Beranda News Budaya “Syair Lampung Karam” akan Dipanggungkan Seniman Lampung dan Jabar

“Syair Lampung Karam” akan Dipanggungkan Seniman Lampung dan Jabar

220
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com 

Buku Syair Lampung Karam (dok Suryadi)

BANDARLAMPUNG — Para sastrawan dan pemusik Lampung akan memanggungkan Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh di Panggung Terbuka Pasar Seni Enggal, 25-26 Agustus 2014 mendatang. Pemanggungan itu menjadi bagian Festival Krakatau (FK) XXIV.

Acara yang dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung bekerja sama dengan Dewan Kesenian Lampung (DKL) itu akan menjadi salah satu primadona baru Festival Krakatau, mengingat Syair Lampung Karam selama ini nyaris dilupakan oleh warga Lampung. Panitia Festival Krakatau pun nyaris tidak pernah ‘menyentuh’ karya reportase sastra terpanjang ihwal meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 itu.

Perhelatan pada 25-26 Agustus 2014 malam akan menghadirkan beberapa sastrawan. Antara lain Syaiful Iraba Tanpaka, A.M. Zulqornain Ch,Iin Mutmainah, Alexander GB,  Yulizar Fadli, Fitri Yani, Hari Jayaningrat, Isbedy Stiawan ZS. Penyair Bandung kelahiran Kalianda (Lampung Selatan), Diro Aritonang, juga dijadwalkan turut membacakan syair bersejarah itu.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Herlina Warganegara, Senin (18/8), pembacaan Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh ini akan diiring musik oleh Komunitas Seribu Bulan.

“Para pemusiknya, di antaranya Wayan Mocoh Sumerta, Ipung Purwono, Ponco Pujiraharjo, Endro, dan Rizky,” katanya.

Menurut Herlina, Syair Lampung Karam ibarat sebuah mutiara yang pernah hilang. Selain bernilai sastra, kata Herlina, syair tersebut juga bernilai sejarah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi generasi muda.

Muhammad Saleh, pribumi Lampung, ditulis kira-kira enam tahun setelah Gunung Krakatau meleets pada 1883.  Ketika itu Muhammad Saleh hijrah ke Kampung Bengkulen, Singapura. Karya Syair Lampung Karam ini ditemukan pada 2005 di perpustakaan Universitas di Leiden oleh Suryadi, dosen asal Sumatera Barat yang menjadi pengajar di Universitas Leiden.

Herlina mengaku tergugah untuk mengundang seniman Lampung dan Jawa Barat untuk membacakannya dan berkolaborasi dengan pemusik. “Pembacaan Syair Lampung Karam sudah kedua kali dalam Festival Krakatau. Semoga akan bersinambung pada tahun-tahun mendatang,” katanya.

Herlina menilai, syair yang ditulis Muhammad Saleh termasuk bagian sejarah penting Lampung. Syair itu juga sangat berharga untuk menjadi bahan  pelajaran berharga bagi generasi kini tentang bencana Krakatau.

“Mungkin anak-anak atau remaja sudah tidak mengenal apa itu Krakatau, Pulau Sebesi, Gunung Rajabasa, Kuala, dan lain-lain. Nama-nama tempat itu di syair ini,” ujarnya.

Loading...