Beranda Views Inspirasi Syahril Karim, Penyelamat Hutan Mangrove Pulau Pahawang

Syahril Karim, Penyelamat Hutan Mangrove Pulau Pahawang

479
BERBAGI
Oyos Saroso H.N|Teraslampungcom.
Syafril Karim (Foto: Oyos Saroso HN)

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Itulah yang dipahami dan dipraktekkan Syahril Karim, 67, warga Pulau Pahawang, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran. Pengalaman buruk masa lalu yang menimpa ribuan penduduk di pulau terpencil itu menggugah semangat Syahril Karim, mantan kepala desa, untuk mengajak warga Desa Pulau Pahawang menyelamatkan hutan mangrove yang rusak parah.

Pada tahun 1980  pernah terjadi bencana besar di Desa Pulau Pahawang berupa angin topan dan banjir yang menggenangi seluruh desa. Luapan air laut langsung masuk ke perkampungan karena hutan mangrove yang menjadi “sabuk hijau” dan menjadi pelindung desa sudah habis dibabati untuk dijadikan tambak.

Semua rumah terendam banjir yang disebabkan air laut pasang. Warga desa terpaksa mengungsi ke atas bukit. Setelah banjir surut, berbagai penyakit menyerang warga desa. Para tetua desa meyakini bencana itu terjadi karena Mpok Awang, yaitu leluhur pendiri desa mereka, marah karena mangrove habis ditebang.

“Itulah banjir terbesar yang kami alami. Semua air laut seolah masuk ke kampung. Beberapa hari kemudian air surut. Penduduk pun diserang berbagai penyakit, terutama gatal-gatal, diare, dan infeksi saluranpernafasan,” kata ayah bagi tiga anak itu.

Pada tahun 1979 hutan mangrove seluas 141 hektare di pantaiPulau Pahawang  memang habis dibabat pendatang untuk dijadikan tambak udang. Sebagai kepala desa, Syahril Karim merasa paling bertanggung jawab untuk mengembalikan hutan mangrove. Langkah pertama yang dilakukan Syahril ketika itu adalah mengumpulkan warga dan mengajak mereka mencari solusi mengatasi luapan air laut.

“Pertama kali yang saya lakukan adalah meyakinkan semua warga desa bahwa hutan mangrove merupakan bagian terpenting dari hidup kami. Membiarkan hutan mangrove dibabati orang berarti kami membiarkan kami binasasecara pelan-pelan. Untuk terhindar dari bencana yang lebih besar, akhirnya semua warga desa sepakat untuk  menanam kembali pohon mangrove di sekeliling desa. Kami mulai dari nol kembali,” kata Syahril Karim.

Syahril Karim mengaku tidak mudah untuk mengubah sikap hidup warga desa yang semula apatis menjadi optimis.

“Namun, saya terus berusaha keras dan akhirnya secara perlahan penduduk desa bisa diyakinkan bahwa menyelamatkan hutan mangrove merupakan cara terbaik dan termudah untuk menghindari bencana. Menyelamatkan hutan mangrove juga merupakan upaya semua warga desa untuk terhindar dari kutukan leluhur,” ujar Karim.

Sebagian warga Pulau Pahawang meyakini bahwa bencana yang menimpa desa mereka pada awal decade 1980-an merupakan kutukan dari Mpok Awang, yaitu leluhur penduduk Pulau Pahawang yang hidup ratusan tahun lalu.

Mpok Awang, seorang perempuan asli Betawi, diyakini warga Desa Pulau Pahawangsebagai orang pertama yang tinggal di pulau terpencil tersebut. Angin topan dan banjir yang pernah menimpa desa tersebut diyakini sebagian penduduk desa disebabkan Mpok Awang marah karena hutan mangrove yang mengitari Desa Pulau Pahawang dirusak.

