Beranda News Lampung Tak Mau Dengarkan Keluhan, Nelayan Lampung Kecewa dengan Menteri KKP

Tak Mau Dengarkan Keluhan, Nelayan Lampung Kecewa dengan Menteri KKP

304
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Nelayan Lampung kecewa dengan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo yang tidak mau mendengar keluhan-keluhan nelayan tradisional.

“Kekecewaan khususnya nelayan dari Lampung terkait dengan agenda acara yang tidak sesuai dengan harapan mayoritas nelayan. Nelayan berharap keluhan-keluhan para nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan serta harapannya kepada menteri secara langsung tidak terjadi,” jelas Direktur Mitra Bentala Mashabi, Rabu 4 Maret 2020.

Menurut Mashabi, pertemuan dengan Menteri Edhy Prabowo itu terjadi pada tanggal 2 sampai 3 Maret kemarin. Agendanya adalah membahas tentang perikanan yang berkelanjutan seperti penangkapan rajungan dan ikan.

“Sayangnya pada pertemuan itu tidak menyinggung persoalan jenis alat tagkap yang dilarang , yang merusak ekositem pesisir seperti alat tangkap trawl, cantrang, pengeboman, dan putasium. Sedangkan di Lampung terutama di Tulangbawang, Lampung Timur, dan Lampung Tengah marak praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan tentunya berpengaruh terhadap perikanan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Pertemuan nelayan dengan berbagai stakeholder di bidang perikanan itu diikuti lebih dari 500 orang peserta. Selain nelayan dari Lampung hadir juga dari Pulau Jawa, nelayan dari Povinsi Sulawesi dan nelayan dari Nusa Tenggara Barat.

Provinsi Lampung merupakan salah satu andalan  Indonesia untuk produksi perikanan rajungan.

“Rajungan-rajungan tersebut berasal dari hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Tulangbawang, Lampung Timur, dan Lampung Tengah,” katanya.

Dia meminta Pemerintah Provinsi Lampung maupun Pemerintah Kabupaten di Lampung merespon dengan cepat keluhan dan keinginan para nelayan terkait dengan perikanan yang berkelanjutan.

“Masalahnya masih banyak praktik penangkapan ikan dan rajungan yang tidak ramah lingkungan di Lampung dan ini harus menjadi perhatian serius agar Lampung yang menjadi andalan secara nasional untuk hasil tangkapan rajungan terbesar tetap terjaga,” ungkapnya.

Sementara itu, nelayan dari Kuala Teladas, Lukman meminta pemerintah harus tegas dengan masih maraknya penangkapan ikan dengan menggunakan trawl di wilayahnya.

“Alat tangkap ini akan membunuh kehidupan nelayan tradisional semua jenis biota laut yang kecil ikut terangkat dan terumbu karang tempat hidup biota laut juga rusak,” katanya.

“Makin hari hasil tangkapan kami sebagai nelayan terus menurun, dulu sekitar tahun 1994-1996 kami merasakan sering yang namanya panen raya, tetapi saat ini tidak dijumpai lagi akibat maraknya penagkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ujar Lukman.

 

Loading...