Beranda Kolom Sepak Pojok Teman Balik Kanan

Teman Balik Kanan

2182
BERBAGI

Oleh: Slamet Samsoerizal*

Ungkapan Teman Balik Kanan, mewacana belakangan ini, usai Amien Rais mengunggah tayangan video di akun instagram-nya amienraisofficial. “ …di tahun politik ini, sepertinya muncul sebuah fenomena baru, yaitu teman-teman yang mula-mula nampak lurus, nampak tawaduk, nampak istiqomah, tiba-tiba agak berbalik kanan dan mengagetkan.”

Menurut Amien, adanya sikap yang berbeda dari sejumlah rekannya di tahun politik ini adalah hal yang biasa. Dia hanya berharap rekan-rekan yang sudah berbeda itu dapat kembali ke jalan yang seharusnya.

Insan awam secara acak menangkap pernyataan politisi senior ini, sebagai  sentilan yang ditujukan kepada kepada para tokoh yang baik tersirat maupun tersurat memosisikan hal tersebut. Mengapa balik kanan?

Tindak Motif

Ada sejumlah tindak motif, mengapa seseorang me-laku dengan sikap tertentu. Pertama, ihwal pragmatisme.  Secara filsafatis, pragmatisme dapat diterjemahkan sebagai ajaran yang menekankan bahwa sebuah bentuk pemikiran mengikuti tindakan. Kriteria kebenarannya yakni ‘faedah’ atau ‘manfaat’. Pierce (1997) menyatakan terdapat dua poin yang menjadi pertimbangan kaum pragmatis dalam bertindak, yakni: gagasan atau keyakinan yang mendasari keputusan yang harus diambil untuk melakukan tindakan tertentu. Selain itu, tujuan dari tindakan itu sendiri. Manusia memiliki ide yang ingin diejawantahkan dan memiliki tujuan tertentu, sekaligus merupakan konsekuensi praktis atas sebuah tindakan.

Oportunis, mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu perumpamaan. Siapakah dia? Oportunis adalah orang yang menganut paham oportunisme. Oportunisme adalah paham yang semata-mata ingin mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada nilai-nilai tertentu. Bagi seorang oportunis, balik kanan yang sesuai atau tidak, adalah pilihan sekaligus putusan.

Kedua, adanya konflik. Sebagai mahluk sosial, manusia terkadang terbentur oleh ragam ide dengan pihak lain. Sehubungan dengan ini, Pondy(1999) merumuskan lima episode konflik yang disebut Pondys Model of Organizational Conflict. Menurutnya, konflik berkembang melalui lima fase secara berurutan, yaitu : Laten Conflict, Perceived Conflict, Felt Conflict, Manifest Conflict, dan Conflict Aftermath.

Konflik yang terpendam (Laten). Konflik Laten (terpendam) merupakan bibit konflik yang dapat terjadi dalam interaksi individu ataupun kelompok dalam organisasi. Penyebabnya, set up organisasi dan perbedaan konsepsi, namun masih di bawah permukaan. Konflik ini berpotensi untuk sewaktu-waktu muncul ke permukaan. Konflik laten bersifat mengejutkan, karena datang tiba-tiba dan biasanya sangat berdampak. Konflik laten ini berlaku seperti api di dalam sekam, tak tampak adanya di permukaan, tetapi sangat bermasalah secara tersembunyi di dalam.

Gejalanya sulit dideteksi, karena bersifat tertutup. Sama halnya sebuah kekuatan yang disimpan, tentu akan menjadi semakin kuat dan berdaya tinggi bila sewaktu-waktu meledak. Bahaya laten yang tidak terdeteksi, dan bisa ditengarai, akan menjadi konflik laten yang merusak. Dalam masyarakat yang tertindas misalnya, ketertundukan yang bukan karena kepatuhan dapat menjadi bahaya laten yang terbalik menyerang pada waktunya. Bentuk-bentuk dasar dari situasi ini seperti : saling ketergantungan kerja, perbedaan tujuan dan prioritas, faktor birokrasi, perbedaan status, dan sumber daya yang terbatas.

Konflik yang terpersepsi (Perceived Conflict). Konflik  ini dimulai ketika para tokoh yang terlibat mulai mengonsepsi situasi-situasi konflik termasuk cara mereka memandang, menentukan pentingnya isu-isu, membuat asumsi-asumsi terhadap motif-motif dan posisi kelompok lawan.

Konflik yang terasa (Felt Conflict). Konflik  ini dimulai ketika para individu atau kelompok yang terlibat menyadari konflik dan merasakan pengalaman-pengalaman yang bersifat emosi, seperti kemarahan, frustrasi, ketakutan, dan kegelisahan yang melukai perasaan.

Konflik yang termanifestasi (Manifest Conflict). Pada konflik ini salah satu pihak memutuskan bereaksi menghadapi kelompok dan sama-sama mencoba saling menyakiti dan menggagalkan tujuan lawan. Misalnya agresi terbuka, demonstrasi, sabotase, pemecatan, pemogokan dan sebagainya.

Konflik sesudah penyelesaian (Conflict Aftermath). Konflik ini adalah fase sesudah konflik diolah. Bila konflik dapat diselesaikan dengan baik hasilnya berpengaruh baik pada organisasi (fungsional) atau sebaliknya ( disfungsional ).

Ketiga, perbedaan pandangan (politik). Ketika kasus per kasus marak diperdebatkan, hal yang sering mengemuka adalah munculnya klaim tepat dan keliru. Kedua pihak yang beda pandang akan ngotot, hanya pandangannyalah yang tepat dan sesuai. Itu sebabnya, menyikapi sikap ini, sebaiknya kita mengingat ungkapan biak Ali bin Abi yang mengatakan bahwa “lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan.”  Kebencian kita pada tokoh tertentu,  tidak harus membuat kita sama sekali tidak percaya dengan kemungkinan kebenaran dari ucapan-ucapan dan tindakannya .

Mengembangkan kearifan dalam berpolitik  (political wisdom) sebaiknya perlu diupayakan. Ini tidak bermakna, bukan untuk membenarkan yang salah, tapi untuk mencoba melihat sisi kebenaran dari yang kita anggap salah.

Kita boleh saja berseberengan jalan, namun yang harus diingat bahwa jalan yang benar bukan hanya jalan milik kita. Mungkin hanya landas tumpu dan selera yang membuat jalan yang tampak terasa lebih baik dan lebih indah dari orang lain.

Perbedaan malah Menguatkan

Perbedaan termasuk pandangan politik di Indonesia tidak akan membuat perpecahan bangsa. Asalkan, sebagaimana diungkap Amien Rais hendaknya tawaduk dan istiqomah. Perbedaan malah menjadi kekuatan baru untuk membangun Indonesia lebih maju.

Ia menjadi kekuatan baru untuk membangun Indonesia lebih inklusif. Hiruk pikuk persoalan yang sudah terjadi di Indonesia tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh satu golongan atau kelompok politik manapun. Pemimpin Indonesia dan tokoh lain, selalu berhadapan dengan sebuah pilihan yang tidak mudah, yakni konteks Indonesia luar biasa, yakni keserbanekaan yang mencakup: geo kepulauan, hingga penduduk yang besar.

Apa simpul tentang Teman Balik Kanan? Ia, bukan TTM alias Teman tapi Mesra, seperti yang dipopulerkan duo cantik: Maia Estianty dan Mulan Kwok pada 2005. ***

* Slamet Samsoerizal, esais dan bekerja di Pusat Kaji Darindo