Beranda Teras Berita Tentang Shalat Tarawih Kilat dan Thuma’ninah (2)

Tentang Shalat Tarawih Kilat dan Thuma’ninah (2)

201
BERBAGI
Oleh Ali Farkhan Tsani*
 
Syaikh ‘Athiyyah Salim  berkata: “Kami menyeru sebagian orang yang kami lihat mereka ruku’ namun tidak thuma’ninah dalam ruku’-nya. Sehingga kami melihat salah seorang di antara mereka seolah-olah sedang membuang (melemparkan) sesuatu dari punggungnya. Demikian juga dalam duduk di antara dua sujud. Ada di antara mereka yang mengatakan:”Madzhab kami adalah bahwa ia (thuma’ninah) adalah rukun yang ringan”.
Maka kami katakan: “Di dalam rukun-rukun shalat tidak ada rukun yang ringan dan berat. Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ruku’ dengan thuma’ninah, dan mengangkat kepala dari ruku’ sampai tenang (mapan) dan masing-masing ruas tulang belakang kembali ke posisinya, dan setiap tulang kembali ke tempatnya. Dan gerakan yang cepat bukanlah gerakan thuma’ninah.”
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin  berkata: “Maka yang tidak thuma’ninah dalam ruku’ dan dalam rukun-rukun yang lainnya, maka shalatnya batal (tidak sah), karena ia meninggalkan salah satu rukun shalat.”
Fatwa Ulama 
Terkait shalat tarawih super cepat di pondok pesantren Mamba’ul Hikam Blitar, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. Hasanudin AF,M.A., mengatakan, shalat tersebut menunjukkan tidak memenuhi rukun dalam shalat, yaitu thuma’ninah.
“Thuma’ninah itu rukun dalam shalat, jika di dalam shalat tarawih tersebut tidak terdapat rukun thuma’ninah, berarti shalatnya tidak sah,” kata Prof. Hasanudin.
Ia juga menambahkan, dalam membacakan surat al-Fatihah dan surat pendek lainnya di dalam shalat juga wajib dibacakan dengan tartil, dengan tajwid, panjang pendek bacaan harus benar.
Terkait dengan menyingkat bacaan saat ruku’, sujud, dan lainnya, menurut Hasanudin itu termasuk sunnah shalat. Sementara, perbuatan ruku’, sujud, duduk tahiyatnya, berdirinya (i’tidal) dan lain sebagainya itu termasuk rukun shalat yang wajib dikerjakan.
“Rukun shalat itulah yang harus dilaksanakan, bagaimana
ruku’nya, sujudnya, duduk tahiyatnya dan berdirinya. Kalau bacaan dalam ruku’, sujud dan seterusnya itu termasuk sunnah shalat. Jadi tidak membaca doa sekalipun ketika ruku’ dan sujud, tetap sah shalatnya. sebab yang harus dikerjakan adalah rukun shalat seperti perbuatan ruku’, sujud dan seterusnya itu,” ujar Hasanudin.
Pencuri dalam Shalat
Orang yang melaksanakan ibadah shalat namun  tidak thuma’ninah, disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  sebagai pencuri yang paling buruk.
Dalam hadits Musnad Imam Ahmad dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa Nabi bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ
صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟
قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.
Artinya: “Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-lbani dalam Shahihul Jami’).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganggap perbuatan mencuri dalam shalat tersebut lebih buruk dan lebih parah daripada mencuri harta. Kalua mencuri harta adalah milik orang lain, sementara ini mencuri ibadah yang sedang ditunaikan langsung kepada Allah. Dalam hadits lain pun digambarkan, betapa shalat mereka seperti ayam mematuk sebab begitu cepatnya, duduknya tidak sempurna seperti duduknya anjing, dan menoleh-noleh seperti binatang rusa.
Seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan:

ونَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ، وإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الكَلْبِ، والْتِفَاتٍ
كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ

Artinya: “Beliau (Nabi) melarangku sujud dengan cepat seperti ayam mematuk, duduk seperti duduknya anjing, dan menoleh-noleh seperti rusa”. (HR Ahmad, dan dihasankan oleh Syaikh Al- Albani dalam Shahih at-Targhib).
Penutup
Perintah mengikuti Nabi dalam melaksanakan setiap gerakan dan bacaan shalat, disebutkan di dalam hadits:

صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Artinya: “Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat.” (HR
Bukhari dari sahabat Malik bin Huwairits rahiallahu ‘anhu).
Marilah kita menggapai keuntungan dengan shalat yang thuma’ninah, sehingga diperoleh kekhusyu’an di dalamnya. Janganlah kita melalaikannya.
Beberapa ayat Allah memperingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS Al Mukminun [23]: 1-2).

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS Al Ma’un: 4-5).
Imam Ibnu Katsir mengatakan ketika menafsirkan ayat
tersebut, “(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”, Yaitu lalai dari waktu-waktu awalnya, dia selalu mengakhirkan dari waktunya. Atau dia lalai menyempurnakan rukun dan syaratnya
sesuai yang diperintahkan. Atau dia lalai untuk khusyu’ dan lalai memahami bacaan shalatnya.
Maka kata lalai ini mencakup hal tersebut. Setiap orang yang memiliki sebagian sifat lalai tersebut, maka dia punya bagian dari penyebutan ayat ini. Terlebih lagi orang yang benar-benar memiliki semua sifat tersebut dalam shalatnya, maka dia adalah orang yang benar-benar lalai bahkan munafik  dalam amalannya (Tafsir Ibnu Katsir).
Apalagi ini menyangkut amaliyah utama pada bulan suci Ramadhan. Jangan sampai menjadi sia-sia tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lelah. Sebagaimana peringatan baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ
إِلاَّ السَّهَرُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang shalat, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lelah. (HR. Ibnu Majah, menurut Syaikh Al-Albani hasan shahih).
Akhirnya, menjadi kewajiban setiap Muslim untuk menjaga thuma’ninah sesempurna mungkin di dalam shalatnya. Seorang Muslim wajib menyempurnakan ruku’ nya, i’tidalnya, sujudnya dan ketika duduk di antara dua sujud. Dia kerjakan hal tersebut dalam semua gerakan shalatnya, mencontoh yang telah dipraktikkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan mengikuti adat turun-temurun.
Sebab ini ibadah utama, yang sudah ada ketentuan syari’atnya, shalat menghadap Allah, bukan pada kecepatannya, tapi pada
kekhusyu’annya, tenang dan penuh tawadhu. Selanjutnya, juga menjadi kewajiban kita sesama Muslim untuk saling memberikan nasihat, mengingatkan, mendakwahkan dan mengajak serta menyeru ke jalan Islam yang telah Allah tetapkan dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam contohkan,  tentu tetap dengan hikmah, kasih sayang dan penjelasan yang terang.
Semoga Allah memberi petunjuk-Nya kepada kita dan saudara-saudara kita untuk beramal dengan berpegang teguh pada Al-Quran yang telah Allah turunkan dan pada sunnah yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Aamiin. ***

* Da’i Ponpes Al-Fatah Cileungsi Bogor dan Natar (Lampung Selatan). Tulisan ini juga dimuat di mirajnews.com, media online yang dikelola Ustad Ali Farkhan Tsani