“Terima Kasih”, Kata yang Kini Mulai Nyaris Hilang di Indonesia

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Kata “terima kasih” jika kita artikan dalam bahasa daerah di Indonesia akan menjadi deretan diksi yang berarti sama, yaitu ucapan syukur seseorang setelah menerima kebaikan dari orang lain. Secara leksikal, “terima kasih” (kata benda) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti rasa syukur. Berterima kasih (kata kerja) artinya mengucap syukur; membalas syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dan sebagainya.

Terima kasih dalam bahasa Batak menjadi  “mauliate”,  orang Minang menyebutnya “tarimo kasie”, di tempat lain seperti Sunatera Selatan menjadi “trimo kase”, “haturnuhun” (Sunda), “matur nuwun” (Jawa), “suksme” (Bali), dan masih banyak lagi. Bila kita telusuri masih banyak lagi, sebanyak bahasa tutur yang ada di Nusantara ini.

Mengapa kita perlu membincangkan “terima kasih”?  Pertama, karena kata atau diksi “terima kasih” itu berakar dari budaya lokal. Hal itu akan semakin panjang jika kita deretkan pada daerah lain di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kedua, karena diksi itu menjadi hal langka diucapkan oleh orang Indonesia pada akhir-akhir ini. Hal itu menunjukkan atau mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem sosial kita.

Tampaknya ucapan “terima kasih” saat ini sudah sangat mahal,  jika kita simak dalam kehidupan sehari hari. Baik itu dilakukan oleh orang kebanyakan maupun orang-orang terpandang, apalagi yang memiliki jabatan tertentu. Di ruang ruang publik sangat tampak bagaimana mahalnya ucapan itu diucapkan.

Terkadang kita iri dengan negara negara luar sana; ambil contoh Jepang yang warganya begitu santun dengan membungkukkan badan salam berucap “arigatou” kepada siapapun Anda. Padahal, secara teknologi negara itu memiliki kemampuan lebih di atas rata-rata negara lain di dunia ini.

Bagaimana di negara negara adidaya ucapan “terima kasih” kepada siapapun kita yang sedang berhadapan dengan apapun urusan kita kepada mereka. Dengan sangat ringan dan santun bahkan hormat tidak berlebihan, diksi itu meluncur dari mulut mereka secara otomatis dan ikhlas. Hal ini rasanya berbanding terbalik dengan yang ada di negeri ini, padahal terkenal dengan adat sopan santunnya.

Budaya aristrokratis-strukturalis yang bercirikan ucapan terima kasih hanya layak diucapkan oleh lapisan bawak ke atas. Berbenturan secara bersamaan berkembangnya budaya egaliter yang bercirikan menyejajarkan orang; disalahmaknai oleh kita bahwa karena itu semua tidak ada kewajiban mengucapkan atau mengungkapkan keberterimaan dengan pihak lain.

Aplikasi di lapangan mereka yang merasa lebih tua, lebih senior, atau secara sosial ada pada lapisan atas, menganggap tidak perlu berterimakasih kepada pihak lain yang status sosialnya ada di bawah atau lebih rendah. Sementara seiring kebanyakan lapisan strutur sosial masyarakat berubah tidak lagi mengenal stratifikasi; yang ada adalah kebersamaan, oleh karena rasa bersama, satu level; maka ucapan terima kasih sudah tidak perlu disampaikan.

Benturan budaya aristokrasi dan egalitarian membuahkan perilaku baru yang menggerus budaya luhur milik asli bangsa ini. Kondisi ini ditambah lagi hilangnya Filsafat Etika dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan tinggi. Makna Filsafat Etika bukan mewakili nama subyek metter, akan tetapi unsur unsur laku etika, yang seharusnya ada di dalam seluruh proses pembelajaran, telah musnah di telan oleh derasnya arus akan penguasaan bahan atau materi ajar.

