaran akan kebersihan. Lalu dipasanglah tempat air (ada yang menggunakan gallon, ember plastic, dan lain-lain) di tiap gang (termasuk di dalam kompleks perumahan). Supaya masyarakat mencuci tangan sebelum masuk rumah. Padahal, kesadaran masyarakat kita akan kebersihan sudah ada sejak dulu. Ketika orang belum menggunakan pompa air, hampir di depan tiap rumah ada padasan yang berisi air.

Nah, kalau sekarang setiap rumah sudah tak ada padasan. Tetapi, di depan rumah selalu tersedia kran. Kran air ini akan dimanfaatkan untuk cuci tangan (bahkan cuci muka) sebelum masuk rumah. Ini artinya apa? Bahwa sadar akan kebersihan dalam masyarakat kita sudah ada. Lalu, dengan merebaknya berita covid dan ada anjuran (?) untuk memasang tempat air di jalan seolah-olah masyarakat tak mengerti arti pentingnya kebersihan untuk menjaga Kesehatan. Anehnya, masyarakat mau saja mengikuti aturan ini. Mungkin karena adanya himbauan (?) tertulis yang ditandatangani oleh ketua RW. Dengan banyaknya tempat air yang ada di mana-mana. Bahkan di depan minimarket atau toko – juga di depan pintu gerbang tempat ibadah. Ini sungguh aneh.

Ternyata begitu mudahnya masyarakat ‘tersihir’ oleh aturan seperti ini. tak mampu lagi berpikir jernih. Lha wong di depan tiap rumah ada kran air. Malah cuci tangan dari ember yang baru belakangan dipasang. Padahal, tanpa sadar, ember yang berisi air itu punya potensi untuk menjadi sarang nyamuk demam berdarah.

Agar terkesan peduli kepada kesehatan (masyarakat), maka ada aturan lagi. vaksinasi. Menjadi pertanyaan sekarang: betulkah ia untuk kesehatan atau kepentingan lain? Untuk masuk mal atau naik kendaraan umum, misalnya. Padahal tanpa aturan seperti ini pun, orang yang merasa tidak sehat tidak akan pernah pergi. Tidak akan pernah keluar rumah. Apalagi sekedar jalan-jalan ke mall.
Sempat muncul pernyataan dokter Louis Owin yang memberi pernyataan bahwa kematian yang terjadi bukan karena Covid, melainkan interaksi antarobat. Namun, ia meminta maaf (?) karena pernyataan itu telah membuat kegaduhan. Pernah juga ada yang dianggap membuat keonaran soal korona ini, yakni seorang seniman yang siap mencium pasien covid 19. Akibatnya Taufik Monyong – lelaki yang bersedia mencium orang yang suspect Covid 19 – harus berurusan dengan kepolisian. Alasannya, lagi-lagi (dianggap) bikin kegaduhan. Kok begitu mudahnya seseorang dianggap bikin kegaduhan. Ironisnya, persoalan kopat kapit ini kok dibuat seperti kran air, bisa deras airnya jika dibuka krannya. Bisa dibuat kecil, dibuka sedikit. Ada kalanya ditutup – bila ada kepentingan tertentu.

Saya hanya bisa bertanya, (karena tak mungkin bisa berbuat sesuatu) kapan kopat-kapit ini akan berakhir? Apakah ia akan seperti ‘label’ Susu Kental Manis yang setelah hampir setengah abad baru dikatakan tak mengandung susu? Semoga tak ada yang menyalahtafsirkan pertanyaan saya. Itu saja!

*Humam S. Chudori adalah seorang sastrawan