Beranda News Budaya Teori Sastra – Lima Pokok Pengetahuan dalam Puisi

Teori Sastra – Lima Pokok Pengetahuan dalam Puisi

156
BERBAGI
Oleh Hudan Hidayat

DEMOKRASI TERPAKSA: Sudut-sudut demokrasi, saat “aku pusat” membagi dirinya, walau dikononkan seolah atom, yang tak terbagi, mengabarkan wajah lain dari cita-rasa tentang kata merdeka. Individu selalu, membagikan diri lewat kehadiran bagian-bagiannya. Ia memusat pada (aku) kesadaran. Tapi ada waktu pemusatan itu menyerah kepada keniscayaan : tubuh berbagi dengan anggota tubuh, sehingga aku pusat menjadi aku pecahan, misalnya tangan kanan berbagi dengan tangan kiri.

 

Sebuah prinsip dengan begitu telah menjadi telah tercipta, menjadi ikutan dari setiap ada, yang terikat dengan prinsip itu. Saat aku kesadaran, tubuh fakta, kini memcah menjadi aku bahasa, tubuh fiksi, dan seperti tubuh fakta tubuh fiksi pun diikat oleh prinsip yang sama, adalah berbagi, tubuh yang terbagi. sebab aku itu tidak bisa eksis sendirian, tanpa yang lain. inilah keadaan kita di bawah, sedang yang terjadi di atas, begini juga. atas yang menciptakan itu juga.

 

Hal yang sama terjadi pada tubuh induk adalah yang transendental. aku sejati ini juga membagi-bagikan dirinya. bila ia kita andaikan negara, maka aku sejati itu membagi-bagikan hartanya pada warganya. ia berbagi kesejahteraan. tapi ia juga berbagi kemiskinan, berbagi kesedihan. atau, dalam puisi, aku tak kuasa eksis tanpa “yang lain”. Yang Transendental juga, “Aku Sejati” yang membagi-bagikan diriNya. Seolah-olah “aku kesadaran” itu, Negara, membagi-bagikan harta pada warganya. Seorang penyair dari Eropa mendapatkan bagiannya. Ia mengambil kehidupan yang bergerak ke arah kematian, keindahan ke kepunahan.

 

“She dwells with Beauty- Beauty that must die”, kata Keats di awal bait ketiga, dalam Ode on Melancholy.

 

Seakan aku yang mengalami kerinduan, utopia, saat ia, walau telah menjadi realitas yang terbagi, berkukuh mengambil sebanyak mungkin ruang bagi dirinya sendiri. Ia sadar, dirinya makhluk yang terbagi, tapi ia bergerak terus ke arah aku yang, dianggapnya, unik karena ia adalah dirinya sendiri, tanpa kehadiran “yang lain” – dibayangkannya. Sebenarnya tidak ada yang aneh saat kita melihat Ia, pun “membagi” diriNya melalui identitas dari sifatNya, yang kelak menjadi sifat dari “ada” – juga “ada bahasa”: puisi.

 

Ia membagikan diriNya lewat pecahan “Aku-Awal; Aku-Akhir; Aku-zhahir; Aku-Batin”; serta, Ia yang paling “Tahu”. Kini kita mendapat prinsip penciptaan, mungkin yang paling fundamental, bahwa ada “yang membagi” tapi sekaligus ada yang “mengambil kembali”. Aku yang membayangkan dirinya “aku yang tunggal”, yang tak terbagi atau tak mau berbagi. Salah satu puncak dari pembayangan adalah pernyataan yang disebutkan Jassin, bahwa ada bom di kesusastraan kita, dialah Chairil Anwar yang berkata: “Aku ini binatang jalang”; “aku berlari dari kumpulanku”‘; “aku ini terbuang”.

 

Begitulah aku itu menjadi individualistik, tak ingin berbagi. Aku sosial yang baru: mereka yang telah meninggalkan tanah agrarisnya, bergerak ke kota.

 

Inilah dunia bagian dari paradoks sebagai tenaga jiwa. Dunia yang bertolak-tolakan, di satu arti ia inginkan pergi ke dirinya sendiri. Di arti yang lain, kebutuhan fisik jiwa serta batin, mengandaikan ia makhluk niscaya untuk berbagi, seraya makhluk yang bergerak ke arah dirinya sendir. Dan, itulah paradoks itu, suatu tenaga kontradiktif di dalam jiwa, menarik diri ke arahnya sendiri. Suatu penarikan diri yang tak penuh-utuh oleh kehakikatan itu, bahwa ada adalah ada paradoksal; Sisanya, terpulang kepada gunanya belaka.

 

Keadaan “pecahan” yang telah kita bahasakan dalam “kata yang terus-menerus membiakkan dirinya”, dalam esai “menerima sampiran” dalam serial publikasi Jurnal ini, itulah muara pemaknaan dari setiap kata yang memecah dirinya ke mana-mana, ke terminologi yang ia uraikan sendiri demi pandangannya pada objeknya. Seperti kini, kita membawa masuk “demokrasi” sebagai pengertian yang boleh, kita lawankan dengan, “otoriter”, dan, akhirnya, diktator – keadaan yang jauh dari demokratis. Bahwa ciptaan yang kini di bawah kendali kata “pecahan”, menemui wataknya dalam laku yang terminologis.

 

Apakah hubungannya dengan keindahan serta kemaknaan? Adakah kelak ia menjadi suatu cara membaca keindahan dalam bahasa, khususnya keindahan puisi, dari kehendak aku penyair yang kini telah berbagi menjadi aku lirik, dan aku lirik yang terus berbiak dengan jalan membuat pecahannya: dihidupkannya “aku yang lain” semisal “aku benda”, “aku suasana”.

