Beranda Teras Berita Terkait Catut Nama Jokowi di Freeport, Setya Novanto Klarifikasi ke Jusuf Kalla

Terkait Catut Nama Jokowi di Freeport, Setya Novanto Klarifikasi ke Jusuf Kalla

218
BERBAGI
Setya Novanto (foto: liputan6.com)

JAKARTA, Teraslampung.com — Ketua DPR RI yang juga kader Partai Golkar, Setya Novanto, mengklarifikasi soal pencatutan nama Presiden Joko Widodo berkaitan dengan pertemuan dirinya dengan petingga PT Freeport kepada Wapres Jusuf Kalla, Klarifikasi disampaikan Novanto saat bertemu Jusuf Kalla di Kantor Wapres,  Senin (16/11).

Setya Novanto tiba di Kantor Wapres pada sekitar pukul 14.50 WIB dan melaksanakan pertemuan dengan JK hingga pukul 15.30 WIB.

Dia melakukan klarifikasi kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait tudingan dugaan pencatutan nama Presiden dan Wapres dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.

“Ya saya harus menyampaikan karena saya tidak pernah menggunakan masalah-masalah ini untuk kepentingan yang lebih jauh. Jadi saya tidak pernah membawa nama-nama Presiden atau Wapres,” kata Novanto.

Kepada Wapres, Novanto mengaku  tidak menjual nama Presiden Joko Widodo dan Wapres dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.

“Novanto menyampaikan bahwa dia tidak menyampaikan ‘menjual’ nama lah,” kata JK ditemui di Kantor Wapres, Jakarta pada Senin.

Menurut JK, jika Novanto memang melakukan pertemuan dengan petinggi PT Freeport, maka hal itu tidak ada kaitannya dengan jabatannya sebagai Ketua DPR.

“Pasti bertemu bukan sebagai Ketua DPR karena tidak ada urusannya itu,” kata Wapres terkait isu pertemuan antara Novanto dengan petinggi PT Freeport.

Tudingan adanya petinggi DPR RI mencatut nama Presiden Jokowi muncul ke publik ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyatakan bahwa pada beberapa bulan lalu pihak Freeport dihubungi oleh beberapa tokoh politik dan anggota DPR yang sangat punya pengaruh, dan menjual nama Presiden dan Wapres yang seolah-olah meminta saham kosong.

“Saya bersyukur proses itu tidak terjadi, sehingga Indonesia tidak dipermalukan dan akhirnya proses ini melalui jalur yang normal, di mana sektor mengambil keputusan dan Presiden memutuskan sendiri tanpa harus melalui ‘deal’ semacam itu,” kata Sudirman.

Terkait hal itu, Menteri ESDM sudah melaporkan hal itu ke Mahkamah Kehormatan Dewan pada Senin (16/11).

Sementara itu, setelah sosok yang dilansir Sudirman menjadi terang benderang dan mengarah kepada Setya Novanto, di jejaring media sosial Facebook beredar foto lama Setya Novanto ketika menyerahkan buku karyanya kepada Presiden Soeharto. Kala itu, Novanto menulis buku ekonomi ala Soeharto.

Beredarnya foto lama Novanto dan Soeharto bisa ditafsirkan publik sebagai adaya keterkaitan sejarah antara Novanto-Soehato-Freeport. Pasalnya, pada era Presiden Soeharto Freeport mendapatkan banyak kemudahan untuk melakukan penambangan emas di Papua.

Ketika perpanjangan kontrak dengan PT Freeport muncul ke permukaan dan Setya Novanto diketahui bertemu petinggi Freeport, publik pun seolah mafhum.

Bambang Satriaji