Beranda Views Kopi Pagi Syukuran untuk Prof. Wahyu Sasongko

Syukuran untuk Prof. Wahyu Sasongko

1291
BERBAGI
Dari kanan ke kiri: Wahyu Sasongko, Ginta Wirsasenjaya, Watoni Noerdin, Jauhari Zailani, Heri Wardoyo, Dedy Mawardi.

Oyos Saroso H.N.

Sabtu siang hingga sore (5 September 2020) ruang pertemuan di kompleks rumah Asrian Hendicaya yang asri di Way Hui berkumpul para mantan aktivis dan wartawan tua. Selain Asrian, ada Jauhari Zailani, Wahyu Sasongko, Dedy Mawardi, Heri Wardoyo, S.N. Laila, Ginta Wiryasenjaya, Prof. Sunarto, Ferdi Gunsan, Watoni Noerdin, Budisantoso Budiman,  Dandy Ibrahim, dan Isbedy Stiawan ZS.  Dari kalangan milenial ada Dedi Dero Rahman, Rifky Indrawan, Muhammad Ilyas, Eka Tiara Chandranada, dan juragan kopi enak nan “Waw”, Ismail Komar.

Mereka bertemu dengan menerapkan protokol kesehatan: tamu dipindai dengan alat pemindai suhu tubuh, memakai masker, dan ada hand sanitizer untuk mencuci tangan. Pertemuan tidak bisa ditunda sampai pandemi Covid-19 berakhir karena sebuah ungkapan syukur bersama sekaligus melepas rindu memang tak bisa disiasati lewat teknologi internet (daring).

Pertemuan dihelat sebagai ungkapan syukur penganugerahan gelar profesor untuk Wahyu Sasongko. Meskipun Mas Wahyu sebenarnya tidak mau gelar profesor yang diraihnya dirayakan, kami tetap merayakannya. Merayakan bukan dengan upacara atau inagurasi dan pesta, tetapi dengan melakukan refleksi bersama. Raihan gelar profesor untuk dosen Fakultas Hukum Unila Dr. Wahyu Sasongko yang sebenarnya sudah terlambat itu menurut kami perlu disyukuri dan dirayakan karena gelar profesor bagi Mas Wahyu juga menjadi kebanggaan kami.

Peserta pertemuan sebenarnya tidak menggambarkan para aktivis dan wartawan era 1990-an. Sebab, acara mendadak itu dirancang hanya lewat bincang-bincang kecil di grup Whatsapp Pembaca Teras Lampung, kemudian disebarluaskan melalui Facebook. Kebetulan, tidak semua aktivis dan wartawan tempo dulu menjadi anggota grup WA Teras Lampung. Tidak ada undangan khusus. Kawan-kawan yang merasa pernah mengenal Mas Wahyu Sasongko dipersilakan hadir.

Prof. Dr. Wahyu Sasongko

Mas Wahyu bukan sekadar dosen dan menjadi milik Unila, tetapi selama puluhan tahun menjadi kawan seiring di gerakan prodemokrasi, penegakan HAM, dan gerakan antikorupsi di Lampung. Ia bukan hanya kawan, tetapi juga lawan berdebat sekaligus sumber inspirasi dan pencerah di saat sebuah isu menemukan jalan buntu untuk memecahkannya. Karena banyak bergaul dengan para aktivis, ia lalai mengurus jenjang golongan atau kepangkatan di dunia akademik. Ia “menggelandang”, menjadi guru sekaligus kawan untuk para aktivis LBH Bandarlampung, Walhi Lampung, AJI Bandarlampung, Lembaga Perempuan dan Anak Damar, Komite Anti Korupsi (KoAk) Lampung, Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Indonesia, Pussbik, dan lain-lain.

Maka, pertemuan hampir enam jam dalam suasana santai itu pun menjadi penuh makna. Bukan karena romantisme masa lalu tertuntaskan, tetapi semua kawan masih bisa bersyukur karena kawan-kawan lama masih sehat dengan jejak kiprahnya masing-masing.

