Beranda Views Opini Syiah, Ahmadiyah, dan Gafatar

Syiah, Ahmadiyah, dan Gafatar

424
BERBAGI

Nusa Putra

Tempat tinggal para pengikut Gafatar diobrak-abrik sampai dibakar. Sementara itu para pengikutnya diancam dan diteror. Tidak berapa lama kemudian penganut Ahmadiyah diusir dari tempat tinggal yang sudah puluhan tahun didiami. Bahkan ikut mengusir pejabat tinggi yang seharusnya melindungi rakyat. Nasib mereka lebih buruk dari penghuni lokalisasi pelacuran Kalijodoh yang ditutup. Penghuni lokalisasi Kalijodo diberi kediaman baru di rumah susun yang kondisinya lebih baik daripada tempat tinggal lamanya.

Pernah terjadi, kediaman penganut Syiah dibakar habis sampai ada yang meninggal. Mereka terusir dari kampung halaman sampai sekarang. Hidup terlunta-lunta tanpa kepastian. Sadis benar, sejumlah besar orang diusir dan dibantai karena keyakinannya. Bukan karena berbuat jahat seperti korupsi yang dilakukan Menteri Agama Suryadharma Ali.

Sungguh sangat menjijikkan dan mengerikan. Sebab semua kekejaman, pengusiran dan pembantaian itu dilakukan mengatasnamakan agama. Entah bagian sebelah mana dari kitab suci yang membolehkan membatantai orang lain yang berbeda keyakinan. Nabi Muhammad Saw sebagai teladan tidak pernah lakukan itu. Pernah beliau menghukum orang Jahudi. Bukan karena keyakinan Jahudinya, tetapi karena mengingkari perjanjian.

Para pembantai yang meneriakkan kebesaran nama Tuhan saat melakukan pembantaian itu tampaknya dirasuki iblis meski meneriakkan nama Tuhan. Betapa tidak. Saat melakukan pembantaian yang sangat kejam dan sadis, mereka membantai perempuan, orang-orang sepuh dan anak-anak.

Gafatar, Ahmadiyah, dan Syiah dinyatakan sesat oleh para pembantai. Secara mendalam kita boleh mempertanyakan, siapa yang memberi hak pada mereka untuk menyatakan kelompok yang berbeda dengan mereka sesat dan menyesatkan? Bahkan sampai mengusir dan membantai?

Jika mereka muslim mereka harus kembali mencermati Al Quran. Di dalam Al Quran ditegaskan bahwa Allah adalah Kebenaran, Allah Sumber Kebenaran, Kebenaran itu dari Allah. Berdasarkan penegasan itu manusia, siapa pun dia, tidak pernah dan tidak akan pernah sampai pada kebenaran mutlak. Bahkan mungkin tidak pernah sampai pada kebenaran. Hanya sampai pada nyaris benar. Bagaimana pula prosedur dan pertanggunganjawabannya bila para pembantai itu merasa benar dan menyatakan orang lain salah serta sesat?

Soal menuduh orang lain sesat dan menyesatkan bukan masalah sederhana dan mudah. Ini masalah yang sangat kompleks dan pelik.

Jika kita teliti sejarah perkembangan Islam dalam lintasan panjang sejak zaman Nabi Muhammad Saw sampai sekarang, persoalan ini selalu memunculkan tingkai pangkai yang selalu dicoraki dengan pembantaian keji dan sangat kejam.

Saat Nabi Muhammad Saw wafat semua persoalan teologis, dan rumusan prinsip-prinsip Islam telah tuntas. Tak ada masalah kenabian karena telah sangat jelas bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir. Gejolak mulai muncul saat memutuskan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan Nabi dalam urusan-urusan keumatan.
Riak-riak masalah kepemimpinan yang bersifat politis terus meluas dan berubah menjadi gelombang yang membesar. Umat yang telah bersatu dalam saling pengertian dan perdamaian, kembali ke semangat jahiliyah sebelum kehadiran Rasullullah. Mereka mulai lagi terkotak-kota dalam semangat kesukuan.