Ukuran keberhasilan pendidikan bukan peribahan perilaku; tetapi lebih kepada penumpukan ilmu pengetahuan di dalam otak, dan sejumlah pengetahuan yang dihafal. Kondisi ini ditambah lagi dengan ukuran kesuksesan di dalam masyarakat adalah: berapa banyak harta ditumpuk, berapa banyak uang di tabungan, dan lain lain lagi yang bersifat materi. Sementara ukuran kematangan, kearifan, kedewasaan, kejujuran, kesopanan, dan lain lain yang bersifat normatif-edukatif; menjadi sesutu yang langka.

Mencari harta sebanyak-banyaknya, mencari kedudukan setinggi-tingginya; Hal itu boleh-boleh saja, tidak ada yang salah, sejauh tidak mencuri uang negara atau rakyat, tidak korupsi, tidak menipu, tidak diperoleh dengan cara melanggar aturan negara maupun masyarakat. Karena semua itu dilindungi oleh moral. Dengan kata lain diperoleh dengan cara yang halal dan bermartabat. Semua itu tentunya ada dalam pendidikan etika.

Pertanyaan selanjutnya: ke mana perginya “terima kasih”? Ternyata perginya ke bentuk penghargaan kebendaan atau materi. Oleh karena itu, “pemujaan” terhadap materi pada akhir-akhir ini menjadi begitu mengemuka; sehingga norma-norma yang ada pun sering tergadai hanya karena materi.

Ucapan “terima kasih” seolah-olah  sudah tidak perlu, apalagi transaksi, pelayanan lain, sudah berganti dilayani oleh sistem mekanis, Oleh karena itu, ucapan pun sudah diwakili mesin untuk mengucapkannya karena telah diprogram sedemikian rupa. Semakin sempurnalah keterkuncian mulut untuk mengucapkannya.

Kesempurnaan ini menjadi lebih sempurna lagi dengan berkembangnya sistem sosial yang tidak pernah mencari nilai nilai positif pada sesuatu untuk dikemukakan, justru lebih merasa puas dan bangga jika menelisik kelemahan. Ini bisa kita temukan pada saat pergantian sistem pemerintahan, kepemimpinan, atau generasi. Semua penggantinya jarang sekali memberikan apresiasi kepada pendahulunya dan meneruskan yang dianggap baik, serta memperbaiki sesuatu jika itu dianggap salah. Justru paling bangga jika mengemukakan kesalahan masa lalu kemudian dijadikan landasan pembenaran yang dilakukan masa kini. Akibatnya kata “terima kasih” menjadi bahan langka untuk diucapkan apalagi “dihaturkan”.

Seharusnya kita menyadari di dunia ini tidak ada yang sempurna.  Justru ketidaksempurnaan itulah meneguhkan keberadaan dunia ini. Oleh karenanya, masa lalu itu tidak bisa serta merta kita nilai “jelek” atau “baik”; karena setiap waktu punya orangnya, dan setiap orang punya waktunya. Bisa jadi sesuatu itu “baik” pada waktu itu, dan sangat diperlukan. Namun, jika kita ukur dengan sekarang bisa jadi itu “tidak baik”, karena situasi, waktu, dan kondisi memang berbeda, dan juga sebaliknya.

Justru secara etika seharusnya kita memberikan apresiasi kepada orang orang yang berada pada posisi waktu itu, dan meneruskan kebaikan yang mereka perbuat atau menjadikan dia sebagai referensi untuk kita mengelola waktu kini, dan menyejarahkan mereka pada waktu yang akan datang. Sebab, kita pun akan dijadikan referensi oleh generasi penerus setelah kita.

Mari kita menjadi bijak dalam melihat, menjadi arif dalam bertindak, serta berterimakasih kepada Sang Pemilik Waktu, karena kita masih diberi waktu untuk mengisi waktu dengan berpedoman pada kaidah- kaidah-Nya.

  • Bagikan