Beranda BOLA Piala Dunia 2018 Teknologi VAR dan Hujan Penalti di Piala Dunia 2018

Teknologi VAR dan Hujan Penalti di Piala Dunia 2018

613
BERBAGI
Algojo Tunisia, Ferjani Sassi,sukses mengeksekusi tendangan penalti pada laga fase grup Piala Dunia 2018 ke gawang Inggris, Selasa dini hari WIB (19/6/2018).

TERASLAMPUNG.COM — Tendangan penalti atau tendangan dari titik putih di depan gawang alias “tendangan 12 pas” menjadi hantu yang ditakuti oleh para kiper. Penjaga gawang kelas dunia sehebat apa pun harus menghadapi tendangan bebas itu seorang diri. Jika sang algojo adalah pemain kelas dunia yang kekuatan tendangannya sekeras geledek, bisa diyakini bola akan masuk ke gawang meskipun dijaga dengan antisipasi brilian sang kiper.

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, kehadiran teknologi Video Assistant Referee (VAR ) makin menambah peluang terjadinya tendangan penalti makin besar. Teknologi yang dimaksudkan membantu para wasit ini baru pertama kali diterapkan di Piala Dunia 2018 di Rusia.

Hingga Selasa dini hari WIB (19/6/2018) dari 17 laga matchday perdana fase grup Piala Dunia 2018, sudah ada 8 tendangan penalti dihadiahkan oleh wasiit kepada tim yang pemainnya dilanggar pemain lawan.

Terbanyak adalah penalti saat laga pada Sabtu (16/6/2018). Dalam empat pertandingan fase grup itu, wasit menghadiahkan lima penalti.

BACA: Piala Dunia 2018: Inggris Akhirnya Bungkam Tunisia 2-1

Sebanyak delapan hadiah tendangan penalti tersebut adalah pada laga Portugal melawan Spanyol, Prancis versus Australia, Argentina kontra Islandia, Peru Vs Denmark, Kroasia melawan Nigeria, Swedia melawan Korea Selatan, dan Inggris Versus Tunisia.

Dari delapan ‘hujan penalti’ itu, tiga di antaranya keputusannya didasarkan pada pertimbangan teknologi VAR. Yakni pertandingan Prancis Vs Australia, Peru kontra Denmark, dan Swedia melawan Korea Selatan.

VAR pertama kali digunakan kecanggihannya saat pertandingan Prancis  melawan Australia pada fase grup. Kala itu, algojo Prancis Antoine Greizman sukses membobol gawang Autralia lewat tendangan penalti. Australia kala itu juga mendapatkan hadiah tendangan penalti.

Bedanya, hadiah tendangan penalti untuk Australia bukan atas “pertimbangan” VAR tetapi karena sang wasit meyakini bahwa pemain Australia dilanggar punggawa Prancis. Mile Jedinak yang dipercaya menjadi eksekutor pun sukses menjebol gawang Prancis lewat titik penalti.

Dari delapan hadiah tendangan penalti itu, tidak semuanya sukses dieksekusi. Ada dua algojo yang gagal, yakni Lionel Messi (Argentina) saat melawan Islandia dan Christian Cueva (Peru) saat bertanding dengan Denmark.

BACA: Piala Dunia 2018: Swedia Menang 1-0 Atas Korsel Berkat Tendangan Penalti

Hukuman tendangan penalti selama ini kerap menjadi pemicu kericuhan. Tim yang terkena hukuman tendangan penalti kerap protes keras karena meyakini hukuman tersebut tidak pantas. Protes tergres adalah saat pertandingan Inggris versus Tunisia pada Selasa dini hari WIB (19/6/2018). Karena tidak terima denga keputusan wasit, pelatih Inggris Gareth Southgate  melontarkan sindiran keras.

“Jika penalti semacam itu terus diberikan, maka ini akan menjadi turnamen ‘yang menarik’,” kata Southgate dengan nada sarkas.

Terlepas dari soal kontroversi, gol karena tendangan penalti tetap sangat bernilai bagi tim sepakbola. Sebab,tidak ada gradasi atau perbedaan derajat nilai antara gol yang tercipta karena sebuah keberhasilan sebuah serangan dan eksekusi lewat kaki atau sundulan kepala dengan gol yang diciptakan oleh tendangan 12 pas dari titik penalti.

Rama Pandu SM

Loading...