Beranda Kolom Kopi Pagi Taktik Tik-Tok PAN Menjelang Pilgub Lampung 2018

Taktik Tik-Tok PAN Menjelang Pilgub Lampung 2018

12731
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

TANPA angin dan hujan tiba-tiba Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Lampung Bachtiar Basri digeser dari kursi jabatannya. Adik kandung Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan, Zainudin Hasan, kemudian dipilih menggantikan Bakhtiar Basri. Sempat terjadi riak keras di kalangan pengurus PAN, tetapi kemudian reda. Ujungnya, Bakhtiar tidak dipermalukan dengan diberi jabatan Wakil Ketua DPW PAN.

Tidak hanya PAN yang mengalami riak-riak menjelang pemilihan Gubernur Lampung 2018. Partai Golkar dan PDIP juga mengalami riak-riak yang tak kalah besar. Namun, yang terjadi di PAN lebih menarik dicermati karena di sana ada peran politikus yang memiliki hubungan darah: Zulkifli Hasan dan Zainudin Hasan. Menjadi lebih menarik lagi ketika tiba-tiba –entah sekadar koinsidensi atau memang terkait urusan politik — Helmi Hasan hadir di Lampung.

Helmi Hasan adalah adik kandung Zulkifli Hasan dan Zainudin Hasan. Oleh sebagian kalangan ia dinilai sukses menjadi Walikota Bengkulu. Sebuah media lokal mengabarkan Helmi Hasan baru saja mundur sebagai Ketua PAN Bengkulu. Mundurnya Helmi kemudian oleh media lokal dikaitkan dengan rencana maju sebagai bakal calon wakil Gubernur Lampung.

Ketika publik di Lampung masih bertanya-tanya ihwal Helmi yang tiba-tiba  menghiasi media lokal, pada Jumat (6/10/2017) Zulkifli Hasan sekali “mengayuh dayung dua-tiga pulau terlampaui”. Bahasa lainnya: sambil menyelam minum air. Hari itu ia datang ke Lampung untuk menuntaskan tiga pekerjaan sekaligus: menghadiri Dies Natalis ke-3 Itera, mendeklarasikan dukungan kepada Arinal Djunaidi sebagai bakal calon Gubernur Lampung pada Pilgub 2018, dan menyosialisasikan empat pilar kebangsaan.

Ketika Bakhtiar Basri dicopot dari jabatannya sebagai Ketua PAN Lampung tanpa Bakhtiar dan publik tahu apa alasannya, dari luar pagar saya melihat politik tanpa etika sedang dipertontonkan PAN. Namun, ketika Bakhtiar “dimuliakan” dengan diangkat sebagai Wakil Ketua DPP PAN penilaian seperti itu meluntur– meski tidak sampai 100 persen.

Penilaian dengan embel-embel “berpolitik tanpa etika” tidak benar-benar luntur karena saya melihat cara memuliakan Bakhtiar toh masih demi pertimbangan keuntungan bagi PAN. Yang penting Bahtiar tidak protes. Di sini saya melihat DPP PAN — terutama Zulkifli Hasan– memiliki pertimbangan jitu: jika Bakhtiar tidak ditempatkan pada posisinya yang tepat, diamnya Bakhtiar pun akan berbahaya bagi suara PAN terutama di wilayah tempat Bakhtiar punya pengaruh besar. Misalnya di Lampung Utara dan Tulangbawang Barat.

Artinya, cara-cara PAN menyelesaikan konflik menjelang Pilgub Lampung 2018 lumayan bersih. Marwah orang yang disingkirkan tidak menjadi turun, sedangkan PAN tetap dinilai publik sebagai partai bersih. Ini klop dengan pernyataan Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan di sejumlah media nasional beberapa waktu lalu. Beberapa kepala berita yang mengutip pernyataan Zulkifli Hasan antara lain: “Masyarakat Jangan Berutang pada Calon Kepala Daerah”, “Pilih Kepala Daerah Jangan karena Sembako”, “Pilihan Pilkada Jangan Diukur dari Uang”.

Hanya waktu dan tik-tok jam yang akan membuktikan pernyataan Zulkifli Hasan selaras dengan kenyataan atau tidak….

Loading...