Beranda Ruwa Jurai Lampung Selatan Tanggul Way Katibung Jebol Belum Diperbaiki, Ratusan Hektare Sawah Masih Terendam

Tanggul Way Katibung Jebol Belum Diperbaiki, Ratusan Hektare Sawah Masih Terendam

351
BERBAGI
Empat hari setelah jebolnya jebolnya tanggul sungai Way Katibung di Desa Sinar Pasmah, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, ratusan hektar lahan sawah masih terendam air setinggi 50 cm, Sabtu (11/1/2020).
Empat hari setelah jebolnya jebolnya tanggul sungai Way Katibung di Desa Sinar Pasmah, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, ratusan hektar lahan sawah masih terendam air setinggi 50 cm, Sabtu (11/1/2020).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Empat hari pasca jebol pada Rabu dinihari (8/1/2020) lalu, tanggul sungai Way Katibung sepanjang 30-50 meter di Desa Sinar Pasmah yang mengakibatkan 300 hektare lahan sawah tiga desa di Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan yang terendam banjir sampai saat ini masih dalam kondisi rusak berat dan belum terlihat adanya perbaikan.

Pantauan teraslampung.com dilokasi, belum terlihat adanya alat berat yang diturunkan oleh pemerintah Lampung Selatan atau instansi terkait lainnya dilokasi jebolnya tanggul sungai Way Katibung untuk dilakukan perbaikan.

Ratusan hektare lahan pesawahan yang terendam air, sebagian sudah ada yang terlihat surut. Selain tanaman padi yang terendam, ada juga tanaman cabai yang sudah siap panen terendam banjir.

Aktifitas petani, belum terlihat memperbaiki lahan sawahnya yang rusak akibat banjir ataupun menanam padi lagi, yang sebelumnya sudah mereka ditanami dan hanyut terbawa arus akibat banjir.

Disi lainnya, masih terlihat ratusan hektar lahan sawah lainnya seperti danau karena masih terendam air setinggi 50 cm. Jika sebelumnya, air yang merendam ratusan hektar lahan sawah di tiga desa di Kecamatan Candipuro tersebut setinggi 1-1,5 meter.

Hingga saat ini pasca empat hari jebolnya tanggul sungai Way Katibunng itu, para petani dari tiga desa di Kecamatan Candipuro yang lahan sawahnya terendam banjir belum bisa menanam padi meski saat ini sudah memasuki tanam padi.

Mereka masih khawatir jika padi yang mereka tanam, sewaktu-waktu dapat terendam banjir lagi karena belum adanya perbaikan tanggul yang jebol tersebut. Akibatnya, longsor dan banjir masih bisa terjadi jika diguyur hujan deras lagi.

“Kami sangat khawatir dengan kondisi tanggul sungai Way Katibung yang jebol, belum adanya perbaikan karena debit air sungai besar. Apalagi sudah musim penghujan, dan dalam beberapa hari sekarang ini saja hujan turun selalau deras,”kata Mugino (42), salah seorang petani warga Beringin Kencana kepada teraslampung.com yang lahan sawahnya terendam banjir, Sabtu (11/1/2020).

Terlebih lagi, kata Gino, areal sawah ratusan hektare di tiga desa di Kecamatan Candipuro yang terendam air ini, sudah mulai memasuki musim tanam padi. Bahkan sebagian petani, lahannya sudah ada yang ditanami padi dan ada juga yang menanam cabai. Akibat banjir kemarin, petani yang sawahnya sudah ditanami padi dan juga cabai merugi hingga ratusan juta.

“Kalau tanggul sepanjang 30-50 meter yang jebol ini belum juga diperbaiki, sudah pasti airnya masuk ke lahan sawah dan kami para petani tidak bisa menanam padi. Selain itu juga, jebolnya tanggul pasti bertambah lebar karena tergerus arus air sungai,”ungkapnya.

