Beranda Medsos Trending Tanggapan Netizen Terkait Usulan Mendikbud tentang “Full Day School”

Tanggapan Netizen Terkait Usulan Mendikbud tentang “Full Day School”

312
BERBAGI
Mendikbud Muhadjir Effendy (dok tribunnews.com)

TERASLAMPUNG.COM — Sekolah seharian penuh yang diusulkan Mendikbud Muhadjir Effendy menuai pro-kontra. Pihak yang pro menilai, kebijakan itu bisa mengurangi kenakalan remaja dan menumbuhkan budi pekerti siswa. Sedangkan mereka yang kontra berpandangan bahwa kebijakan itu tidak pas diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Mereka minta Mendikbud melakukan kajian mendalam sebelum menerapkan kebijakan.

Berikut komentar netizen terkait sekolah seharian penuh:

Rachmat Hidayat Cahyono (alumni IKIP Jakarta, cerpenis): Mendikbud baru ini keblinger betul. Tanyalah anak2 kita, apakah sistem persekolahan di Indonesia saat ini sudah membuat anak bahagia dan tumbuh secara wajar dalam lingkungan sekolah yang menyenangkan? Benahi dulu kualitas guru, itu pangkal persoalan nomor satu.

Komaruddin Hidayat (guru besar UIN Syarif Hidayatullah): Ide Mendikbud ttg full day school sdh dipraktekkan di Sekolah Madania, Parung Bogor. Org tua merasa tenang pagi2 melepas anaknya. Pergaulan terkontrol. Tapi tentu saja hanya sekelompok kecil saja yg bisa menerapkan.Maksud Menteri bagus tapi pelaksanaannya terbatas.
Willy Pramudya (pendidik, jurnalis): Dia ini tahunya negeri ini pasti Yukei atau Yu-es-ei atau Ngostrali atau mungkin Antartika. Medianya juga heibat2. Setali tiga lembar. Rame2 nullis “full day school” tanpa memberikan padanan yang pas disertai arti. Lengkap sudah derita bangsa yang elitnya heibat2 ini. Mereka adalah warga RI dengan ciri khusus: selalu kesulitan berbahasa Indonesia. Agaknya mereka lahir dan besar di nge-brod. Pulang hanya untuk berkuasa. Karena itu kudu nginggris. Karena nginggris pikirannya pasti mendunia. Mendunia bagi mereka berarti membarat. Berarti memundamental-pasar. Berarti membudak pada kapital. Kelak anak2 desa harus bisa bilang “pul de sekul”. Tak boleh billang “sinau sedino nutuk” atau “sinau sedino kemput”. Mungkin juga tak boleh lagi bercita-cita jadi petani atau nelayan atau pemintal. Tak mengenal lingkungan. Kalau ndoro tuan kapital datang menebang hutan demi sawit atau tanaman modern seperti dulu jalannya akan serba lancar.

Budisantoso Budiman (LKBN Antara): Menteri baru maksudnya mau bikin gebrakan alias terobosan…..eh malah bikin ‘blunder’.

Meidia Utami (Jakarta): Anak2 di komplek saya tinggal, bersekolah full-day. Mulai dari kelas 5 SD hingga kelas 3 SMU. Mereka pulang ke rumah pukul 12 siang, kembali ke sekolah pukul 1 dan pulang pukul 4 sore. Hari Sabtu sekolah libur. Tidak ada masalah dan keluhan. Mungkin karena terbiasa. Sekolah-sekolah ini punya perusahaan, swasta. Ada bus sekolah yang antarjemput. Rumah-rumah kebanyakan murid, satu komplek dengan sekolah (ada sedikit anak yang ortunya bukan karyawan).

Namun saya sering sekali berpikir alangkah lelahnya mereka. Belum kalau ada kegiatan setelah sekolah seperti mengaji, les atau ekstrakurikuler. Seperti Si Encul, ia tidak pernah mengeluh penat. Barangkali karena ia menikmatinya. Kelelahannya nampak ketika dengan baju sekolah ketiduran di sofa lalu mendadak terbangun tergopoh-gopoh ketika ingat kegiatan berikutnya. Bimbel bahkan ada malam hari -bagi yang mau. Encul ikut bimbel malam itu tiga kali seminggu. Alih2 senang, saya biasa membujuknya untuk ‘bolos saja deh kali ini’ ketika melihat runtutan kegiatan sambung-menyambung ini.

