Beranda Seni Sastra Heboh Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Tentang “Katakan dengan Puisi-Esai”

Heboh Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Tentang “Katakan dengan Puisi-Esai”

218
BERBAGI
Isbedy Stiawan ZS*
SEKITAR
bulan September-Oktober, sahabat
Remmy Novaris DM, penyair Jakarta, mengirim pesan lewat inboks Facebook saya. Dia mengatakan bahhwa penyair Fatin Hamama ingin mengontak saya, karena itu ia meminta nomor
selular saya. Saya pun memberikan nomor untuk menghubungi saya kepada Remmy
agar disampaikan kepada Fatin Hamama.
Saat itu saya tak menahu apa keinginan
Fatin menghubungi saya. Remmy hanya “membocorkan” bahwa Fatin agak menggulirkan
satu program di tahun 2013. Dua hari kemudian, Fatin Hamama mengontak saya. Intinya
ia meminta saya menulis puisi-esai dengan tema bebas, diutamakan yang bersifat
sosial ataupun diskriminasi.
Dua kata kunci ini sangat menggelitik
saya. Di Provinsi Lampung, persoalan sosial dan diskriminasi—juga perebutan
lahan ulayat—kerap terjadi. Pada saat bersamaan saya pun membaca pengumuman
Lomba Penulisan Puisi-Esai yang ditaja Denny J.A. di sebuah akun facebook
seseorang yang berteman dengan saya.
Menilik hadiah lomba yang menggiurkan,
saya tertarik. Sekaligu juga ini bagian dari ajang “pertarungan” kreativitas
saya sebagai penulis sastra. Namun, yang lebih menggiurkan adalah tawaran dari
Fatin Hamama. Tanpa kurasi—kurasi hanya dalam nama—dan selesai puisi dikirim
maka honorarium seperti dijanjikan Fatin Hamama sebesar Rp3 juta langsung
ditransfer.
Dalam obrolan via handphone itu, Fatin menjelaskan kalau program ini didanai oleh
Denny J.A. Nama Denny saya ketahui orang LSI, dan sebuah buku puisi-esai
bertajuk Atas Nama Cinta, yang terus
terang tidak pernah saya baca ataupun miliki. Saya baru menyimak puisiesai
Denny dari CD atas kerja sama dengan Hanung Bramantyo, lima eposide dalam satu
paket yang saya terima saat Tadarus Puisi di Teater Arena TIM. Sehingga,
tatkala Fatin Hama menyarankan agar saya membaca buku Denny, saya tidak membaca
sebara referensi. Saya benar-benar bertolak dari pemahaman saya, menulis
persoalan yang saya telah amati ataupun baca.
Ada dua persoalan sosial dan
diskriminasi yang (pernah/sedang) terjadi di Lampung. Pertama, soal masyarakat Moro-Moro di Kabupaten Mesuji, Lampung. Masyarakat
Moro-Moro sampai kini tidak diakui kependudukannya oleh pemerintah, sehingga
untuk menyalurkan politik dalam pemilihan (presiden, caleg, kepala daerah)
tidak dibolehkan.
Saya juga memiliki referensi beberapa buku
tentang Moro-Moro dari penulis Lampung: Oky Hajiasyah Wahab—di antaranya—dan
tulisan yang dimuat di media massa seperti Kompas
dan lain-lain.
Akhirnya saya tetapkan persoalan
Moro-Moro untuk saya tulis dalam puisi-esai yang diminta Fatin Hamama. Memenuhi
permintaan Fatin tidak lebih karena perkawanan. Saya mengenal Fatin sejak
1999-an saat bersama sastrawan lain melawat ke Malaysia dan Thailand.
Kedua, iming-iming honorarium Rp3 juta, yang kalau itu sangat
saya butuhkan untuk keperluan rumah tangga. Berbeda dengan Ahmadun Yosi
Herfanda yang mampu bargaining hingga
diberi honor senilai Rp10 juta, mungkin karena saya tidak begitu dekat
berkarib-karib dengan Fatin Hamama, apatah lagi tak kenal dengan Denny J.A.
Saya tidak sedang “melacur” menulis
puisi-esai pesanan ini. Bagi saya ini tugas professional, seperti juga para
sastrawan kondang diminta menulis kritik atau ulasan atas buku puisi Atas Nama Cinta Denny J.A. Ataupun kerja
sama dengan para pembaca puisi esai Denny J.A. serta dengan Hanung Bramantyo.
Tercatat nama pembaca puis-esai itu adalah Peggy Melati Sukma, Saleh Ali, Leoni
Vitria, Zaskia Adya Mecca, Agus Kuncoro, dll. 

Saya juga menyorongkan pesan dalam
puisi-esai “pesanan” Fatin Hama tersebut. Yaitu persoalan masyarakat Moro-Moro
di Kabupaten Mesuji yang menjadi “asing di negeri sendiri” karena tidak
memiliki KTP. Diskriminasi ini jelas-jelas sangat perlu digaungkan dengan
berbagai cara: penerbitan buku yang dilakukan kawan-kawan Aliansi Jurnalis
Independen Kota Bandarlampung bersama Indeph Publisghing. Dan, saya
menyuarannya melalui puisi-esai “pesanan” (atau “dipesan”) oleh Fatin Hamama
yang dimotori Denny J.A.

