Beranda Teras Berita Terkait Penipuan, Puluhan Anggota Laskar Merah Putih Datangi Bank Danamon

Terkait Penipuan, Puluhan Anggota Laskar Merah Putih Datangi Bank Danamon

106
BERBAGI
ilustrasi

PRINGSEWU, teraslampung.com — Puluhan anggota Laskar Merah Putih (LMP) kabupaten Pringsewu  mendatangi Kantor cabang Pembantu (KCP) Bank Danamon Simpan Pinjam di Jalan Ahmad Yani Pringsewu sekira pukul 10.00 wib, Senin (3/2). Kedatangan rombongan LMP kabupaten Pringsewu  guna mencari oknum karyawan bank itu karena telah dianggap menipu tiga kerabat anggotan ormas berseragam loreng merah ini hingga ratusan juta rupiah.

Menurut keterangan dari tiga korban yaitu, Hariyanto  warga Pekon  Mataram, Isnaini Rosadi (38) warga pekon Kediri, dan Lasiminto (47)  warga Tulungagung Kecamatan Gadingrejo, mengatakan  modus penipuannya sama. Mereka, sama-sama dijanjikan pencairan piutang dari Bank Danamon oleh R yang mengaku memiliki ling di bank tersebut.

Lantaran memerlukan uang, mereka pun menyepakati dengan menjaminkan sertifikat rumah dan tanah. Tapi, ketiga korban ini diarahkan oleh oknum karyawan Bank Danamon berinisial Win, Jap, dan Pur. Alasan peminjaman uang untuk membeli mobil supaya cair. Mobil diarahkan untuk membeli pada R yang menurut para karyawan bank itu R adalah mitra bank  Danamon.

Hariyanto mengaku memberikan Rp 79 juta kepada Win untuk mobil carry futura. Akan tetapi, saat itu dia belum menerima BPKB dengan  alasan Win masih menunggak pajak dan sedang dalam pengurusan.

“Tapi selang beberapa hari kemudian ada orang yang datang  bersama aparat mengambil mobil yang saya beli itu, dan  saya malah dituduh  sebagai penadah,” ujar Hariyanto.

Haryanto tidak berdaya dan terpaksa menyerahkan mobil tersebut karena aparat dan orang yang datang bisa membuktikan surat-suratnya secara lengkap. Selain itu, saat Haryanto menghubungi Win, malah Win menyarankan agar haryanto menyerahkan  mobil tersebut dan berjanji akan menggantinya dengan mobil lain. Akan tetapi Win tidak kunjung menyerahkan mobil sebagai pengganti  dan uangnya juga tidak kembali.

“Saya melapor ke pihak bank, tapi pihak bank tidak bertanggungjawab. Padahal, yang memberi pengarahan ke saya kan karyawan bank. Sebaliknya, rumah saya akan disegel dengan alasan  belum mengangsur,” kata Haryanto.

Hal  yang sama dialami oleh Isnaini dan Lasiminto. Akan tetapi, yang terjadi pada Isnaini. Dirinyaa mendapat mobil dengan  Rp 90 juta, tetapi surat-surat mobil itu ternyata telah digadai. Agar mobilnya tidak ditarik leasing, sehingga terpaksa harus  mengangsurnya setiap bulan. Sementara dia juga harus menyetor angsuran bulanan  ke bank.

Selanjutnya, Lasiminto hanya memberikan Rp 30 juta dari pinjaman yang dicairkan Rp 60 juta. Uang itu diserahkan langsung  kepada R melalui karyawan bank berinisial Pur. Ketiga korban ini mengungkapkan peristiwa itu terjadi pada 2013 silam dalam kurun waktu yang berbeda.

Sementara itu Kapolres Tanggamus  AKBP Adrie Effendi yang kebetulan lewat langsung  menghampiri kerumunan massa dan  menanyakan persoalan apa yang sedang terjadi., setelah mendapat keterangan  kapolres menyarankan agar para  korban membuat laporan resmi  ke Polsek Pringsewu supaya di Proses sesuai dengan hukum.

 “Silakan korban membuat laporan ke Polsek Pringsewu biar diproses secara hukum dan akan saya perintahkan Kanit reskrim untuk melakukan penyelidikan  supaya  diusut tuntas sehingga  masyarakat puas,” kata Kapolres.

Sementara Kepala kantor cabang pembantu Bank Danamon Pringsewu, Sofian, kepada Kapolres dan massa  mengatakan  belum tahu persoalan tersebut sebab baru satu hari menjabat sebagi  kepala unit bank Danamon Pringsewu.

 “Terimakasih atas laporannya sehingga menjadi tahu persoalan yang terjadi , saya akan Kooperatif silahkan diproses sesuai dengan hukum, sepenuhnya kami serahkan kepada penegak hukum,” ujarnya.

Ketua LMP Pringsewu, Ahmad Muslim mengatakan ormas Laskar Merah Putih hanya mendampingi  salah satu korban merupakan masih kerabat dan anggotanya.

“Ini sudah kewajiban kami sebagai ormas untuk melakukan kontrol sosial dan membantu membantu masyarakat. Apalagi, memang ada tiga warga masyarakat yang menjadi korban pelaku yang diduga bagian dari sindikat penipuan tersebut,” kata pria yang akrab disapa Mat Tehek itu.(Andoyo)