Beranda News Nasional Teror Bom Jakarta: Tukang Sate Ini Sudah Mempraktikkan Imbauan Tagar #KamiTidakTakut

Teror Bom Jakarta: Tukang Sate Ini Sudah Mempraktikkan Imbauan Tagar #KamiTidakTakut

477
BERBAGI
Tukang sate inilah yang tiba-tiba ngetop di dunia maya karena fotonya banyak disebarluaskan para netizen. (Foto: Facebook)

JAKARTA, Teraslampung.com — Teror tidak boleh ditakuti. Mereka harus dilawan. Pesan inilah yang banyak disampaikan para netizen melalui tagar atau hashtag  ‪#‎KamiTidakTakut‬,  ‪#‎JakartaBerani‬ , dan #‎PrayForJakarta‬.

Ada banyak alasan kenapa aksi teror harus dilawan. Salah satunya adalah karena mendiamkan aksi teror atau takut pada aksi teror akan membuat para peneror bertepuk tangan. Mereka juga akan bertepuk tangan ketika foto-foto korban kebiadaban mereka tersebar di media sosial karena ‘keterampilan” para buzzer gratis pemilik akun Facebook, Twitter, atau Whatsapp.

Salah satu kisah tidak takut terhadap teror bom ditunjukkan oleh penjual sate di dekat lokasi teror bom di Jl. MH Thamrin, Jakarta. Mungkin saja prinsip tukang sate itu adalah yang penting dagangannya laku. Maka.di keriuhan dan kerumuan orang di sekitar lokasi pengeboman, dia tetap santai berjualan. Hal itulah yang membuat foto pedagang sate itu laris manis di dunia maya. Ia seolah mempraktikkan secara langsung tagar #KamiTidakTakut.

Seniman Bramantyo Prijosusilo lewat akun Facebooknya memberikan apresiasi sekaligus ‘analisis’ yang menggelitik. Seniman anggota Bengkel Teater Rendra itu menilai aksi pedagang sate dan tukang mainan anak-anak yang tetap berjualan di sela-sela kerumuman warga di sekitar lokasi teror bom sebagai “kenthir” (gila) dan “rada gila sedikit sinting”.

Bramantyo Prijosusilo (Seniman): “Setelah foto-foto orang nonton polisi tembak-tembakan, tukang jual kopi melayani kerumunan, bahkan ada juga tukang mainan anak-anak melintas, tukang sate melayani pembeli, maka saya makin mensyukuri bahwa bangsa kita ini ada kenthir-kenthirnya, rada gila sedikit sinting secara di dasar negara saja ada juga di sila ke4, suatu kode setrip miring.

Kalo pas situasi krisis seperti ini kenthir yang khas tersebut sangat membantu situasi. Menggembosi teror yang hendak digelembungkan pelaku. Kita tidak bisa diteror oleh hal-hal nyata, hanya takut kepada fantasi, seperti mungkin dirasakan para pelaku teror itu. Teroris salah besar kalo ngebom di sini, kagak laku malah diketawain. Sudah sering dilakukan dan tak pernah sukses membuat orang Indonesia kecut. Teroris cemen. Wkwkwkwkwkw asuwok.”

Berikut komentar para netizen terkait aksi pedagang sate dan penilaian tentang teror bom di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta:

Alois Wisnuhardana (Jurnalis): “Bom meledak hanya sekitar 100 m dari tempatnya berjualan. Rentetan tembakan sahut-sahutan. Sebagian warga berlarian.

Si penjual sate tetap tenang di tempatnya berjualan, dan terus membakar daging dagangannya. Orang-orang di sekitarnya juga masih memesan satenya.

Kehidupan, bagi si penjual sate, seperti berjalan biasa. Tanpa kepanikan, tanpa ketakutan.

Hai teroris, kamu boleh meneror dan mengganggu ketenangan warga. Tapi, ini Jakarta, Bung. TAK ADA TAKUT DI KAMUS HIDUP KAMI.”

Meme kampanye berupa gambar karikatur melawan teroris

Ahda Imran (Penyair): “Setiap hari kami selalu diteror: Diteror kebutuhan hidup, diteror pembangunan kota yang rakus, diteror neolib, diteror orang-orang aneh yang ngambek karena ada tulisan arab di gaun seorang biduan , diteror suna-suni, suah-syiah, diteror pembakaran hutan, diteror kebencian pada presiden yang pokoknya harus selalu salah, diteror sejarah 65 nyang g beres-beres, diteror partai, diteror keinginan punya android terbaru, diteror pilkada, diteror koruptor yang tersenyum melambai-lambai ke arah kamera, diteror demokrasi sonder etik, diteror kelakuan para elite.

Makanya kami mah g takut. Lihat saja, kami rame-rame nonton langsung ke lokasi, tembak-tembakan, ada banyak tukang dagang segala. Sebagai teroris, kalian amatir pun bahkan belum. Harusnya mah riset dulu atuh kalo mau menakut-nakuti kami teh. Kalo sudah begini kan kalian sendiri yang malu. Teror yang salah tempat…”

Lin Che Wei (Ekonom): “Sarinah dan Serangan pada Simbol Orang Kecil dan Akar Nasionalisme Indonesia Jika benar ISIS bertanggung jawab terhadap bom.Sarinah maka ini adalah serangan teroris yg counter-produktif terhadap perjuangan mereka.

Mereka mungkin tidak sadar bahwa Sarinah adalah pengasuh dari Founding Father Indonesia , Soekarno.

Mbok Sarinah digambarkan oleh Soekarno sebagai orang kecil berjiwa besar.
Dengan menyerang Sarinah berarti Teroris tersebut sama sekali mengabaikan dan melecehkan akar dari sejarah bangsa Indonesia. Jasa pengasuh thd Soekarno sangat besar.
Menyerang Sarinah ecara simbolik adalah menyerang Ibu Pertiwi.

Ironis,mereka menyerang gedung yg dimiliki oleh negara Indonesia. Meskipun Indonesia adalah negara dengan penduduk islam terbesar di dunia, sata yakin bangsa Indonesia pasti geram terhadap ISIS yg tdk menghargai nilai dan simbol Indonesia.”

Loading...