 

Aku itu “memalsukan dirinya”, kata seorang esais yang penyair, seraya “menyentuh” tradisi (bentuk) penciptaan sastra dunia, tanpa ia sadari muasal bentuk itu, terbaginya pengucapan alam lewat isinya, yang wujud ke dalam tiap dominasi – suara induk ke bagiannya. Ada yang menghindar sembunyi, dalam hukum-hukumnya dan itulah dunia: ia membagikan bentuk fisiknya tapi tidak bentuk batin dalamnya, yang mesti kita cari; ada yang berbagi peran mencari bentuk dari tiap batinnya benda.

 

Ada makna yang hendak diraih dari tiap bentuk-bentuk dunia yang menampakkan dirinya, suatu orientasi yang hendak ditangkap penyair demi bentuknya, yang kini bukan, mula-mula, mengikuti bentuk-bentuk dari segenap bahasa tapi, adalah kecenderungan dari pembagian di dalam, yang kini wujud sebagai bentuk barunya – “permainan”. Permainan dalam bahasa adalah sebuah misteri pertanyaan dari, “tangan siapa yang membuat ranjang ini di awal mulanya”.

 

Ranjang itu telah ada, tapi cetak biru dari dunia bentuk ranjang, yang kelak dimimesis penyair, datang darimanakah? Ada bentuk di luar tapi ia bukan ranjang (ranjangnya belum ada, karena kita tidak tahu siapa pembuatnya di awalnya), ada bentuk di dalam tapi kita belum tahu oleh ia batin (masih dalam bayangan jiwa penyair). Jadi ranjang itu darimana? Mungkinkah ia ranjang yang jatuh dari langit? Kita tak pernah tahu sampai kitab-kitab suci itu membawa warta tentangnya.

 

Membelah

Perasaan haru saat melihat setiap ada adalah “aku dalam dirinya sendiri”, kini menyelinap, membawa kita ke aku subjek dan objek yang bermain. Kadang menjadi subjek, saat diri di sini. Kadang saat diri di sana, kita menjadi objek dan orang lain menjadi subjek. Betapa samanya kita dalam hidup ini, sebuah titik, bila kita pandangi dari atas, tampak bergerak kian ke mari dalam bentuk-bentuknya, campur aduk tak menentu.

 

Bentuk-bentuk yang wujud pada manusia, bahasa, hewan, tumbuhan serta dunia batin dari setiap ihwal-ihwal yang mungkin. Akan ke manakah semua titik-titik itu? Kadang kita tak tahu jawabnya walau ia adalah hidup kita sendiri. Mestinya kita tahu, tapi kenyataannya segalanya berdasarkan dugaan satu ke yang lain. Akhirnya, kita tidak tahu, atau separuh tahu – akhirnya kita tidak tahu.

 

Kita ingat arah tulisan ini, bahwa sebelum tidur diri hendak mengetikkan tentang “Burung Darwin”, terbang dari benua ke benua, burung objek penelitian sang ilmuwan, tapi ia menjadi subjek pembawa biji-bijian di paruhnya. Biji-bijian itulah objeknya sedang burung adalah subjeknya. Padahal baru saja burung itu menjadi objek manusia. Lagi pula posisi itu tidak lama: sebentar lagi biji-bijian di paruh burung, objek itu, akan menjadi subjek saat ia menjadi tumbuhan yang hidup, menghidupi yang diinginkannya. Betapa manusia menjadi objek dari makanan yang adalah subjek karena ia yang menentukan, bukan kita yang lebih kuasa menghidupkan – tumbuh-tumbuhan itu.

 

Kita mungkin berpikir darimana sumber rasa haru. Apa jawabnya? Tiap sesuatu mesti ada asalnya, juga rasa haru. Darimana awalasal keharuan? Mengapa ia haru, mengapa mesti ada bentuk-bentuknya. Mesti ada penyebabnya. Rasanya segalanya membelah diri, dengan jawab yang mungkin kita tahu, mungkin juga tidak tahu. Mungkin kita tahu dengan pasti mungkin hanyalah dugaan-dugaan yang rebak di hati.

 

Juga bahasa, membelah diri, ke arah-arahnya seperti tiap ada ini, ada penyair yang membelah diri jadi aku-lirik (aku-pengujar), kata sebuah tulisan. Mungkin karena telah membaca buku yang nakal dengan bahasanya, tulisan itu, mencari-cari cara melunakkan tiap ucapan. Buku yang membawakan “aih”, atau “idih”. Diri seakan kera, melompat-lompati “struktur dalam bahasa”.

 

Sampai di tepian dari jawab yang paling musykil itu, bahwa Pencipta rupanya begitu “kesepian” sehingga ia membelah diriNya, lewat gerak Awal (kelak ke Akhir), memulai setiap ada ciptaanNya dan ada ciptaanNya inilah yang mulai, karena genetik, mengikuti Tuannya seperti Tagore yang bergerak senyap sepi memanggil-manggil TuanNya dalam Gitanjali. Maka sampailah kita ke perasaan haru itu tadi, dalam wajah gandanya berayun-ayun, haru atas diri sendiri yang begitu titik di dalam dunia ini, haru melihat sang Pencipta lewat bentukan perasaan apa saja kita memaknainya, bahwa kesepian itu, akhirnya membawa berkah, adalah kehadiran tiap adaNya dari gerak Awal.

Loading...