Beranda Views Kisah Lain Terpasung Pesona Anak Gunung Krakatau (1)

Terpasung Pesona Anak Gunung Krakatau (1)

1047
BERBAGI

Oleh Dadan Bahtera*

Ini sebenarnya kali keenam  saya ikut Tour Krakatau. Yakni, bagian dari kegiatan Festival Krakatau. Walaaaaaaaaah. Getol amat ikut?!– mungkin begitulah pikiran Anda.  Tidak seperti itu. Memang ada beberapa yang harus saya ikuti karena urusan tugas.

Okelah, kita lupakan saja yang sudah lalu. Soalnyaa saya hanya punya hitungan dua kali yang berkesan ke hati saya. Sisanya? Ya, begitulah memang seperti apa yang sering diceritakan kawan-kawan: membosankan! Titik!

Sabtu Subuh (30/8/2014), saya sudah berkemas. Tanpa sarapan. Waktu masih pukul 4.30 pagi. Saya punya janji dengan dua orang kenalan, orang Jepang, untuk bertemu di parkiran Hotel Sheraton Bandarlampung. Janji ketemu sebenarnya pukul 05.15 WIB. Tapi saya sedikit hafal kebiasaan mereka kalau janji jam segitu, ya segitu itulah.  Makanya saya lebih baik selalu datang lebih dulu kalau janji dengan mereka. O,ya keduanya  adalah kawan saya  snorkling ke pulau di sekitaran Lampung. Saya punya janji untuk ya..itu tadi: Tour Krakatau.

Sebenarnya saya terlanjur promosi sama mereka, bahwa di bulan Agustus akhir ada Tour Krakatau. Nah, mereka nagih janji saya untuk ikut. Sebenarnya sih rada ogah, Cuma ya…gimana kalau saya yang ngajak justru saya yang tidak ikut. Apa boleh buat deh…tahi kambing bulat-bulat.

Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Pemprov Lampung, Bandar Lampung, Sabtu 30 Agustus 2014. Jam menunjukan pukul 5.30. Ternyata saya masih terlalu pagi untuk datang. Ada beberapa orang panitia dan bus yang berjejer. Panitia yang sibuk dan gamang. Saya sempat ngobrol dengan seorang kawan dari Depok, Bogor. Wow….dia datang dari jauh dan bersemangat! Saya malah ogah-ogahan.

Tanda registrasi. Hampir saja saya lupa.  Alhasil saya harus bolak- balik cari nama saya sendiri dan dua teman saya. Untuk dua teman saya, saya temukan namanya…nah untuk saya sendiri gak tercantum. Wadowww…gawat nih. Masih untung saya ketemu kawan lama yang kemarin kasih kode booking ticket saya. Trims, Mas Yopie. Anda membantu sekali.

Sebelah kiri dan kawanan adalah dua kawan saya dari Jepang. Ia tampak menikmati perjalanan. (Foto: Dadan Bahtera)
Sebelah kiri dan kawanan adalah dua kawan saya dari Jepang. Ia tampak menikmati perjalanan. (Foto: Dadan Bahtera)

Pukul 6.30 WIB. Satu per satu bus meluncur. Naahh..ini dia! Kawan Jepang saya ngotot mau pakai mobil sendiri. Katanya sih biar pulangnya cepat. Dari kemarinnya saya sudah telepon pihak Event Organizer Tour Krakatau. Dia selalu katakan tidak bisa pakai mobil sendiri. Tapi setelah saya berbicara dengan (mungkin) Ibu Kepala Dinas, akhirnya beliau kasih toleransi.Saat itu baru saya ngerasa ingin bersorak. Terima kasih juga, Bu. saya tidak tahu ibu itu siapa. Tapi memang sangat membantu.

Dermaga Ujung Bom (Kalau tidak salah) , Lampung Selatan. Saya perkirakan waktu pukul 8 pagi. Maaf saya lupa melirik jam tangan. Tak ada sambutan apa-apa kecuali kerumunan  orang-orang yang entah memang mau ikut Tour Krakakatau atau sekedar nonton kami yang mau berangkat. Tapi di bagian lepas dermaga ke arah tengah saya melihat ada beberapa perahu hilir mudik, memang (katanya) mau ada semacam larung atau ruwat laut.

Tak ada sedikit pun penjelasan dari pemandu atau mungkin panitia. Atau memang saya yang tidak kebagian informasi, karena saya sama beberapa kawan lain memilih tempat di bagian atas perahu. Oya, perlu saya kasih tahu mungkin perahu yang kami naiki yang sebenarnya kata nelayan dibilang bagan congkel atau bagan perahu, bukan perahu penumpang. Namun, jangan heran perahu ini punya kekuatan angkut lebih besar.

Ambooooooi! Sampai di dekat puncak Gunung Anak Krakatau. (Foto: Dadan Bahtera)
Ambooooooi! Sampai di dekat puncak Gunung Anak Krakatau. (Foto: Dadan Bahtera)

Perahu ini biasanya bermesin Fuso. Berapa silinder, saya  kurang paham. Suara mesinnya lebih nyaman dibanding perahu mesinj diesel biasa yang biasanya memekkakan telinga. Perahu ini juga lebih stabil karena memang bebannya rada berat, jadi okelah…. perahu ini bisa dijadikan alternatif pesiaran ke Anak Krakatau. Oya, tambahan juga: perahu ini biasanya dilengkapi fasilitas lumayan seperti televisi, VCD player dan sejenisnya.

Larung laut tidak makan waktu banyak, karena tidak terlihat ada koordianasi maupun panduan yang jelas ke arah mana kami harus melihat. Tiba-tiba saja dari perahu kecil berlompatan orang-orang hanya untuk berenang.  Mungkin akan lebih seru jika di tahun kemudian kita panggil para pemulung uang di dermaga Pelabuhan Bakaheuni yang lebih jago sepertinya.

Kurang lebih pukul sembilan kami mulai berlayar ke arah tengah menuju Gunung Anak Krakatau. Ada enam perahu yang kemungkinan berukuran sama. Melaju beriringan.  perkiraan saya kami akan menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan, atau dua jam ke Pulau Sebesi. Begitu sebenarnya perkiraan saya, Konon bakal mampir dulu di Pulau Sebesi. Tetapi, ternyata tidak, perahu terus melaju ke arah Krakatau. Saya sedikit hafal arahnya.

* Dadan Bahtera adalah penyair dan fotografer. Tinggal di Bandarlampung
Loading...