Tentu saja ini peristiwa sangat tragis. Betapa tidak para sahabat yang sangat terpercaya dan dijamin masuk surga bertengkar dan jenazah Nabi sempat dibiarkan, tidak terurus. Mereka meributkan siapa yang berhak memimpin sepeninggal Nabi.

Benih-benih perpecahan dan konflik politik mulai merekah pada saat itu. Bukan hal mengejutkan bila terbukti konflik ini terus berlanjut sampai-sampai tiga dari empat sahabat Nabi yang terpilih sebagai pemimpin yaitu Umar, Ustman, dan Ali terbunuh karena gejolak politik kekuasaan.

Rupanya pertentangan politik itu telah memicu terjadinya upaya saling serang menggunakan ajaran agama. Saat inilah muncul perdebatan yang dilanjutkan dengan perang. Perdebatan itu terkait dengan legalitas kekuasaan dikaitkan dengan siapa dan kelompok mana yang
merupakan pengikut dan pelanjut Islam dan kelompok mana yang dituduh sesat menyesatkan.

Ini fakta sejarah yang tragis. Pertentangan politik demi kekuasaan dan mengabaikan persaudaran dan persatuan Islam. Tragis karena pihak-pihak yang berperang adalah sesama kaum muslimin yang dulu berada pada lingkaran dalam Nabi.

Dipicu persoalan yang sepenuhnya politis kemudian menggunakan agama untuk pembenaran tindakan sendiri dan menyalahkan pihak lawan. Saling tuduh siapa yang kafir dan sesat menjadi marak.

Mengapa bisa terjadi seperti ini? Akarnya adalah tradisi masyarakat Arab jahiliyah pra Islam. Arab jahiliyah pra Islam memang sering berperang antar suku, bahkan untuk memperebutkan sumber air dan wanita. Itulah fakta Arab jahiliyah pra Islam.

Tampaknya, setelah Nabi wafat tradisi ini bangkit kembali, mengalami revitalisasi dalam konteks Islam. Itulah sebabnya konflik dalam tubuh umat Islam berlangsung sangat lama. Dalam konflik inilah Ali, khalifah keempat tewas dibantai oleh saudara sesama muslim.

Berbagai konflik sejak wafatnya Nabi, dan terus terjadi dalam masa yang sangat panjang, menegaskan bahwa bangsa-bangsa Arab itu memang suka berkonflik, sangat sulit bersatu. Hanya dipersatukan oleh Islam terutama pada zaman Nabi dan setelah itu kembali ke selera asal.

Dalam tingkai pangkai, gejolak dan konflik politik yang parah itulah Syiah lahir dan berkembang. Bila terdapat sejumlah perbedaan antara kaum Syiah dan Sunni, pada mulanya berasal dari konflik politik terkait politik kekuasaan dengan fokus kepemimpinan yang berkembang menjadi konflik ajaran. Saling tuduh sebagai penerus kebenaran dan menuduh lawan sesat, pastilah menjadi keniscayaan.

Kapan dan dimana pun di dunia ini, orang-orang yang hatinya busuk dan otaknya terdiri dari lumpur hitam dan kotoran hewan, suka memoleskan agama pada beragam konflik yang sejatinya tidak berakar dan berhubungan dengan agama. Akibatnya orang-orang yang daya fikirnya cuma sepanjang rambut dan keyakinan agamanya dangkal akan memanfaatkan polesan agama itu untuk melakukan tindakan keji.

Mengusir, dan membantai orang dengan biadab. Memang cara paling cepat membuat konflik marak dan tak terkendali adalah memberinya polesan dan bumbu agama. Karena agama merupakan keyakinan yang tertanam dalam hati. Penghayatan agama yang dibungkus emosi negatif, bukan nalar sehat, memang seperti laser yang bisa menghancurkan apa saja.