Pertemuan menjadi lebih bermakna karena Mas Wahyu menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang isu mutakhir di Indonesia: dari soal politik-hukum-ekonomi-sosial budaya pascareformasi hingga masalah Omnibus Law dan vaksin Covid-19.

Tentu saja, saling “kongek” di sela pertemuan sering terjadi, diiringi derai suara tawa bersama. Itu karena si raja “kongek” — Heri Wardoyo — kebetulan kami daulat menjadi pemandu diskusi.

Pemikiran yang disampaikan Mas Wahyu dengan gaya khasnya — runtut dan sistematis — praktis menjadi seperti kuliah 4 satuan kredit semester (SKS). Mas Wahyu mendedahkan dengan jernih bagaimana karut marutnya hukum di Indonesia, lemahnya Indonesia untuk mendapatkan hak paten vaksin Covid-19 (dan dampaknya), amburadulnya rancangan Omnibus Law, dan masa depan Indonesia di tangan kapitalisme yang sudah menggurita dan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.

Hikmah lain dari pertemuan langka ini: kami sepakat akan ada pertemuan rutin dengan mengusung tema berbeda-beda. Agar pertemuan menjadi lebih produktif dan isu yang diusung diketahui banyak orang, para wartawan yang memang perlu informasi akan diundang. Konsepnya akan dibuat seperti kami dulu merancang rubrik Dialog Demokrasi di Harian Lampung Post dan Harian Trans Sumatera pada tahun 1997 – 2002. Karena kini sudah era milenium, perangkat media penyebaran medianya akan diperluas ke podcast, kanal Youtube, dll.

Dengan tawaran konsep itu, intisari pertemuan atau diskusi bukan menjadi monopoli Teraslampung.com untuk penyebarluasannya. Semua wartawan yang hadir bisa menulis apa pun dari diskusi tersebut dengan sudut pandang masing-masing.

Seperti biasa, ruang komunikasi dan diskusi kami tetap dengan gaya lama: egaliter, menghargai keberagaman, dan tidak terikat afiliasi politik. Peserta boleh berasal dari kelompok atau memiliki kecenderungan politik apa pun, tetapi jika masuk di ruang diskusi kami harus menanggalkan egonya dan dilarang baperan. Tujuannya: agar tetap merdeka, persahabatan langgeng, dan bisa tertawa dengan nada dasar yang sama.

Oh ya, makna persahabatan bagi kami didedahkan penyair Isbedy Stiawan ZS melalui puisi bertajuk “Kangenkangen” yang dibacakan Paus Sastra Lampung itu pada akhir pertemuan:

Kangenkangen…

mari kangenkangen
bertemu lantaran rindu
di luar pikuk politik
dan cuap para politisi

jauhkan kalengkalengan
agar bahagia pertemuan
di bawah langit rembulan
atau cuaca temaram
maupun rinai hujan

kita bercakap apa adanya
seadaadanya, tanpa dinding
dan ruang bisa merekam
sebab kita bukan politisi
bicara tahta dan mahkota
antara dukungan di pilkada

buat lingkaran
nikmati panganan
sekadar teman
dalam percakapan

bukan persiapan
mencari menang
sudutkan lawan
ke paling kelam

apakah kita kangen?

siapkan kerinduan
seorang musafir
atau pun si fakir
yang haus pelukan
dan percakapan
paling dalam

bukan kerinduan
para perindu jabatan
atau pemburu kesempatan
di jalan politik

: hari ini kubilang
bersamamu berjuang
esok aku membangkang
karena ada yang lebih gemilang

ayo, kangenkangenan
bercakap di bawah langit malam
tanpa kubilang aku di sudut ini
dan kau dalam jejak lainnya

sebab kita bukan kalengkalengan
hari ini bunyinya genderang
esok terdengar amat sumbang