Beranda Teras Berita Terpasung Pesona Anak Gunung Krakatau (2)

Terpasung Pesona Anak Gunung Krakatau (2)

202
BERBAGI
Menuju Krakatau…. (Foto: Dadan Bahtera)

Oleh Dadan Bahtera*

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan di sini, kecuali ada satu kendala di mana satu perahu mengalami kerusakan di baling-baling.  Namun,  nampak perahu-perahu tersebut sudah terbiasa dengan kondisi demikian. Alhasil dua perahu dipakai menarik satu perahu yang mogok tadi. Selain itu yang saya ceritakan adalah laut lepas dengan ombaknya dan beberapa kali melewati jejeran pulau: Dukuh Tiga-Pulau Sebuku-Pulau sebesi-Sertung dan barulah terlihat anak Krakatau.

Sebuah kritik untuk penyelenggara: mungkin di tahun yang akan datang bisa mengelola atau minimal bisa membantu membunuh kebosanan, menghabiskan waktu tiga jam perjalanan.

Perkiraan saya sekitar pukul 12.00 perahu merapat di Pulau Anak Krakatau. Disambut suara gamelan pencak silat penduduk Pulau Sebesi. Jejeran perahu kecil yang hanya bisa muat 3 sampai 4 orang. Jangan heran mereka penduduk Sebesi. Mereka adalah orang-orang pemberani. Jangankan untuk mengarungi laut seperti itu, erupsi Krakatau yang sering diberitakan media masa dengan hebohnya. Penduduk pulau ini biasanya adem ayem saja.

Dadaaaah: saya hanya kenal sama yang dadah….. (Foto: Dadan Bahtera)

Meskipun saya sudah keenam kalinya ke Krakatau, tapi baru kali ini saya turun. Betul memang ada sensasi tersendiri. Pantai tempat penjagaan milik Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) berombak kecil di angin barat sepertinya, berpasir kehitaman.  Airnya sangat bening. Sepanjang pantainya ditumbuhi rumput dan sejenis perdu.

Sedikit tersendat waktu kami turun. Perahu cukup tinggi dan kami turun pake tangga bambu yang seperti baru dibuat. Teriakan, hiruk pikuk komando dan arahan mewarnai acara turun tersebut. Alhamdulillah akhirnya kami bisa sampai…

   
Tidak terlalu lama, kami menonton gamelan. setelah sedikit sambutan atau mungkin basa basi saya dan dua orang kawan saya langsung berangkat dengan tujuan naik Gunung Anak Krakatau. Woooow…..
 
 Dan sebenarnya inilah awal cerita suka duka. Sekitar 50 meter dari pantai kami masih terlindungi oleh pohon-pohon. Namun setelah itu…bayangkan di bawah terik matahari siang-siang, berjalan di atas pasir luapan material erupsi, dengan tanjakan yang…waaaahhh entah berapa derajat kemiringan. Butuh banyak waktu untuk berhenti mengatur napas, mengusap keringat. menatap kembali puncak yang akan ditempuh.

Saya terlalu tua untuk kembali mendaki gunung. Sementara kawan saya yang orang jepang itu, satu orang sudah tiga per empat pendakian, satu  orangnya lagi sudah setengah dan saya jauh tertinggal baru menghabiskan seperempat tanjakan. Napas terengah, dada yang seperti mau meledak.  entahlah saya bisa sampai atau tidak– sudah saya bilang saya tidak muda lagi.

Wah….. ada yang terbang dengan parayalang! (Foto: Budhi Marta Utama)

Mungkin betul kata pepatah: tak ada rasa lelah kalau memang kita sudah bulat niat. Entah didorong oleh rasa malu atau semangat keingintahun seperti apa sebenarnya yang ada di puncak. Alhamdulillah, meski saya menghabiskan banyak waktu akhirnya saya sampai juga, disambut oleh senyum dua sahabat saya tadi.

Bruuuukk.  Saya menjatuhkan pantat, membuka tas,dan menggelontorkan air minum ke mulut yang sudah sangat kering.
   
Sobat, entah memang dengan perjuangan yang susah payah untuk sampai di sini atau memang karena tempat ini  bagus.  Sebuah sensasi yang sulit digambarkan oleh tulisan saya ini. Ada di sebuah puncak, dimana laut lepas kanan kiri, kadang terlihat ada perahu-perahu yang menyerupai noktah saja. Ada bayangan pulau sertung yang nyaris pudar, angin semilir perlahan mengeringkan keringat saya. Andai  ada di puncak ini di suatu pagi di saat matahari merekah, jelas saya akan lebih sulit melukiskannya.

Lebih dari satu jam saya menikmati angin semilir dan rasa sebagai mahluk yang sangat luar biasa kecil. Betul kata sahabat saya, Kamu tidak akan merasakan seorang hebat atau jago di saat kamu berada di luasnya lautan. Apalagi seperti sekarang, batin saya. Andai Gunung ini meletus, dan ombak kemudian berubah jadi garang. Akan kemana saya akan berlari, kecuali pada titik bernama pasrah. Dan Engkaulah Sang Khalik itu, Ya Rob…….

                                                                          ***
   

Pulang diiringi matahari senja. (Foto: Dadan Bahtera)

Begitulah sebuah cerita atau  pengalaman yang ingin saya bagi kepada kawan-kawan. