Beranda News Internasional Teroris Penembakan Massal di Masjid Selandia Baru Tersenyum Saat Disidang

Teroris Penembakan Massal di Masjid Selandia Baru Tersenyum Saat Disidang

473
BERBAGI
Terdakwa teroris penembakan dua masjid di Christchurch. Brenton Tarrant, diadili pada Sabtu, di pengadilan distrik Christchurch, Selandia Baru.[REUTERS]

TERASLAMPUNG.COM — Terdakwa teroris penembakan di Christchurch, Selandia Baru, Brenton Tarrant, 28 tahun, tersenyum selama persidangan dan membuat simbol supremasi kulit putih.

Brenton Tarrant melancarkan serangan teror ke dua masjid di Christchurch pada Jumat siang. Dia menembak ke arah jamaah di dalam masjid sambil menyiarkan aksinya ke media sosial. Dilaporkan 49 orang tewas dan 48 terluka.

Pada Sabtu, Tarrant yang berasal dari Grafton Australia, hadir di ruang sidang Distrik Christchurch.

Dikutip dari Mirror.co.uk, 16 Maret 2019, Brenton Tarrant mengenakan pakaian tahanan putih dengan tangan terborgol dan dikawal dua polisi. Tarrant kemudian membuat simbol jari “OK” terbalik ke kamera sambil tersenyum.

Menurut laporan USA Today, Anti Defamation League (ADL) mengatakan simbol OK diasosiasikan dengan gerakan supremasi kulit putih, dimulai sebagai kampanye tipuan pada 2017 yang ditujukan untuk membangkitkan kemarahan.

Organisasi mengatakan bahwa simbol tersebut telah digunakan oleh beberapa supremasi kulit putih yang dikenal, penggunaannya telah meningkat sejak 2017 dan maknanya terus berkembang.

Gestur “OK” biasanya digunakan untuk tujuan non-politik dan non-kebencian, serta oleh beberapa supremasi kulit putih, menurut ADL. Menurut situs ADL, www.adl.org, simbol OK disanding dengan tiga jari ini dijuluki peckerwood. Istilah “peckerwood” berasal sebagai julukan rasial yang ditujukan pada orang kulit putih.

Kini simbol peckerwood telah diadopsi oleh subkultur geng penjara supremasi kulit putih, terutama di negara-negara selatan dan barat Amerika.

Peckerwood dibentuk dengan simbol OK terbalik diselingi tiga jari yang menyusun kombinasi huruf “P” dan “W”

Tarrant dikenai dakwaan pembunuhan setelah melakukan serangan teror terhadap jamaah salat Jumat, yang menewaskan 49 orang dan melukai 48 orang lainnya. Hakim memutuskan Tarrant bakal ditahan hingga 5 April 2019.

“Pelaku tidak mengajukan uang jaminan ataupun meminta agar namanya tidak disebut yaitu Brenton Harrison Tarrant,” begitu dilansir ABC pada Sabtu, 16 Maret 2019.

Tarrant, seperti dilansir CNN, muncul di ruang sidang dalma keadaan kedua tangan terborgol dan hanya diam dalam persidangan perdana yang berlangsung singkat.

Tarrant, yang berkebangsaan Australia, menyerang dua masjid di Kota Christchurch, pada Jumat, 15 Maret 2019 pada sekitar pukul 1.40 siang saat salat Jumat sedang berlangsung.

Pertama, Tarrant menyerang Masjid Al Noor lalu berlanjut ke Masjid Linwood, yang terletak tidak jauh dari Al Noor. Dia membawa lima senjata termasuk senapan dan bom. Tarrant menembak mati 41 orang di Masjid Al Noor dan 7 orang di Masjid Linwood. Satu korban penembakan di Christchurch lain meninggal di rumah sakit, menurut Mike Bush, Komisioner Kepolisian Selandia Baru.

Tempo.co

Loading...