Anak2 di sini terbiasa dan barangkali tetap gembira. Namun itu karena sekolah punya perusahaan yang menyediakan bus antarjemput meski jarak rumah-sekolah tak benar2 jauh. Mereka berkitar-kitar di komplek belaka. Di Indonesia, dengan situasi tempat dan keluarga yang berbeda-beda, menurut saya, sekolah full-day itu gagasan yang perlu dipertanyakan.

Mukhammad Kholiq (guru, Jawa Timur): Sekolah full day. Masuk pukul 10.00, pulang 17.00. Lingkungan sekolah menyenangkan dan menjadikan krasan di sekolah. Tentu sekolah menyediakan kantin dan taman-taman indah yang menyemangatkan. Sebagian waktu tiap hari di bagian awal kegiatan akademik, sisanya mengerjakan tugas tugas akademik, mengembangkan bakat, mengaji, dan/atau kegiatan non akademik lainnya, sehingga pulang tanpa adanya PR Lalu bagaimana beban kerja gurunya? Untuk ini di atur penjadwalannya sehingga pulang tidak ada pekerjaan sekolah dilakukan di rumah. He..he…Ini menurut pemikiran saya.

Zed Abidien (penulis, Jawa Timur): Cerita seorang guru SMKN di Surabaya, full day (kota sby sdh lama menerapkan full day) justru merepotkan guru krn waktu istirahat mereka (malam hari) habis untuk mengerjakan tugas sekolah, berbeda kl masuk enam hari kerja. karena saat ini era otonomi daerah, biarlah soal waktu sekolah diatur oleh sekolah dan daerah masing-masing. berdasarkan situasi, kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah/sekolah. Di surabaya, sekolah negeri diberi kebebasan apakah mrk menerapkan full day atau tidak.

Andi Desfiandi (IBI Darmajaya, Bandarlampung): Anak2 dijadikan objek eksperimen mendikbud ? Wacana dari mendikbud yg baru dilantik utk menerapkan sekolah full seharian untuk murid SD dan SMP menimbulkan polemik yg negatif bukan saja kepada sistim pendidikan nasional namun juga kepada sistim sosial dan juga masa depan anak2. Anak2 di usia 0-15 tahun merupakan masa2 keemasan pembentukan karakter dan minat bakat anak dan sekaligus masa2 yg sangat menentukan perkembangan jiwa dan jg otak mereka.
Tidak sepantasnya wacana tsb dilontarkan oleh seorang mendikbud hanya utk memenuhi ambisi mengeluarkan sebuah program tanpa kajian yg mendalam.  

Aspek fundamental pendidikan usia dini tidak semata akan selesai dengan memaksakan anak2 tinggal disekolah seharian dan dengan alasan tidak terkontaminasi oleh lingkungan luar serta dapat dijemput orangtua yg pulang dari kantor. Alangkah sederhananya pemikiran tsb namun berimplikasi luar biasa terhadap tatanan kehidupan serta sistim pendidikan nasional kita.

Sebaiknya Mendikbud fokus saja kepada 4 pilar pendidikan yg digariskan UNESCO serta 5 Pilar pendidikan nasional kita (menurut saya tambahkan 1 pilar lagi menjadi 6 pilar dengan memasukkan pilar karakter, moral dan budaya). Yukkkk ahhh seruput kopi lampungnya……

Hermawan Aksan (penulis, Bandung): Anak saya yang di SMA masuk pukul 6.30, bubar pukul 14.30. Delapan jam di sekolah. Itu sudah termasuk full day atau belum, Pak? Buat anak SMA kayaknya sudah lama berlangsung seperti itu. Buat anak SD? Jangan lah.

