Beranda Views Jejak Taman Purbakala Pugungraharjo yang Terlupakan

Taman Purbakala Pugungraharjo yang Terlupakan

2278
BERBAGI

Siti Nur’aeni/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Ratusan abad silam berdiri sebuah perkembangan pra sejarah dari Kerajaan Hindu dan Budha serta kerajaan Islam di sebuah Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Lokasi tersebut berjarak sekitar 45 kilometer dari Bandarlampung. Sepanjang jalan utama, pengendara akan menempuh jalan berlubang dan genangan air dibeberapa titik sehingga laju kecepatan kendaraan di bawah 40 kilometer/jam.

Di sanalah, ditemui bukti-bukti perkembangan zaman
pra sejarah. Berawal dari program nasional transmigrasi dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera, saat penduduk pendatang membuka lahan hutan belantara untuk bercocok tanam, warga menemukan sebuah patung yang akhirnya diketahui Arca
Bodhisatwa dan sebuah gundukan menyerupai bukit diketahui adalah sebuah punden berundak-undak.

Salah satu warga Pugung Raharjo, Zainab menceritakan, patung itu pertama kali ditemukan seorang transmigran bernama Ngadiran.

“Almarhum dan sejumlah transmigran lainnya hendak membuka hutan belantara yang dianggap anker oleh warga tapi dia malah menemukan patung,” kata Zainab yang merupakan seorang
transmigran dari Bali.

Warga ketika itu, menyerahkan temuan itu pada tokoh setempat lalu berinisiatif melaporkan kepada Pemerintah Pusat.
“Karena tidak ada kejelasan sampai beberapa tahun, akhirnya patung itu sempat dibiarkan di depan sekolahan terdekat,” ujarnya.

Selain patung, warga juga menemukan beberapa alat perabotan rumah tangga seperti pecahan piring dan sendok yang terbuat dari bebatuan.

Petugas Rumah Informasi Taman Purbakala, Pugung Raharjo, Syaiful menjelaskan, pada tahun 1961 dilakukan penelitian sebanyak tiga kali, dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa di Desa Pugung Raharjo, Lampung Timur  ada peninggalan
cagar budaya pada zaman pra sejarah dari Kerajaan Hindu dan Budha serta Kerajaan Islam.

Di atas lahan seluas 25 hektare, penelitian menemukan  bukti sejarah tak bergerak berupa 13 punden berundak 3 diantaranya punden indu. Selain itu ditemukan juga lokasi Batu Mayat, Kolam Megalitik dan benteng tanah sepanjang 1000 m2 dan 1.500 m2 serta 7 lokasi penemuan arca.

Benteng tanah diduga digunakan masyarakat pra sejarah untuk bersembunyi dari serangan binatang buas sedangkan punden berundak-undak merupaka tempat peribadatan dan kolam megalitik adalah tempat pemandian putri kerajaan.

“Kolam megalitik dari cerita turun-temurun, sumber air akar yang mengaliri kolam tersebut konon katanya berkhasiat membuat awet muda, bagi pengunjung membasuhkan wajarnya atau mereka yang mandi di sana,” kata dia.

Sejak saat itu, setiap warga yang menemukan benda-benda antik dihimbau segera menyerahkan pada aparat desa setempat. Kemudian barang antik itu dikumpulkan di Museum Taman Purbakala sekaligus menjadi rumah informasi bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.

Di museum itu, terdapat 91 benda-benda bersejarah, diantaranya arca, Prasasti Bungku, menhir, replika Prasasti Dalung, bebatuan yang bercap tumit kaki orang dewasa dan sejumlah perabot rumah tangga serta perhiasan putri raja.

“Beberapa prasasti ada yang ditemukan di perkampungan adat Lampung di Desa Jabung dan Bojong. Bahkan seperti di Desa Jabung sendiri ditemukan sebuah makam tua,” ujar dia.

Sedangkan Prasasti Dalung yang ditemukan di Desa Bojong adalah sebuah prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Islam yang berkembang di Lampung yang mana prasasti tersebut berisi tentang norma-norma sosial kemasyarakatan.

“Bukti-bukti peninggalan sejarah telah ditemukan di Lampung Timur, namun hingga kini para ahli arkeolog belum dapat mengungkap siapa raja yang pernah memimpin pada massa itu,” ujar Saiful.

Meskipun di sana terdapat peninggalan cagar budaya, namun lokasi itu kini kian sepi pengunjung. Padahal setiap wisatawan yang datang ke sana tidak pernah ditarik retribusi oleh petugas.

Maya (35), warga Pugung Raharjo, mengaku sudah belasan tahun tak lagi mengunjungi situs bersejarah itu. Padahal lokasi itu dulunya tempat ia menghabiskan massa kecilnya.

