Opini  

Taman Wisata Kuliner Ramai Saat ada Hajat Apeksi, Bagaimana Selanjutnya?

Suasana Wisata Kuliner di Jl Gatot Subroto Bandarlampung, Sabtu pagi, 28 Mei 2022.
Suasana Wisata Kuliner di Jl Gatot Subroto Bandarlampung, Sabtu pagi, 28 Mei 2022.
Bagikan/Suka/Tweet:

Juwendra Asdiansyah

Pagi ini (Sabtu, 28/5/2022), taman UMKM/wisata kuliner di Jalan Gatot Subroto, Bandarlampung ramai luar biasa. Pedagang, pembeli, pengunjung, warga tumplek blek sejak dari RRI Tanjungkarang sampai Patung Soekarno (depan Griya Liwet, Kafe Nudi, dll).

Saya cukup familiar dengan “pasar kaget” ini karena setidaknya sekali dalam sebulan saat jogging mengambil rute tersebut. Beda dengan hari ini yg ramai padat bertepatan dengan perayaan HUT Apeksi ke 22 di Kota Tapis Berseri, biasanya taman kuliner ini relatif sepi. Semakin ke sini jumlah pedagang bahkan terus berkurang.

Tantangannya ialah:

1. Akankah taman kuliner ini tetap ramai pada pekan-pekan depan setelah tidak ada lagi mobilisasi pengunjung dan pedagang sperti hari ini terkait momen Apeksi.

2. Perlu promosi yang spartan _dus_ manajemen pengelolaan yang baik sehingga benar-benar taman wisata kuliner tersebut menjadi favorit warga dan pedagang, menjadi alternatif ikon wisata Bandarlampung, dan pada akhirnya menggerakkan ekonomi masyarakat.

3. Saya pribadi yg tinggal relatif tak jauh dr lokasi sebenarnya senang dg adanya taman kuliner tersebut. Selain bisa “cuci mata”, ajang silaturahmi kalau tak sengaja ketemu kawan, juga bisa punya alternatif wisata kuliner murah meriah akhir pekan.

4. Hanya saja perlu dipikirkan mencari kawasan lain sebagai lokasi karena Jalan Gatot Subroto yang dipakai sekarang merupakan jalan arteri yang bukan saja lalu lintasnya ramai, tapi juga vital sebagai akses utama kawasan sekitar, juga akses utama dari kawasan Bandar Lampung menuju Lampung Selatan (via Panjang) dan sebaliknya.

5. Taman wisata kuliner ini mestinya juga bisa menjadi wahana edukasi warga dalam berbagai aspek, termasuk aspek lingkungan, misalnya edukasi soal sampah. Bukannya sebaliknya, justru keberadaannya menjadi sumber produksi sampah pada setiap perhelatannya

Tabik!