Beranda Ekbis Keuangan Terkuat di Asia Pekan Ini, Rupiah Diprediksi Kembali Menguat Pekan Depan

Terkuat di Asia Pekan Ini, Rupiah Diprediksi Kembali Menguat Pekan Depan

238
BERBAGI
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

TERASLAMPUNG.COM — Nilai tukar rupiah diprediksi kembali menguat pada awal pekan depan di tengah pelemahan dolar AS dan optimistis Bank Indonesia bahwa mata uang tersebut masih undervalue.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2020), pergerakan nilai tukar rupiah menguat tajam 105 poin atau 0,71 persen ke level Rp14.610 per dolar AS, saat indeks dolar AS turun tipis 0,05 persen atau 0,051 poin ke posisi 98,332.

Padahal rupiah sempat dibuka melemah 10 poin. Adapun, data yang diterbitkan Bank Indonesia menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.733 per dolar AS pada Jumat, menguat 36 poin atau 0,24 persen dari posisi Rp14.769 pada Kamis (28/5/2020).

Mata uang rupiah pun menjadi yang terbaik di Asia Pasifik pada perdagangan akhir pekan.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menyampaikan dolar AS melemah di tengah sikap Presiden AS Donald Trump yang terus menyerang China dengan mengatakan virus corona berasal dari sebuah laboratorium di Negeri Tiongkok.

Trump meminta China untuk bertanggung jawab hingga Covid-19 menjadi pandemi global dan menuntut kompensasi atas kerusakan ekonomi AS.

Hubungan kedua negara kini semakin memburuk setelah AS kembali ikut campur urusan Hong Kong yang merupakan wilayah administratif China. Bahkan, Trump mengatakan akan mengadakan konferensi pers terkait China pada Jumat waktu setempat.

“Tetapi ia tidak menjelaskan dalam konferensi pers tersebut berkaitan dengan apa, yang pasti pasar sudah dibuat cemas,” paparnya, Jumat (29/5/2020).

Di sisi lain, Bank Indonesia dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini pada Kamis (28/5/2020) mengatakan sangat optimis nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya.

Mengutip pernyataan Gubernur BI, rupiah bisa kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-14.000 per dolar AS.

Melihat sisi fundamental, inflasi akan rendah, current account deficit (CAD) menurun, dan aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) akan terus meningkat, sehingga memperkuat dan memperkokoh mata uang Garuda. Karena itu, BI tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan Juni 2020.

Dalam perdagangan awal pekan depan, sambung Ibrahim, rupiah kemungkinan masih akan bergejolak. Walaupun di buka melemah, tetapi rupiah kemungkinan ditutup menguat dengan rentang harga Rp14.520 – Rp14.480 per dolar AS.

Bisnis

Loading...