Fathoni (dosen Unila): Dulu, sekolah SD masuk jam 7.30, baris di depan kelas, masuk, berdoa, terus belajar. 10.00 – 10.30 istirahat, kami menyebutnya keluar maen, karena kami tidak istirahat, kami justru main kelereng, uberan, atau main bola. 10.30 – 13.00 belajar lagi, tak lama, 13.05 lah, kami berdo’a a lam nasyroh, lalu pulang. Sampai rumah, keringetan karena pulang jalan kaki, langsung makan, gak cuci tangan dulu. Alhamdulillah, masa kecil di sekolahku bahagia, karena jam belajar tidak mengganggu waktu bermain, dunianya anak anak.

Bambang Wisudo (pendidik,  Ciledug Utara, Banten ): Milih dua menteri pendidikan kok ya gak ada yang cerdas. Jokowi, Jokowi …
Geni Achnas (aktivis, pekerja sosial): Percakapan dengan beberapa orang tua. Ini serius, ini soal perut, alasan praktis. Kalau full day school diterapkan, anak-anak akan sakit perut karena 1) stress seharian disekap di sekolah dan 2) kelaparan. Orang tua perlu siapkan bekal untuk 2 kali makan. Akibatnya bujet rumah tangga nambah. Nanti ada yang makan 2 kali, ada yang tidak sanggup. Nah, agar adil, Pak Menteri sediakan makanan gratis untuk anak-anak full-day school. Gi mana Pak?

Susi Fitri (dosen UNJ): mesem asem *kalo anak udah bisa full day school dari pagi ampe sore, lah kenapa orang tuanya ngga full day work dari pagi ampe malem? masak kalah ama anak2 jam aktivitasnya, malu laahh orang tua ama anak. mentrinya kerja 18 ajah

Hawe Setiawaan (penulis, Bandung): Setahu saya, istilah SCHOOL dalam bahasa Inggris, selain berarti “sekolah”, juga berarti “sekelompok ikan yang berenang ke arah yang sama”. Dengan kata lain, tantangan berat buat menteri pendidikan adalah memastikan bahwa urusan yang sedang dia tangani bukanlah akuarium
Muhammad Rois Rinaldi (penyair, Banten): Jika ini benar, maka kalian sedang berpikir manusia sebagai robot. Sekolah seumur-umur dan bekerja seumur-umur. Tidak ada ruang sosial di luar kedua lingkaran itu. Percobaan seperti apa lagi yang hendak dibuat di negeri ini?

Robert Adhi Kusumaputra (jurnalis, Jakarta): Kan tidak semua orangtua bekerja seharian di kantor? Ada ibu rumah tangga yang tugasnya memang ngurusi anak.
Mungkin kebijakan ini pas untuk keluarga (suami-istri) yang bekerja pagi-siang-malam di kota-kota besar. Tapi untuk kota kecil? Kurang pas. Jadi tak perlu diseragamkan di semua sekolah ya Pak.

Desy Shelfya (Lampung):  Emang anak kita robot… ga d usulin jg sekolah udah pd full time…edan lho bpk ini kaya ga punya anak.

Gunawan Handoko (penulis, Bandarlampung): Nggak lebih pinter dari Menteri yang lama….Mikir dulu Pak, bagaimana dampak psikologis bagi anak. Juga siapa yang mau ngasih makan siang?

Bathin Irwan (Lampung): Kira kira mendikbud melihat sudut pandang kemampuan masing masing anak untuk terus berfikir jernih berapa lama ?(sepertinya tidak)yg saya khawatirkan anak sekolah bukan tambah pintar tapi tambah stres…..daya tumbuh kembang otak manusia itu lain lain, kalau anak tambah stres mendikbud mau tanggung jawab? Cobalah pertimbangannya jangan dari 2 atau 3 sudut pandang tapi dari segala faktor sudut pandang, baik phisikologi, kesehatan, agama, sosial, ekonomi, Iptek, efisiensi dan efektifitas dll, yang saya takutkan banyak anak anak yg bunuh diri karna stres dan kurang bersosialisai/bergaul.

Adien Umar (Lampung): Berpikir yg realistis dikit dong pak menteri, coba buat program sekolah betul2 gratis,jangan sampai ada sumbangan atau lain2 lagi… ini bukan di jepang pak? Asal ngomong ajaah bapak ini…. huhhh !!