“Saya sudah lama sekali tidak ke sana, selain sepi lokasi itu juga rawan kriminalitas,” ujarnya.
Sedangkan Khairul (37) warga Bandarlampung yang dahulu pernah tinggal di Pugung Raharjo menceritakan semasa kecilnya ia kerap meraup keuntungan dari ramainya pengunjung Situs Purbakala di sana.

“Nenek saya dulu sering menyuruh saya berjualan nasi bungkus di sekitar Taman Purbakala, senangnya saya kala itu, bulak-balik nasi yang saya jajakan laris keras biarpun nenek hanya membayar jerih payah dengan sebungkus nasi,” ujar Khairul sambil tertawa mengenang massa kecilnya.

Hal senada disampaikan Nuraini (40) ia mengisahkan kejayaan warga Pugung Raharjo tahun 1990-an dengan banyaknya kegiatan turnamen yang digelar di sekitar Taman Purbakala di sana.

“Dulu saya merasakan betapa padatnya kegiatan dan ramainya pengunjung, tapi setelah puluhan tahun saya kembali lagi, objek wisata kebanggaan masyarakat Pugung kini senyap dan tak terawat,” tuturnya.

Cinta (22) mahasiswa Universitas Lampung (Unila) bersama sejumlah temannya mengaku tak menikmati mengunjungi lokasi itu.

“Awalnya penasaran makanya saya datang ke sana, tapi bagaimana mau menikmati keindahan situs itu tempatnya sepi dan warga yang kami temui di jalan kerap mengingatkan kami untuk berhati-hati rawan pembegalan,” tutur dia.

Sementara itu, Saiful petugas Rumah Informasi Taman Purbakala Lampung Timur menyebutkan ada 24 petugas yang menjaga dan membersihkan serta memelihara lokasi situs bersejarah itu. Pihaknya menyadari puluhan tahun terakhir pengunjung menurun.
“Dalam setahun mungkin hanya sekitar 200 pengunjung dari sekolah-sekolah dan 1 atau 2 wisatawan asing,” terangnya.

Pemerhati parawisata di Lampung Citra Persada membenarkan wisata pra sejarah di Lampung Timur pernah hidup di era 1990-an.

“Lampung Timur sebenarnya memiliki cerita sejarah yang sangat kuat dan layak untuk dijual pada wisatawan domestik dan manca negara,” kata dia.

Patung Budha di Situs Pugungrajarjo

 

Dahulu, era 1990-an, Taman Purbakala, Lampung Timur merupakan objek wisata unggulan di Lampung. “Orang datang ke sana tidak melulu melihat bebatuan peninggalan pra sejarah, tapi wisata itu satu rangkaian paket perjalanan,” ujar Citra.

Sebelum sampai ke Taman Purbakala, wisatawan yang pendatang sebagian besar adalah orang luar negeri, menurut Citra wisman  melintasi perkebunan seperti tanaman coklat, lada, dan perkebunan karet yang tidak pernah mereka temukan selain di Indoenesia.

“Baru setelah itu wisatawan singgah ke Taman Purbakala, Pugung Raharjo yang tentu ada sebuah cerita menarik yang disampaikan oleh pemandu kepada pendatang,” kisahnya.

Kemudian, wisman diajak mengunjungi sebuah perkampungan adat asli orang Lampung Desa Wana, Kecamatan Melinting. Di sana pengunjuk menyaksikan secara langsung kebudayaan masyarakat Lampung.
“Mereka disambut dengan tari-tarian oleh penduduk asli ketika itu,” tambah dia.

Puncak dari perjalanan wisata mereka berakhir di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Di sana mereka menyaksikan atraksi gajah yang telah dididik melalui sekolah gajah satu-satunya di dunia kala itu. Dan terakhir, perjalanan pulan wisatawan melintasi Kota Metro yang merupakan daerah pertama kali pelaksanaan program Transmigrasi tahun 1950-an.

Wisata di Lampung Timur berjaya tahun 1990 sampai 1996. Menurut mantan Kepala Dinas Parawisata Lampung Yuskas Idrus Djaendar Muda di era kejayaan wisata budaya tersebut ada ribuan wisman yang berkunjung ke Lampung Timur.

“Ada 2 objek wisata unggulan yang ada di Lampung ketika itu, yakni Lampung Timur dan Gunung Anak Krakatau,” kata dia.

Kejayaan itu objek wisata di Lampung kala itu karena adanya dukungan dari pemerintah baik dari pusat sampai tingkat desa, pihak swasta dan masyarakat.

“Keterkaitan ini yang sekarang tidak ditemukan lagi untuk membangkitkan kembali kejayaan wisata di Lampung Timur dan mengembangkan objek wisata lainnya yang ada di Lampung,” ujarnya. Selain itu, infrakstruktur yang terus dipelihara.