Beranda Kolom Kopi Pagi Taktik Tipudaya Megalomania dan Upacara Tepuk Tangan

Taktik Tipudaya Megalomania dan Upacara Tepuk Tangan

524
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Rakyat Indonesia termasuk paling hobi bertepuk tangan. Kalau tidak percaya, lihatlah bagaimana para kepala daerah dan sang istri berlomba-lomba membuat acara dengan dana wah sekadar untuk memecahkan rekor Ani dan rekor Anu. Pejabat pun hobi merentang gelar akademik di depan atau di belakang namanya hanya untuk mendapatkan tepuk tangan.

Publik tidak pernah tahu kapan pejabat itu kuliah S2, S3 dan dengan cara gelar master dan doktor itu didapatkan. Kerap terjadi, gelar berderet itu hanya untuk menambah gagah daftar riwayat hidup. Sebab, dalam praktif sehari-hari laku sarjana plus plus tidak pernah diterapkan.

Tepuk tangan pun diupacarakan, diadakan khusus untuk menyanjung puja sang tokoh pujaan. Namun, tepuk tangan terkadang menjadi ekspresi kepalsuan. Lucunya, tepuk tangan justru sering diajarkan di sekolah. Lihatlah misalnya program sertifikasi guru yang lebih menekankan aspek syarat formal ketimbang bukti nyata kualitas mengajar. Atau pengangkatan kepala sekolah yang didasarkan pada unsur kedekatan atau kolusi dan nepotisme.

Karena ingin mendapatkan tepuk tangan atau sanjung puja, seseorang tak jarang harus menipu diri sendiri dan orang banyak. Megalomania pun berkecambah di sekitar kita.

Seorang megalomania tidak segan-segan mempercanggih cara menipu publik. Seorang badut bisa mengaku sebagai ahli ilmu kebal dan hipnotis. Seorang mahasiswa yang tidak punya prestasi bisa membuat sertifikat untuk dirinya sendiri guna menabalkan ia menjadi juara Anu dan juara Ani. Penemu Anu dan penemu Inu.

Itu pula yang kini kemarin dilakukan oleh Dwi Hartanto,anak muda yang disebut sebagai “ilmuwan Indonesia” dan sedang menempuh pendidikan S3 di Technishe Universiteit Delft, Negeri Belanda. Karena ingin memberikan tepuk tangan kepada Dwi Hartanto, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag dalam peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI memberikan penghargaan atas prestasinya sebagai pemenang di kompetisi riset internasional di bidang Space Craft and Technology.  Belakangan, baru diketahui bahwa prestasi itu tidak pernah ada.

Ruaarr bassah.

“Saya memanipulasi template cek hadiah yang kemudian saya isi dengan nama saya disertai nilai nominal EUR 15000, kemudian berfoto dengan cek tersebut. Foto tersebut saya publikasikan melalui akun media sosial saya dengan cerita klaim kemenangan saya,” ujar Dwi, seperti ditulis detik.com.

Setelah kedok Dwi terbongkar dan Dwi meminta maaf, KBRI Den Haag pun tergopoh-gopoh untuk mencabut penghargaan yang pernah diberikan.

Sebelumnya, Dwi Hartanto menjadi “hero” bagi Indonesia karena dikabarkan berprestasi membuat Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit) hingga memenangi Kompetisi Antar-Space Agency Luar Angkasa. Dikabarkan pula Dwi mengantongi paten di bidang di bidang spacecraft technology. Belakangan terbukti bahwa semuanya palsu belaku. Dwi melakukan pencanggihan kebohongan dengan tujuan mendapatkan tepuk tangan. Tentu saja, setelah tepuk tangan reda ia juga berharap bisa menangguk keuntungan lain.

Pada “musim pilkada” atau “musim pemilu” akan makin banyak megalomania bermunculan. Mereka yang biasa-biasa saja, prestasinya cuma ecek-ecek, nirkarya besar, tidak pernah memikirkan dan memperbaiki nasib rakyat — tiba-tiba mengaku sebagai tokoh paling merakyat, paling banyak memikirkan rakyat hingga 24 jam nonstop, paling alim sedunia, dan paling bisa membawa rakyat adil makmur sejahtera dunia sampai akhirat.

Para kepala darah dan politikus yang dicokok petugas lembaga antirasuah pastinya dulunya juga sangat sering mendapatkan tepuk tangan. Kampanye mereka saat pilkada dan pemilu, tentu disertai banyak tepuk tangam, Bukan cuma seribu orang yang pernah bertepuk tangan untuk mereka, tetapi hingga puluhan. Bahkan mungkin sampai ratusan ribu atau jutaan.

Ruaarr basah….

Loading...