Kerja keras Syahril Karim akhirnya mulai ringan ketika datang sekelompok pemuda pencinta lingkungan yang tergabung dalam Mitra Bentala pada 1997. NGO lokal yang concern pada masalah masyarakat pesisir itu tidak hanya membantu Syahril menanam mangrove, tetapi mereka akhirnya menjadi andalan warga desa. Bersama Mitra Bentala itulah Syahril Karim juga mengajari warga desanya untuk melakukan pemetaan partisipatif dan pembudidayakan ikan hias yang ramah lingkungan.

“Para aktivis NGO itu kan punya ilmu. Kami tidak sekadar diajari menanam kembali hutan mangrove, tetapi juga diajari belajar  mendayagunakan potensi yang kami miliki. Salah satunya adalah dengan menciptakan kader pencinta lingkungan lewat pendidikan nonformal dan menambah keterampilan untuk menambah penghasilan. Kalau penduduk sejahtera mereka tidak akan mudah dirayu pengusaha tambak untuk membabati pohon mangrove,” kata Syahril Karim.

Kini, usaha keras Syahril tidak sia-sia. Setidaknya saat ini Desa Pulau Pahawang sudah memiliki Peraturan Desa (Persdes) tentan Penyelamatan Hutan Mangrove. Perdes itu mengatur bagaimana caranya warga desa berpartisipasi menyelamatkan hutan mangrove yang menjadi sabuk hijau bagi desa mereka. Juga berisi tentang sanksi bagi warga desa atau pendatang yang merusak pohon mangrove.

“Meskipun hanya menebang satu pohon mangrove, itu ada hukumannya. Hukumannya tidak terlalu berat. Misalnya hanya menanam kembali puluhan pohon mangrove. Yang terpenting pelaku perusakan pohon mangrove sudah diberi sanksi sosial,” ujarnya.

Saat ini masyarakat Pulau Pahawang memiliki sekitar 30 hektare zona inti hutan mangrove. Sistem zonasi ini untuk memetakan mana kawasan hutan mangrove yang bisa dimanfaatkan dan kawasan mana yang dilarang untuk dimanfaatkan kecuali untuk perlindungan. Tingkat ketebalan hutan mangrove di Pulau Pahawang pun lumayan baik, yaitu bervariasi mulai dari 4 meter hingga 10 meter dari bibir pantai.

“Tahun 2010 kami sedang merintis untuk memanfaatkan hutan  mangrove sebagai kawasan wisata penelitian dengan model pengelolaan sepenuhnya oleh masyarakat, termasuk hasil yang didapat nanti. Intinya, kami ingin ‘menjual’ ecowisata dengan hutan mangrove dan biota laut yang masih lestari sebagai andalan,” Syahril Karim.

Meskipun semua warga desa bertanggung jawab memelihara hutan mangrove, dalam praktek sehari-hari tugas menjaga  dan menyelamatkan hutan mangrove dilakukan oleh lembaga yang disebut Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM) di bawah supervisi langsung Mitra Bentala. Para pengurus lembaga ini diberi pemahaman tentang pengelolaan sampai pengawasan hutan mangrove.

Di Pulau Pahawang terdapat setidaknya 22 jenis vegetasi mangrove. Antara lain adalah bakau besar (Rhizopora sp), bakau kecil, bakau tinggi, bogem, nipah dan waru laut.

Di kawasan vegetasi hutan mangrove di Pulau Pahawang kini juga banyak dijumpai hewan-hewan laut langka yang sudah jarang ditemukan di tempat lain. Misalnya berang-berang, mangrove jack, dan aneka ikan khas yang hanya ada di hutan mangrove.

Karena hutan mangrove dan terumbu karang di sekitar pantai Pulau Pahawang terlihat asri, Pemda Provinsi Lampung kini mulai merencanakan Pulau Pahawang sebagai salah satu objek wisata bahari. Pengembangannya rencananya akan dipadukan dengan program wisata bahari Pulau Pahawang-Pulau Legundi-Gunung Anak Kakatau.

Loading...