Dikatakannya, tidak hanya areal lahan pesawahan saja yang terdampak banjir nantinya, rumah-rumah warga pun dipastikan akan terendam banjir kalau tanggul jebol sungai Way Katibung itu tidak segera diperbaiki oleh pemerintah. Sebab, banjir yang merendam ratusan hektare sawah ini, sudah sampai ke jalan dan hanya berjarak beberapa meter lagi merendam rumah warga.

Tanggul sungai Way Katibung jebol di Desa Sinar Pasmah, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan yang merendam 300 hetar lahan sawah tiga desa di Kecamatan Candipuro belum dilakukan perbaikan, Sabtu (11/1/2020).
Tanggul sungai Way Katibung jebol di Desa Sinar Pasmah, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan yang merendam 300 hetar lahan sawah tiga desa di Kecamatan Candipuro belum dilakukan perbaikan, Sabtu (11/1/2020).

“Kami berharap, pemerintah Lampung Selatan atau instansi terkait segera melakukan perbaikan tanggul yang jebol, agar kami para petani tidak merugi akibat banjir dan rumah warga juga tidak terendam banjir,”pinta bapak lima orang anak ini.

Warga lainnya, Timan (38) pun berharap kepada Pemkab Lamsel agar segera memperbaiki tanggul sungai Way Katibung yang jebol tersebut. Sebab kalau tidak cepat diperbaiki, bukan hanya padi warga saja yang terendam banjir tapi rumah warga juga akan terkena imbasnya.

“Mumpung belum diguyur hujan deras lagi, saya berharap Pemkab Lamsel segera memperbaiki tanggul yang jebol agar tidak banjir lagi dan bertambah luas lagi dampak banjirnya,”ungkapnya.

Sementara Siswanto (50), warga Desa Sinar Pasmah kepada teraslampung.com mengaku, saat tanggul itu jebol dan airnya meluap, terdengar cukup keras suara gemuruh. Ia juga sempat melihat luapan air menggenangi lahan sawah dan melewati jalan. Khawatir terjadi sesuatu, saat itu juga ia langsung melaporkannya ke Kepala Desa (Kades) Sinar Pasmah.

“Suara gemuruh airnya kuat sekali, kebetulan rumah saya tidak jauh jadi jelas dengarnya. Saat itu juga saya langsung kabari Pak Kades, bahkan Pak Kades langsung pukul titir (kenthongan) tanda agar warga waspada banjir,”ujar pria yang sudah 12 tahun menjadi petugas Linmas di desa setempat kepada teraslampung.com.

Siswanto juga mengaku, kalau dirinya yang selama ini ditugasi untuk mengawasi sekitar lokasi tanggul sungai Way Katibung yang ada di Desa Sinar Pasmah sejak tahun 1989 hingga sekarang ini. Bahkan ia juga mengetahui secara persis sebelum tanggul itu dibuat, ketika dulu sungainya masih melingkar berbentuk seperti huruf S.

“Ya kebetulan, saya ini memang yang mengawasi tanggul sungai Way Katibung di wilayah Desa Sinar Pasmah ini dan kalau terjadi apa-apa saya yang langsung memberikan informasinya,”ucap bapak tiga orang anak ini.

Sebelum tanggul itu jebol, kata Siswanto, sudah ada alat berat sebenarnya disini selama lima hari. Bahkan saat tanggul itu jebol pun, alat beratnya masih ada dan baru kemarin pulang. Tapi ia tadi mengetahui secara pasti, apakah alat berat itu dari Pemkab Lamsel atau dari Provinsi.

“Kayaknya belum kalau mau diperbaiki sekarang-sekarang ini, karena kondisi tanahnya juga masih gembur dan jalur tanggulnya juga belum bisa dilewati alat berat. Kalau dipaksakan lewat, takutnya longsor lagi kena getaran alat berat sebab tanggulnya juga ada yang belum lama ini diperbaiki. Selain itu juga, tanah urukan untuk benahi tanggul juga belum ada,”ungkapnya.

Loading...