Beranda Hukum Kriminal Terlibat “Human Trafficking”, Mucikari Eks-Lokalisasi Pemandangan Ditangkap Polisi

Terlibat “Human Trafficking”, Mucikari Eks-Lokalisasi Pemandangan Ditangkap Polisi

645
BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Ln, tersangka  perdagangan orang human trafficking saat diamankan petugas di Mapolresta Bandarlampung.

BANDARLAMPUNG- Petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandarlampung, menajan Ln 43) alias Mami seorang mucikari di eks lokalisasi Pemandangan, Panjang, Bandarlampung, Selasa (26/5) sekitar pukul 17.00 WIB. Ln ditangkap polisi karena perempuan yang sudah mmiliki tiga cucu itu diduga telah melakukan tindak pidana perdagangan orang (human trafficking).

Ketiga wanita korban human trafficking adalah, dua orang masih di bawah umur dengan usia 16 dan 17 tahun dan satu perempuan dewasa usia 28 tahun. Tiga perempuan warga Kalibalok, Bandarlampung, Tanjung Bintang, Lampung Selatan, dan Pelabuhan Panjang, Bandarlampung mereka dipekerjakan di tempat hiburan malam di eks lokalisasi Pemandangan, Panjang, Bandarlampung.

Kasat Reskrim Polresta Bandarlampung, Kompol Dery Agung Wijaya menuturkan, pengungkapan kasus human trafficking berawal dari adanya laporan dari keluarga korban. Informasi dari keluarga korban, langsung ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan.

“Petugas dapat mengamankan Ln alias Mami seorang mucikari ditempatnya membuka usaha kafe di eks-lokalisasi Pemandangan, Panjang, Bandarlampung, Selasa (26/5) sekitar pukul 17.00 WIB. Untuk barang bukti yang disita, satu buah buku catatan utang dan empat buah telepon genggam,”kata Dery kepada wartawan, Rabu (27/58).

Dari keterangan pelaku, Dery menuturkan, awalnya pelaku mendatangi rumah korban dan menawarkan pekerjaan kepada ketiga korban untuk dipekerjakan di sebuah restoran atau rumah makan.

Untuk menarik korbannya, pelaku menawarkan dengan iming-iming gaji besar. Korban tergiur lalu ikut ajakan  Ln. Kenyataannya, ketiga korban malah dibawa pelaku ke kafe milik pelaku sendiri yang berada di eks-lokalisasi Pemandangan, Pemandangan, Panjang.

Pada saat ketiga korban berada di rumah Ln, ketiganya bukan dijadikan pelayan restoran atau di rumah makan. Korban malah dipaksa oleh pelaku untuk menjadi pekerja seks untuk melayani laki-laki yang datang di tempat tersebut dengan tariff bervariasi Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

“Lina sang mucikari menipu ketiga korban, dua orang anak yang masih dibawah umur, dan satu orang usia dewasa dan ketiganya dipekerjakan sebagai pekerja seks melayani laki-laki. Dari pengakuan pelaku, baru tiga bulan memperkerjakan korban di kafe miliknya yakni sejak pertengahan bulan April 2015 lalu”tutur Dery.

Uang dari hasil mejajakan diri, sambung mantan Kasat Reskrim Polres lampung Tengah, kemudian disetorkan kepada pelaku selaku mucikari yang biasa disebut Mami. Korban tidak beri upah, dengan alasan karena korban tinggal dirumah pelaku yang sekaligus dijadikan kafe atau tempat untuk melayani laki-laki.

“Alasan dari pelaku korban tidak diberi upah, sebab korban tinggal ditempatnya dan korban justru memiliki hutang untuk biaya makan dan keperluan lainnya. Dalam semalam, ketiga korban di paksa oleh pelaku untuk melayani dua hingga empat lelaki yang datang di tempat itu. Kasus ini masih kita kembangkan ada atau tidak pelaku lainnya, kami masih data ada tidaknya korban lain human trafficking yang dilakukan pelaku,”jelasnya

Pelaku Ln alias Mami, dijerat dengan Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang dan dijerat dengan UU No. 35 tahun 2014 Pasal 81, 82 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sementara  Ln, kepada para wartawan mengungkapkan, dirinya mengelak telah memaksa dua remaja di bawah umur dan satu orang dewas menjadi pekerja seks di kafe miliknya yeng berada di eks lokalisasi Pemandangan, Panjang. Menurutnya, ketiganya tidak direkrut oleh dirinya, mereka (korban) sendiri yang datang ke tempat kafe miliknya.

“Saat itu ada tiga orang datang di kafe saya, dua orang remaja masih berusia 16 dan 17 tahun dan satu lagi usia dewasa sekitar 28 tahun. Mereka ini datang sendiri, dan bilangnya mau numpang nongkrong lalu ketiganya mau bekerja ditempat kafe saya yakni sebagai pekerja seks,” ujar nenek tiga orang cucu.

Setelah bekerja, ketiga perempuan itu mencari pelanggan sendiri yakni laki-laki yang datang di kafe. sementara dirinya hanya menyediakan tempat dan kamarnya saja.

“Saya hanya dapat uang sebesar Rp 50 ribu saja, uang itu untuk setiap sewa satu kamar yang dipakai tiga perempuan itu selebihnya tidak ada. Kalau buka kafe belum lama, ya baru sekitar lima bulan ngontrak tempat itu dan kafe itu saya hanya sendiri sementara suami saya kerjanya di Palembang,”ungkapnya

Loading...