Tangkas Berakal Sehat, Kunci Sukses Hidup

  • Bagikan
Dokter Handrawan Nadesul
Dokter Handrawan Nadesul

Oleh: dr. Handrawan Nadesul

Pendidikan dasar di Barat mendahulukan pelajaran Logika, bagian dari Ilmu Filsafat, selain pendidikan Etika dan bertata krama. Ini penting oleh karena dengan memahami logika, mudah kita berakal sehat.
Sebagai apapun bidang yang kita kuasai, dan kita menjadi ahlinya, akal sehat diperlukan, tak cukup bergelar panjang. Hanya bila kita tangkas berakal sehat, kita mudah memahami banyak hal, dan tidak perlu terjebak debat kusir, atau menjadi manusia yang sering gagal paham. Kasus meniscayai kalau Virus Covid tidak ada, contohnya.

Tentu supaya tajam akal sehat, perlu cukup wawasan untuk menimbang bobot sebuah kebenaran. Untuk tiba pada kesimpulan virus Covid betul hadir, misalnya, perlu tahu siapa yang secara ilmiah mengatakan kalau itu ada?

Untuk itu tentu perlu membaca informasi dunia, kalau sejak pandemi ada, lebih dari 200 negara di dunia, ratusan ilmuwan yang tidak saling mengenal itu, secara berbarengan, menemukan fakta yang sama ihwal virus Covid-19. Tidak masuk akal sehat ratusan ilmuwan dari 200-an negara itu berkomplot melakukan kebohongan untuk suatu persengkokolan jahat. Untuk sebuah konspirasi. Ihwal ini semua orang awam bisa menalar dengan akal sehatnya. Apalagi sudah semestinya kalangan proesional medik. Hanya bila pikiran singit yang meniscayai virus Covid-19 tidak ada.

Bidang apa pun yang kita geluti, untuk sukses sebagai profesional, bahkan sekadar sukses sebagai manusia biasa saja pun, kita butuh ketajaman akal sehat.

Tidak semua yang ada di buku teks, tidak semua teori, bisa menjelaskan yang terjadi di lahan kehidupan yang kita geluti. Namun sebagai halnya skill for life, misalnya, juga banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah, termasuk “tacit knowledge”, akal sehatlah yang membawa kita menjadi manusia yang berhasil memihak kebenaran. Kebenaran apa saja.

BACA JUGA:   Aku Cuma Bisa Terharu Menyambut Hari Guru

Akal sehat tidak mengungkung kita berpikiran sempit, pikiran dogmatik belaka. Ilmu pengetahuan begitu terbuka lebar dan belum semua terkuak, menyadari otak manusia masih serba terbatas. Tapi akal sehat bisa memberi penjelasan dengan temuan, dan dengan apa yang baru ilmu pengetahuan miliki.
Sebagai profesional dokter saya acap kali dihadapkan kepada pertanyaan awam yang belum tentu ada di buku teks medik atau dari apa yang saya terima selama sekolah kedokteran. Bahkan dari pertanyaan yang paling awam sekalipun ihwal dunia medik, saking belum seluruhnya pasti. Ilmu biologik masih belum semuanya sebagai sebuah kepastian. Namun dari dasar ilmu medik yang saya peroleh, saya bisa mengolahnya untuk bisa tiba pada kebenaran ilmiah, sekali lagi dengan memanfaatkan akal sehat.

Untuk kesuksesan hidup demikian pula sejatinya, siapapun kita, tangkas berakal sehat diperlukan. Akal sehat pula yang membuat pebisnis, misalnya, jeli melihat peluang. Akal sehat pula yang membawa saya jeli untuk beberapa hal memanfaatkan semua yang saya miliki untuk gesit menangkap peluang, sehingga inspirasi “from zero to omega”, bukan ekspektasi yang omong kosong.

Sekarang saya tahu, kalau perjuangan hidup dari nol, diperlukan sikap gesit melakoni memasuki peluang dengan apa yang ada di kepala saya, termasuk ketangkasan berakal sehat, sehingga orang meraih hasil yang ternyata bersifat eksponensial. Bukan lagi raihan deret hitung, kalau melihat mulai dari nol, melainkan raihan deret ukur.

Mana pernah bisa terbayangkan, bisa meraih seberkat begini, kalau bukan dulu berpeluh-peluh, ulet, gesit, jeli, dan berakal sehat. Maaf kalau ini terkesan menyombongkan, semata demi menginspirasi.
Mana orang tahu kalau berkeringat saya sudah sampai kaki. Belum tidur ketika teman-teman sudah lelap, sudah berangkat dini hari ketika yang lain masih duduk sarapan. Melupakan nonton bioskop ketika yang lain menghibur diri di cafe. Ketika teman lain nyaman di mobil dan rumah ber-AC, saya berpeluh berdiri di atas bus kota. Terpaksa bolos kuliah karena harus mengambil honorarium tulisan koran. Siap diskors tidak boleh ikut kepaniteraan dokter gara-gara terpaksa membolos karena ada urusan proyek buku yang tidak mungkin ditunda supaya bisa mendapat tambahan uang.

BACA JUGA:   Esek-Esek Online

Banyak keputusan hidup yang waktu itu diambil dengan memanfaatkan akal sehat. Juga setelah berpraktik, menjawab surat konsultasi, dan apapun hal lainnya dalam hidup.

Menjadi dokter tak cukup ilmu kedokteran semata. Perlu membaca banyak yang lainnya. Perlu wawasan lainnya, supaya sebesar-besar bisa menghasilkan buah dari digaetnya kesempatan dan peluang. Untuk bisa jeli melihat itu semua, diperlukan akal sehat, selain harus gesit. Gesit mengejar setelah kesempatan dan peluang kita buka.

Masyarakat madani, masyarakt pembelajar, perlu dibuat cerdas berakal sehat, sehingga tangkas menjawab kehidupan. Perlu kurikulum Ilmu Logika. Bahwa emas itu logam, tapi bukan semua logam itu emas. Ini cara kita berlogika.

Kita bangun masyarakat, agar tidak perlu goyah apalagi bingung menghadapi berseliwerannya informasi yang nakal, yang jahat, dan semua yang menyesatkan. Bila tidak, dari situ muasal masyarakat mudah dan rentan panik. Demikian pula melihat gencarnya infodemic yang mudah dibuat rancu, dibuat onar, oleh pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh.

Mari kita ciptakan generasi anak yang tajam mengasah akal sehat, selain banyak membaca hanya yang benar dan bisa dipercaya, tidak terombang ambing oleh yang tidak benar, sehingga tidak ada lagi warga bangsa yang gagal paham untuk hal apa saja dalam hidup berbangsa, dan bernegara.***

 

.com/t/e/teraslampung.com.1193498.js" async>
  • Bagikan