Beranda Kolom Kopi Pagi Teror Bom, Saat Terbaik untuk Instropeksi

Teror Bom, Saat Terbaik untuk Instropeksi

166
BERBAGI
Ilustrasi

Oyos Saroso H.N.

Teror bom terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu pagi (13/5/2018).Sebanyak 13 korban tewas, termasuk 6 orang yang terdiri dari satu keluarga pelaku bom bunuh diri.

Banyak yang mengutuk aksi itu sebagai perbuatan biadab. NU,Muhammadiyah, dan MUI menyebut aksi itu tidak ada kaitannya dengan agama Islam.Sebab,Islam tidak mengajarkan membunuh. Jangankan membunuh orang, bunuh diri saja termasuk dosa besar menurut ajaran Islam.

Beberapa jam kemudian polisi berhasil mengungkap jati diri pelaku. Organisasi teroris ISIS pun juga langsung mengklaim bahwa mereka berada di bailik aksi itu.

Dalam catatan intelijen (mungkin juga kepolisian) keluarga pelaku bom bunuh diri tersebut berguru dari seorang alumni relawan ISIS yang ikut ke Suriah dan dipulangkan ke Indonesia, beberapa waktu lalu. Ada 500-an orang alumni “sekolah ISIS” yang dipulangkan ke Indonesia. Sederhananya, ada ratusan orang yang memiiki “ideologi” teror dan punya keahlian membuat bom.

Banyak di antara mereka kembali ke masyarakat tanpa reserve apa pun. Mereka pergi dari Indonesia untuk menjadi warga ISIS, lalu pulang dengan enaknya. Kabarnya, banyak di antara mereka memberikan data alamat palsu sehingga keberadaannya sulit dilacak.

Aparat keamanan kesulitan menindak mereka karena tidak ada dasar hukumnya. Sebab, aparat keamanan baru bisa melakukan penindakan jika sudah ada alat bukti yang cukup. Kalau aparat main tangkap, mereka akan dikecam para aktivis HAM. Revisi UU Anti Terorisme yang kini mangkrak di DPR tetap saja mangkrak. Alhasil, Indonesia pun selalu dalam bayangan teror. Itu karena mereka sudah banyak yang ahli membuat bom. Mereka tahu media sosia, bisa mengintai kapan saja, dan pandai berstrategi menghancurkan yang dianggap lawan.

Sialnya, mereka mengatasnamakan Islam. Sialnya ada sebagian orang memberikan simpati kepada mereka. Simpati itu setidaknya berupa tidak mengutuk aksi mereka atau diam-diam membenarkan atau bahkan mendukung aksi teror yang mereka lakukan.

Kini tak ada waktu bagi negara (termasuk DPR RI) menunda-nunda membahasa dan mengesahkan UU Anti Terorisme. Terorisme itu nyata. Terkait kemungkinan aksi masif yang akan terus dilakukan eks-alumni relawan ISIS kita layak meminta pertanggungjawaban intelijen di mana saja mereka.

Seharusnya maayarakat bisa mengetahui mereka sehingga masyarakat juga bisa turut berpartisipasi menangkap terorisme. Setidaknya, kalau memungkinkan, mereka bisa diajak “kembaili ke jalan yang benar”. Jangan di seperti di Surabaya kemarin, masyarakat seolah-olah disalahkan karena tidak tahu di lingkungannya ada pelaku terorisme.

Ada baiknya kita semua instrospeksi, tidak saling curiga dan saling menyalahkan.