Lihatlah perang yang oleh umat Islam disebut sebagai perang sabil dan oleh umat Kristen dikenal sebagai perang salib, apakah sungguh berakar pada agama? Sejarah Eropa mencatat bahwa saat itu Eropa terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang saling serang. Tidak ada kekuatan apapun yang bisa memersatukan mereka. Ketika ekspansi ke wilayah yang luas di Timur Tengah membutuhkan pasukan yang kuat di bawalah bendera agama sebagai kekuatan pengikat. Paus Urbanus asal Perancis memang meracik ayat-ayat dari Injil untuk membenarkannya.

Jika dikaji lebih dalam dan teliti apa yang sesungguhnya terjadi di Eropa dan keterlibatan Urbanus dalam gejolak di gereja, akan terbukti perang ini lebih tepat disebut sebagai konflik yang dipolesi dan dibumbui ajaran agama. Bukan konflik agama. Sulit membantah bahwa dorongan ekonomi dan kekuasaan tidak kalah dominan sebenarnya.

Sementara itu di wilayah Timur Tengah tidak ada kekuatan yang bisa menyatukan kecuali Islam. Benturan itu kemudian tercatat sebagai perang agama. Berlangsung lama dengan kekejaman dan kebiadaban yang melampaui batas.

Ada kejadian yang lebih tua dari itu yang juga memanfaatkan agama untuk menghancurkan orang yaitu pengadilan Socrates. Socrates adalah lelaki tua yang sangat baik dan kritis. Ia mengajari anak-anak muda untuk tidak mudah menerima apapun. Ia menyerukan dan mempraktikkan pentingnya bertanya dan mempertanyakan. Ia mampu mendorong generasi muda menjadi lebih kritis.

Socrates suka mempertanyakan dan mempersoalkan kekuasaan dan yang sedang berkuasa. Ia bertanya apakah pemerintah yang tidak mengurusi rakyat dengan sungguh-sungguh masih pantas berkuasa? Apakah pemerintahan yang tidak berusaha keras menegakkan keadilan masih memiliki legitimasi untuk memerintah? Anak-anak muda dan sebagian rakyat mulai dengan cermat mengikuti dan mulai meyakini apa yang dikatakan Socrates. Para penguasa merasa sangat terganggu. Karena merasa makin terganggu dengan kekritisan Socrates yang semakin populer di mata rakyat, pemerintah mengadili Socrates dengan tuduhan menghina Dewa dan menyesatkan generasi muda.

Hanya dengan cara inilah penguasa bisa menghancurkan Socrates. Kapan dan dimana pun, agama selalu digunakan untuk menghancurkan oleh orang-orang yang busuk nuraninya dan otaknya berisi air comberan kehidupan. Orang-orang yang dadanya disesaki kedengkian dan dendam.

Seringkali konflik kepentingan, politik, ekonomi dibumbui agama. Dengan cara itu lawan bisa dihabisi sampai tuntas. Kemanusiaan dikhianati dan dihancurkan. Jangan pernah lupa, kemunculan Syiah dan Ahmadiyah lebih didorong oleh persoalan kepentingan terkait politik kekuasaan dengan fokus kepemimpinan. Agama digunakan sebagai alasan untuk saling serang dan pembenaran bagi kepentingan sendiri. Gafatar tampaknya tak jauh berbeda.
Oleh karena itu, jangan pernah meluluhlantakkan manusia dan menghancurkan kemanusiaan di atas beragam kepentingan mengatasnamakan agama.

Bila penyerang dan pembantai Syiah, Ahmadiyah, dan Gafatar yakin ketiganya sesat menyesatkan, dari mana penyerang dan pembantai itu mendapat amanah dan kuasa untuk menghabisi? Bukankah Tuhan yang merupakan Kebenaran dan Sumber Kebenaran pernah tegaskan, kebencianmu jangan sampai membuatmu kehilangan rasa keadilan, jangan sampai membuatmu berbuat tidak adil.

KEBERAGAMAN DAN KEBERBEDAAN MEMANG BISA MEMBUAT SEGELINTIR ORANG KEHILANGAN KESABARAN, TETAPI JANGAN SAMPAI KEHILANGAN KEMAMPUAN UNTUK KENDALIKAN DIRI.

* Dr. Nusa Putra, M.P.d, dosen UNJ