Beranda News Kesehatan “Tergencet” Kebijakan BPJS, Warga Lamsel Penderita Sakit Jantung Ini tak Bisa Berobat

“Tergencet” Kebijakan BPJS, Warga Lamsel Penderita Sakit Jantung Ini tak Bisa Berobat

11907
BERBAGI
Sulis Setiongsih (28), penderita penyakit jantung sejak 15 tahun lalu. Kedua orang tuanya tak mampu membawanya ke rumah sakit atau ke dokter karena kondisi ekonominya yang makin parah. Ia membutuhkan uluran tangan para dermawan.

TERASLAMPUNG.COM — Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS) tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi keuangan peserta BPJS mandiri. Meskipun peserta BPJS miskin dan sudah sama sekali tidak bisa membayar iuran BPJS, peserta BPJS itu tetap harus melunasi tanggungan bulanan.

BACA: Alami Jantung Bocor Sejak Usia 13 Tahun, Warga Sukabanjar Lamsel Ini Butuh Uluran Tangan

Iuran yang tidak dibayar tiap bulan akan dianggap sebagai hutang. Kalau hutang itu tidak dibayar, maka peserta BPJS tidak akan bisa berobat ke rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS.

Nestapa itulah yang dialami oleh Sulis Setioningsih (28), putri ke tiga pasangan Sukatno (56) dan Pertiwi (55), warga Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Penderita sakit jantung itu kini hanya tergolek tanpa daya di atas kasus di salah satu rumahnya. Harta benda Sukatno sudah habis untuk mengobati putri kesayangannya yang sakit sejak 15 tahun lalu. Sulis menderita jantung bocor sejak ia berusia 13 tahun, ketika masih duduk di bangku SMP.

Akibat penyakit jantung bocor yang dideritanya ini, Sulis tidak bisa melanjutkan pendidikan sekolah SMP dan merelakan masa-masa remajanya hilang. Saat ini Sulis dan keluarganya hanya bisa berdoa dan berharap akan ada perhatian dari pemerintah dan uluran tangan dari para dermawan.

Pengobatannya terhenti sejak tahun 2018 karena BPJS mandiri yang dimilikinya sudah terhenti pembayarannya karena sudah tidak memiliki biaya lagi.

“Sudah tidak mampu lagi bayar BPJS, karena sama sekali sudah tidak punya uang dan semuanya sudah habis terjual demi pengobatan putri saya ini dan akhirnya sekarang ini semua pengobatannya terhenti. Pengobatannya, saat ini hanya melalui alternatif dengan harapan anak kami bisa sembuh, ” katanya.

Kedua orang tua Sulis  berharap ada uluran tangan dari para dermawan dan adanya perhatian dari pemerintah agar supaya bisa melanjutkan pengobatan putri ketiganya tersebut.

“Anak saya masih terus mengeluhkan sakit setiap harinya ditambah lagi. Sementara kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual untuk mengobati anak saya. Kalau pas lagi kumat sakit jantungnya, napasnya sesak dan sampai sekarang masih bergantung dengan  tabung oksigen. Saya berharap sekali, ada bantuan dari pemerintah maupun para dermawan yang peduli atas penyakit yang dialami putri saya ini,” katanya.

TIM

Loading...