Saya juga menyertakan satu puisi(esai?)
saya mengikuti Lomba Penulisan Puisi-Esai yang ditaja Denny J.A. juga. Puisi
yang saya kirimkan adalah kerusuhan antarwarga yang terjadi di Kalianda,
Lampung Selatan. Pertikaian dua kampung, yang dibesarkan sebagai kerusuhan
etnis—Bali sebagai pendatang dan Lampung sebagai pribumi—telah menggelitik saya
untuk menuliskannya ke dalam puisi. Saya belum tahu bagaimana kelanjutan lomba
ini, karena saya juga tak mengikuti perkembangan pengumuman para pemenangnya.
Menolak
Ketokohan Denny JA

Awal Januari 2014, blantika sastra
Indonesia dihebohkan oleh peluncuran buku 33
Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh
(kemudian saya singkat 33 TSIPB), di mana salah satu dari 33
tokoh sastra itu adalah Denny J.A. Bagai bencana melanda sastra Indonesia.
Berbagai kelompok dan perorangan berkampanye menolak buku 33 TSIPB yang digawangi 8 sastrawan/kritikus/pengamat sastra, yang
kemudian terkenal dengan istilah Tim 8 (nama-nama ke delapan
editor/kurator/juri ini sudah kita ketahui bersama).
Sementara itu, saya sudah melupakan
puisi-esai “pesanan” Fatin Hamama, juga satu puisi saya yang saya ikutsertakan
ke Lomba Penulisan Puisi Esai yang didanai Denny J.A. Tetapi, tatkala buku yang
menghebohkan ini diluncurkan, saya salah satu dari ribuan orang yang menolak
buku dan ketokohan Denny dalam belantika sastra Indonesia. Ada banyak sastrawan
Indonesia yang layak dimasukkan dalam barisan tokoh sastra di Tanah Air,
ketimbang Denny yang baru berumur jagung. Bahkan pula Wowok Hesti Prabowo, yang
pernah terkenal dengan Presiden Penyair Buruh karena aksi-aksi demonya kepada
“majikan” bukan sebab penulisan kreatifnya.
Rupanya buku 23 sastrawan Indonesia
menulis puisi esai, telah dipolitisasi oleh Denny J.A., inilah masalahnya.
Timbul masalah baru. Ahmadun Yosi Herfanda sampai menyatakan bahwa ia sangat
menyesal dan “telah melacur” dalam kepenyairannya.
Menurut hemat saya, Ahmadun dan 22
sastrawan lain yang dihubungi Fatin Hamama untuk menulis puisi esai, tidak
sedang melacur. Sama halnya ketika kemampuan kita sebagai penulis diminta
membuat biografi seorang pejabat, toloh politik, dan sebagainya. Dari kerja
kepenulisan itu lalu mendapat upah, adalah sah.
Dan, jika Denny memolitisasi untuk
menguatkan dirinya sebagai tokoh sastra paling berpengaruh, itu cara-cara
politikus: artinya menghalalkan segara cara. Bahkan, dia meniadakan niat baik
ketika mencetuskan hendak mengundang 23 sastrawan Indonesia menulis puisi esai.
Akangkah elok sekiranya Denny tidak
menjadikan para sastrawan yang diminta menulis puisi esai, sebagai tangga ia
memetik bintang-gemintang. Tetapi, seorang yang kaya ingin menghidupi sastra
Indonesia; seperti pernah dilakukan Jeihan yang tetap sebagai pelukis ketimbang
minta diakui sebagai penyair.
Saya tak akan mencabut apa yang sudah
saya tulis dan serahkan kepada Fatin Hamama—pengiriman puisi saya ini pun
tertuju ke email Fatin Hamama—betapapun ia “pesanan” dari Denny J.A. Ada yang
hendak saya sampaikan: diskriminasi atas masyarakat Moro-Moro di Kabupaten
Mesuji.
Janganlah kita “membabi-buta” menolak
ketokohan Denny J.A. sekaligus menolak buku 33
TSIPB
karena dinilai cacat dari berbagai disiplin ilmu; tidak ilmiah,
pembodohan, dan seterusnya. Lalu mengaitkan ke-23 sastrawan yang diminta
menulis puisi esai bagian dari mendukung ketokohan Denny.
Jangan sampai kita terlalu ngoyo bersuara sampai kalap (“membabi-buta”)
dengan mengait-kaitkan seluruh komponen yang kira-kira menjurus ke Denny, dicap
bahwa kami memang tengah mengidam-idamkan sebagai tokoh sastra paling
berpengaruh juga. Artinya, fokus pada satu musabab, lalu bersma-sama
diperjuangkan.
Saat jumpa dengan Jamal D. Rahman dan
Joni Ariadinata di Rumah Puisi Taufiq Ismail dalam rangka mendeklarasikan Hari
Sastra Indonesia, ataupun bertemu Jamal D. Rahman dan Agus Sarjono di Pekanbaru
sekaitan pendeklarasian Hari Puisi dan Pertemuan Sastrawan Nusantara, tak ada
mereka menyinggung-nyinggung soal buku 33
TSIPB
.
Andaikan saya bisa meramal—sayangnya
saya amat tak percaya dengan perbuatan musyrik ini—bahwa akan terbit 33 TSIPB  lalu akan dikait-mengaitkan 23 sastrawan
penulis puisi-esai pesanan, tentu akan saya tolak. Biarpun saya dan keluarga
“kelaparan” sekalipun.
*Isbedy
Stiawan ZS, sastrawan Lampung