Beranda Ekbis Keuangan Tembus Rp13 Ribu per Dolar AS, di Tengah Pandemi Covid-19 Rupiah Justru...

Tembus Rp13 Ribu per Dolar AS, di Tengah Pandemi Covid-19 Rupiah Justru Makin Perkasa

233
BERBAGI
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

TERASLAMPUNG.COM —  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah saat ini sedang tangguh-tangguhnya. Pekan ini, di tengah persiapan menuju masa New Normal, IHSG sempat menyentuh di atas level 5.000. Sementara rupiah juga makin perkasa dan terus melejit hingga pada  level Rp 13 ribu per dolar AS.

Ketagguhan rupiah diprediksi masih akan berlanjut hingga pekan depan.

Analis pasar saham yang juga Direktur PT Anugrah Mega Investama, Hans Kwee, memprediksi IHSG masih akan kembali menguat.

“Kami perkirakan akan konsolidasi menguat dengan support di level 4.851 sampai 5.112,” kata Hans, dilansir Tempo di Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2020.

Dalam situasi rupiah menguat dan IHSG yang positif seperti sekarang, investasi di pasar keuangan menjadi pilihan sebagian orang. Alasannya: pada saat perekonomian kembali pulih seperti sekarang, investasi  aset aman, sedangkan  emas justru banyak ditinggalkan. Hal ini ditunjukkan dengan harga emas yang terpantau kian merosot di tengah moncernya IHSG dan rupiah yang menguat.

Money Management Expert yang juga co-founder @goodmoneyhabit, Simson Johanes M. Sinaga, memberikan sejumlah penjelasan kepada Tempo. Dalam menentukan investasi, pertanyaan pertama adalah why atau apa tujuan kita berinvestasi.Kemudian barulah how.

Menurut Simson, jika kita hanya bertanya tentang instrumen investasi, maka setiap waktu bisa berubah. Hal itu karena kinerja produk keuangan selalu berubah, terutama di masa pandemi atau new normal seperti sekarang, sehingga harus ditentukan terlebih dahulu tujuan keuangan berinvestasi, apakah untuk jangka pendek, menengah atau panjang. Setelah itu, menentukan berapa target hasil investasi dan berapa bulanan yang bisa disisihkan dari budget.

Selanjutnya, menentukan risk profile sebagai investor, apakah risk taker atau risk avoider. Barulah kemudian memutuskan mau berinvestasi pada instrumen yang mana.

Berbagai pilihan tersedia, salah satunya menggunakan jasa profesional seperti reksdana karena ada manajer investasinya. Pilihan lain yaitu investasi langsung seperti ke saham atau emas atau lainnya.

“Tapi harus investasi waktu dan usaha juga buat belajar jika ingin investasi langsung tanpa manajer investasi,” kata dia.

Loading...