Beranda Views Opini Tentang Keberpihakan, Identitas, Minoritas, dan Mayoritas

Tentang Keberpihakan, Identitas, Minoritas, dan Mayoritas

473
BERBAGI

Oleh Linda Christanty*

Ada sebuah kutipan menarik dari Dan Brown, penulis novel detektif itu, dalam novelnya “Inferno”. Katanya, dalam suatu konflik, siapa pun yang tidak memihak keadilan, kebenaran dan kemanusiaan adalah mereka yang layak menjadi penghuni kerak neraka paling dalam. Hal itu pula yang kita semua lakukan ketika kita memihak Jokowi dalam Pemilu lalu. Ketika itu kita berpihak kepada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan untuk menghindari kerak neraka paling dalam.

Mempraktikkan sikap itu tidak mudah, sehingga kita semua yang melakukannya adalah orang-orang terpilih dalam sejarah. Untuk mempraktikkan sikap semacam itu diperlukan kecerdasan berpikir, pengetahuan, wawasan, pandangan yang jernih, kritis, konsistensi dan keberanian mengikuti hati nurani.
Sejumlah orang menjadikan “minoritas” sebagai alasan keberpihakannya dalam sebuah konflik. Sejumlah orang menjadikan “marginalitas” sebagai alasan keberpihakan dalam sebuah konflik. Menjadikan “minoritas” dan “marginalitas” sebagai alasan keberpihakan dalam sebuah konflik pada akhirnya akan membuat kita kecewa. Mengapa?

Islam dulu adalah agama minoritas. Tetapi di masa Dinasti Umayyah berjaya, ia menjadi mayoritas dan menindas. Kristen di masa Romawi adalah minoritas, tetapi ketika menjadi mayoritas ia menindas lalu mencipta perang agama 100 tahun dan perang agama 30 tahun di Eropa. Protestan dulu minoritas, ketika membesar dan mayoritas, ia menjelma dalam politik sebuah negara seperti Amerika Serikat dan mengeksploitasi Amerika Latin yang Katolik.

Di masa kolonial Hindia Belanda, bangsa Jawa adalah bangsa yang minoritas dalam kekuasaan kolonial. Bangsa Jawa adalah bangsa yang paling menderita di masa itu, bukan bangsa Aceh. Mereka dieksploitasi sebagai budak dan kuli paksa, sehingga merasakan sakit dan pedih yang luar biasa akibat penjajahan. Sebab pusat kekuasaan kolonial ada di Pulau Jawa.

Fakta sejarah tersebut sampai menginspirasi Soekarno, pejuang kemerdekaan dan presiden pertama Indonesia, mengeluarkan pernyataan yang diperluas isu dan konteksnya menjadi “bangsa Indonesia adalah bangsa kuli, yaitu kuli di antara bangsa-bangsa”. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Bangsa Jawa menjadi mayoritas dan mendominasi pemerintahan Indonesia, sehingga menjadi penindas baru di negara Indonesia modern. Praktiknya berlangsung di Aceh dan di wilayah-wilayah luar Jawa. Politik Jawanisasi ala Suharto, presiden kedua Indonesia, menebarkan momok yang disebut “kolonialisme Jawa” dan menjadikan sila ketiga dari Pancasila kadang-kadang terdengar sebagai “persatean Indonesia”.

Dulu bangsa Amerika harus berperang melawan Perancis, Inggris dan Spanyol untuk menguasai bagian utara benua itu. Penindasan membuat mereka yang minoritas ini bersatu dalam sebuah identitas, bernama bangsa Amerika. Hal itu diuji lagi ketika perang budak terjadi. Pihak yang membela pembebasan budak kemudian mengusung nilai-nilai kebebasan, persamaan dan persaudaraan sebagai identitas mereka.

Kini Amerika Serikat menyebarkan identitas barunya ke seluruh dunia, yaitu “demokrasi”, yang mencipta hegemoni dalam wujud yang lebih modern, yakni neoimperialisme pemikiran, neoimperialisme budaya dan neoimperialisme ekonomi (apa yang dulu telah diperingatkan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, dalam istilah “nekolim”). Praktik hegemoni negara adikuasa ini begitu nyata di hadapan kita, yakni mengontrol sumber-sumber daya alam dan membiarkan konflik berlarut-larut di berbagai negara, terutama di negara-negara Timur Tengah yang kini menjadi pusat minyak dan karenanya, menjadi pusat dunia.

Dulu Cina pernah dijajah Dinasti Yuan dari Mongol dan menjadi minoritas dalam kekuasaan, menderita, merasakan sakit pedihnya penindasan tanpa batas. Tetapi ketika Cina di masa Dinasti Ming menjadi sebuah negara yang kuat, Majapahit dipaksa memberi upeti. Cina mengirim kapal perangnya ke negeri yang tak mau takluk. Perubahan kekuasaan dalam sejarah terjadi lagi ketika Cina kemudian dijajah bangsa Manchu, lalu akhirnya menjadi negara Cina modern dan mandiri berkat Sun Yat Sen. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Negara Cina mematok Laut Cina Selatan, dengan mendirikan bangunan baja yang tersebar di Laut Cina Selatan sebagai penanda itu wilayahnya dan menakutkan negara-negara di sekitarnya.

