Terorisme dan Moderasi Beragama

  • Bagikan
Dr. Syarief Makhya (Foto: Istimewa)

Oleh Syarief Makhya
Akademisi Universita Lampunga

Gerakan terorisme di Indonesia sampai sekarang masih berlangsung, kendati teorisme sekarang tidak melakukan gerakan bom bunuh diri, mereka sekarang melakukan gerakan keagamaan dalam bentuk pengajian-pengajian yang pemahamannya eksklusif dan mengarah pada pemahaman agama yang radikal.

Di Lampung misalnya, sejak akhir Oktober hingga 5 November 2021 Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap empat orang Jamaah Islamiyah (JI) yang diduga terindikasi terlibat jaringan terorisme. Mereka ditangkap di Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, Metro, dan Lampung Selatan.

Sebelumnya, juga tertangkap beberapa orang yang diduga terindikasi dalam jaringan Jamaah Islamiyah di Kabupaten Pringsewu, Kota Bandarlampung,  dan Lampung Tengah.

Menurut Prof. Mukri, Ketua MUI Lampung, gerakan terorisme itu adalah bagian dari kelompok wahabi-salafi yang sering jadi pemicu lahirnya gerakan terorisme. Islam garis keras yang memahami agama secara tekstual yang memunculkan gerakan terorisme; menganggap pemahaman di luar ajarannya tidak sesuai, mengkafirkan orang, atau membid’ahkan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang dipahaminya.

Kenapa mereka yang memiliki pemahaman tersebut dikategorikan sebagai pemahaman Islam garis keras dan berimplikasi terhadap gerakan terorisme? Hal itu sebenarnya lebih condong problemnya ketika berhubungan dengan realitas keberagaman atau multikultur dan kepentingan Negara. Kalau Islam garis keras dan beragama Islam yang ekslusif hanya sebatas di internal mereka sendiri sebenarnya tidak ada masalah, tetapi kerena pemahamannya sudah menyalahkan pemahaman yang lain, memposisikan dirinya paling benar dan berupaya memperjuangkan Idiologi lain, maka tidak bisa gerakan pemahaman Islam garis keras tersebut hidup dalam keberagaman dan multikultur di negri ini. Bagaimanapun Negara berkepentingan untuk menjaga Pancasila dan NKRI, sehingga kelompok masyarakat yang dikategorikan bersebrangan dengan kepentingan konsensus Negara tersebut harus dicegah dan diberi sanksi tegas, apalagi kalau mereka sudah melakukan tindakan yang anarkis dan ekstrem.

Dalam perspektif ini, tidak diartikan bahwa bahwa memahami agama Islam tidak harus diseragamkan; ada kebebasan memahami agama berdasarkan pengetahuan dan keyakinannya, tetapi ada batas ketika berinteraksi dengan pemahaman agama lain dan kepentingan Negara maka saling menghargai, toleransi, dan memiliki komitmen untuk menjaga konsensus Negara merupakan pegangan etik dalam hidup di tengah-tengah keberagaman.

Moderasi Beragama

Perspektif mulitikutur dalam mencegah Islam garis keras dan gerakan terorisme menjadi penting sebagai salah satu alternatif dalam membangun hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan menjaga keutuhan Negara secara berkelanjutan.

Konsep multikultur di dalamnya mencakup identitas agama. Multikultur merupakan konsep sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan mengakui keberagaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, baik ras, suku, etnis maupun agama. Salah satu bentuk dari perspektif multikultur yaitu menempatkan pemahaman agama yang sikap dan pandangan yang tidak berlebihan, tidak ekstrem dan tidak radikal atau sering disebut dengan moderasi beragama.

Kata moderasi dalam KBBI berasal dari bahasa Latin moderatio, yang berarti kesedangan (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Moderasi beragama, berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasaan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama (Kementerian Agama, 2019).

Moderasi beragama sudah diakomodasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Jadi, moderasi beragama secara formal sudah menjadi bagian dari pembangunan politik untuk diimplementasikan. Dari sisi implementasi moderasi beragama seharusnya dibangun di ormas-ormas Islam atau di komunitas Islam karena akan mengikat kepada jamaahnya.

Dengan kata lain, Negara tidak perlu melakukan intervensi terlalu jauh dalam membangun sikap moderasi beragama. Misalnya, NU dan Muhammadiyah sudah mengambil sikap menempatkan konsep Islam Wasyatiyah atau Islam moderat yaitu sebuah konsep memahami agama ajaran Islam yang mengarahkan umatnya agar adil, seimbang, bermaslahat dan proporsional dalam semua dimensi kehidupan (Khairan Muhammad Arif, 2020). Namun,  tidak semua ormas Islam atau para tokoh agama Islam yang memiliki jamah nya besar dan berpengaruh, memiliki pandangan yang sama dengan NU dan Muhammadiyah. Mereka memilih pemahaman yang condong tekstual dan konteksnya melabrak lingkungan sosial-politik, sehingga menjadi sikap yang radikal dan tidak mau beradaptasi dengan sistem sosial politik yang berlaku di negri ini.

Sekali lagi, kalau Negara mencegah ormas Islam yang pemahamannya cenderung eksklusif, radikal atau ekstrim konteksnya karena kondisi objektif bangsa ini yang multikultur sehingga arah Negara ini harus dibangun dalam pemahaman negara bangsa. Oleh karena itu, sikap Islam Wasyatiyah atau moderasi beragama adalah pilihan yang tepat dan bisa beradaptasi dengan konteks negara ini yang beragam dan multikultur.***

 

  • Bagikan