Beranda Kolom Kopi Pagi Tan Malaka

Tan Malaka

39
BERBAGI

Rusdi Mathari

Nama kecilnya Ibrahim, Tan Malaka adalah gelarnya. Dia hanya guru ngaji awalnya, tapi di masa pergerakan, dia adalah tokoh pendiri negara ini dan pernah mendapat mandat sebagai presiden gerilya andai terjadi sesuatu kepada Sukarno dan Sjahrir.

Dialah pejuang yang tak pernah takluk selama 30 tahun. Bergerak di banyak kota dan negara. Di dalam negeri dia bergerak dari Bukittinggi, Jakarta, Jogja, Bandung, Kediri, hingga Surabaya. Di luar negeri, dia berjuang di Amsterdam, Berlin, Moskwo, Shanghai, Hong Kong, Bangkok, Saigon, Singapura hingga Manila. Nyaris atau hanya dialah pejuang yang paling banyak diburu oleh oleh polisi rahasia Jepang dan Belanda, selain oleh intel komunis.

Dari dia pula kaum pergerakan dari berbagai aliran dan ideologi, mengenal aksara-aksara modern. Ketika Belanda kembali mengerahkan tentaranya ke negeri ini, Tan Malaka yang menulis grafiti dengan bahasa Inggris yang fasih di gerbong-gerbong kereta dan di sudut-sudut kota. Tulisan “Freedom is the glory any nation Indonesia for Indonesian” atau “Fredom or death” yang kemudian dikenal sebagai “Merdeka atau mati” adalah slogan yang dibuat Tan Malaka.

Negara ini dan para pemimpinnya akan tetapi melihat Tan Malaka hanya sebagai sampah. Dia dibunuh oleh tentara dari negara yang justru didirikannya, dicintainya. Lalu bahkan ketika sudah mati pun, dia tetap terus dibunuh: jasa-jasanya dicoba dihilangkan, dan negara ini malu-malu mengakuinya sebagai pahlawan.

Dan hingga hari ini, pembunuhan terhadap Tan Malaka terus berlanjut. Di Surabaya, sebuah diskusi tentang bukunya, menurut Tempo.co telah dihadang oleh organisasi yang menamakan Gerakan Umat Islam Bersatu, sebagian media menyebut oleh FPI. Mereka menganggap Tan Malaka sebagai tokoh komunis dan pikiran-pikirannya dianggap sebagai ancaman bagi keamanan dan ketertiban, meski sebetulnya tak sulit untuk mengetahui, siapa pengancam keamanan dan ketertiban yang sebenarnya.

Satu hal yang mungkin mereka lupa bahwa biar pun Tan Malaka dibunuh dan terus dibunuh, gagasan dan pikirannya sebagai pejuang seperti halnya semua gagasan dan pikiran setiap manusia, tak akan pernah bisa dikubur. Dan [seperti kata Tan Malaka], justru dari dalam kubur, suara dari gagasan dan pikiran dia akan lebih keras.