Di Rusia masa lalu, kaum Bolshevik menjadi minoritas dan dikejar-kejar seperti tikus untuk ditumpas. Tetapi setelah kemenangannya, negara Uni Soviet pun berdiri. Pemerintah Soviet mendominasi seluruh Eropa Timur, Asia Timur dan Asia Tengah. Dominasi tersebut baru berakhir ketika Uni Soviet runtuh. Padahal dulu gerakan kaum Bolshevik adalah gerakan wong cilik, gerakan kaum proletar, gerakan buruh, sampai akhirnya menguasai dunia. Namun ketika ia berkuasa, untuk pertama kalinya pula kita mengenal kosa kata dunia yang menyeramkan itu, “gulag archipelago”.

Dulu bangsa Yahudi menjadi minoritas yang tertindas dan diburu untuk dimusnahkan seperti hama wereng di sawah-sawah Pulau Jawa. Puncaknya, di masa NAZI Hitler. Kamp-kamp konsentrasi berdiri. NAZI menghantui seluruh Eropa dengan kekejamannya dan korban utamanya adalah bangsa Yahudi. Sampai hari ini bahkan museum-museum Yahudi yang tersebar di Eropa masih berjaga dari tindakan penyerangan oleh kelompok-kelompok neofasis. Tetapi apa yang terjadi sesudah Perang Dunia II berakhir dan negara Israel berdiri pada 14 Mei 1948?

Pemerintahannya menindas seluruh Timur Tengah. Negara Palestina dicaploknya. Tiga wilayah Palestina merdeka, yakni Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur dirampasnya tanpa menghiraukan Resolusi Dewan Keamanan PBB pada tahun 1967, yang isinya menuntut negara Israel mengembalikan tiga wilayah itu kepada negara Palestina. Dari yang ditindas, menjadi penindas. Namun, perlakuan istimewa tetap didapatkan oleh negara Israel yang kerapkali berlindung dengan memproklamasikan masa lalunya sebagai minoritas itu dan meminta seluruh dunia memaklumi kebrutalannya sebagai bekas minoritas.

Di Indonesia hari ini, pejabat sementara gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memanfaatkan posisinya sebagai minoritas juga untuk menjalankan kepentingan dirinya. Ia menyatakan semua orang yang mengkritik tindakannya sebagai pemimpin Jakarta adalah para pengusung rasisme. Tetapi di lain pihak, ia juga dengan bangga memproklamasikan dirinya sebagai preman.

Dulu Ali Sadikin, seorang letnan jenderal marinir yang menjadi gubernur Jakarta, juga seorang yang keras, tetapi tidak pernah bertindak brutal dan berkata-kata brutal. Ia bertindak tegas untuk kepentingan rakyat di Jakarta untuk menindak tiap penyelewengan dalam pemerintahannya tanpa ampun.

Ali Sadikin tidak bertindak membabi-buta, melainkan berdasarkan bukti, pemikiran, dan keputusan yang diperhitungkan dampaknya. Ahok kebalikannya. Ia bertindak kasar, merendahkan siapa pun justru untuk membangun posisi tawar yang tidak adil bagi kita. Ia mencipta kekacauan agar mendapat pembenaran dengan menyatakan dirinya minoritas. Ia berkali-kali meminta negara melindungi dirinya secara habis-habisan sebagai minoritas.

Mari kita tinggalkan kata “minoritas” ini untuk menjadi alasan keberpihakan kita dalam sebuah konflik. Sebab, kata ini dapat diselewengkan demi keuntungan dan motif politik tertentu. Bagaimanapun Ahok adalah seorang politikus, bukan penjual ikan yang buta huruf dari provinsi Bangka-Belitung, tempat asal saya itu. Tirani minoritas sama berbahayanya dengan diktator mayoritas.

Kata-kata yang dikeluarkan Ahok sama sekali tidak mencerminkan kata-kata seorang pemimpin. Kita tidak memerlukan seorang preman sama sekali untuk menjadi pemimpin kita. Tidak sama sekali.

Sekarang kita bertanya kepada Ahok apakah kakeknya pernah menjadi korban untuk mendirikan republik ini, ditangkap Belanda atau disiksa atau dibuang atau dihukum mati demi negeri ini? Tanya pada Ahok. Kalau pernah, tanyakan siapa nama kakeknya dan apa peristiwanya, sehingga ia ingin lebih istimewa dibandingkan kita semua. Mungkin sudah banyak orang kesal terhadap Ahok dan saya yakin bahwa kekesalan mereka bukan karena suku atau asal usul Ahok, melainkan karena tindakannya dan ucapannya sendiri ketika menjadi pemimpin Jakarta sekarang ini.
Peristiwa-peristiwa dalam sejarah dunia dan di sekeliling kita memperjelas bahwa keberpihakan kita harus bersandar kepada akal sehat, hati nurani, nilai-nilai kemanusiaan, pengetahuan, wawasan, sikap kritis, keberanian dan prinsip-prinsip keadilan yang menyelesaikan persoalan hidup manusia dengan cara bermartabat.***

* Linda Christanty adalah seorang jurnalis, cerpenis, dan esais. Tulisan ini berasal dari  catatan Linda

Loading...