Beranda Hukum Terduga Bandar Narkoba dan Begal Ditembak Mati, Germala Tuntut Kapolda Lampung Dipecat

Terduga Bandar Narkoba dan Begal Ditembak Mati, Germala Tuntut Kapolda Lampung Dipecat

519
BERBAGI
Unjuk rasa Gerpala menuntut Kapolda Lampung dicopot terkait penembakan lima terduga begal dan tiga terduga bandar narkoba,

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Ratusan orang yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Masyarakat Lampung (Germala) menuntut agar Kapolda Lampung dan Direktur Reserse Narkoba Polda Lampung dicopot dari jabatannya karena anak buahnya menembak mati tiga terduga bandar narkoba dan lima terduga begal, beberapa waktu lalu. Tuntutan itu disampaikan Germala saat berunjukrasa di depan Mapolda Lampung, Selasa (16/5/2017) siang.

Dalam orasinya, salah satu pengunjuk rasa meminta Polda Lampung agar membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) terkait kasus tembak mati.

Pendemo juga meminta agar oknum polisi pelaku penembakan tersebut, segera diproses hukum dan dihukum sesuai dengan aturan hukum pidana karena telah menewaskan ketiga terduga narkoba dan lima pelajar terduga begal yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Copot Kapolda Lampung dan Dirtur Reserse Narkoba” teriak salah satu anggota  Germala saat melakukan orasinya.

Para pengunjuk rasa berusaha agar  Kapolda Lampung Irjen Pol Sudjarno mau menemui mereka. Namun, keinginan para pendemo tersebut tidak terwujud, para pejabat utama Polda Lampung tidak ada satu pun yang mau menemui massa pendemo.

Salah satu perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Lampung, dalam orasinya menyampaikan sangat menyayangkan tindakan arogan dan kesewenang-wenangan anggota polisi Polda Lampung, yang telah melakukan tindakan tembak mati terhadap ketiga orang terduga narkoba dan juga lima pelajar terduga begal asal Jabung, Lampung Timur.

“Kalau memang benar-benar mau memberantas narkoba, berani tidak seluruh anggota polisi Polda Lampung melakukan tes urine, darah dan rambut,”teriaknya yang diamini oleh massa pendemo.

Dikatakannya, yang membuat negara Indonesia ini merdeka karena peran pemuda dan mahasiswa.

“Jadi jangan nodai pemuda dan mahasiswa, karena salah satu terduga narkoba yang ditembak mati adalah mahasiswa calon generasi penerus bangsa. Polisi terlalu mengada-ada dan salah dalam penanganan proses hukum. Yang menentukan mereka (terduga) bersalah, apalagi dengan vonis tembak mati bukannya kalian (polisi). Tapi harus melalui proses hukum yang jelas, jangan membuat cerita bohong ke publik,”ucapnya lagi dalam orasinya.

“Jika perlu, tidak hanya narkoba saja yang ditembak mati. Buktikan juga jika kepolisian berani, para koruptor harus ditembak mati. Tapi sepertinya, semua itu tidaklah mungkin. Hukum ini benar-benar tumpul keatas, dan hanya tajam kebawahnya saja,”tegasnya.

Sementara itu, Resmen Khadafi, salah satu kerabat terduga bandar narkoba tewas ditembak petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung , Rido Aures, mengatakan aksi unjuk rasa ini, merupakan bentuk tuntutan atas apa yang terjadi terhadap kerabatnya dan dua tersangka terduga narkoba lainnya yang tewas ditembak anggota polisi Polda Lampung.

“Kerabat kami Rido dibawa petugas dalam keadaan hidup. Tapi begitu dibawa pulang sudah dalam keadaan mati dengan beberapa luka tembak,”ungkapnya di depan Mapolda Lampung, Selasa (15/5/2017).

Menurutnya, apa yang disampaikan Kapolda Lampung tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan saat proses penangkapan, pihaknya punya saksi mata yang mengetahui kejadian tersebut.

“Kami tidak terima dengan tewasnya keponakan kami Rido, Kapolda harus bertanggungjawab karena keponakan kami tidak bisa hidup lagi,”ucapnya.

Ditegaskannya, pihaknya juga akan meminta Kapolri untuk menindaklanjuti dan memecat Kapolda Lampung, Direktur Reserse Narkoba, dan oknum polisi pelaku penembakan dihukum karena telah melakukan tindakan yang tidak sesuai Protap Kapolri. Selain ke Kapolri, pihaknya juga akan meminta agar Kompolnas, Komnas HAM, Komisi III DPR RI agar menindaklanjuti dan mengevaluasi kinerja Polda Lampung dan jajarannya.

“Rencananya, kasus ini akan segera kami laporkan pada Kamis (18/5/2017) depan ke Mabes Polri, Komnas HAM, Kompolnas, Komisi III DPR RI dan juga ke Presiden,”tegasnya.

Diketahui, petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung menembak mati tiga terduga bandar narkoba jaringan Aceh, Selasa siang (9/5/2017) lalu di Jalan Durian 16, Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan.

Kapolda Lampung mengaku polisi melakukan tindakan tegas karena saat tiga akan ditangkap tiga terduga bandar narkoba melakukan perlawanan dengan menembaki anggota polisi. Dari ketiga terduga bandar narkoba yang ditembak mati tersebut, dua di antaranya adalah mahasiswa.

Ketiga terduga bandar narkoba yang ditembak mati tersebut adalah Paisal (26), mahasiswa Unila warga Jalan Pulau Damar, Gang Kamboja, Kelurahan Waydadi, Sukarame; Rido Aures (24) mahasiswa UBL dan Afrizal alias Vijal (30), keduanya warga Jalan Sultan Haji, Gang Cempedak, Kelurahan Sepajang Jaya, Kedaton.

Dari penangkapan ketiganya, petugas menyita barang bukti narkoba jenis ganja sebanyak 170 paket seberat 170 Kg, sabu-sabu seberat 600 gram, tiga pucuk senjata api rakitan jenis revolver beseta beberapa butir peluru aktif dan selongsong peluru, satu buah timbangan digital, empat unit ponsel dan beberapa pack plastik klip.

Sebelumnya, Tim khusus anti bandit (Tekab) 308 Polresta Bandarlampung, menembak mati lima pelajar tersangka terduga begal asal Jabung, Lampung Timur, pada Sabtu dinihari (1/4/2017) lalu. Kelima terduga begal yang ditembak mati tersebut, kata Kapolresta Bandarlampung Kombes Murbani Budi Pitono,  melakukan perlawanan aktif saat dilakukan penangkapan.

Kasus penembakan mati terduga begal sempat menjadi trending topik di media sosial dan menuai protes seiring dengan beredarnya swafoto para anggota Tekab 308 Polresta Bandarlampung di depan mayatlima terduga begal. Para polisi itu dalam posisi berdiri sambil mengepalkan tangan, sedangkan lima mayat terduga begal terlihat bergelatan di lantai.

 

Loading...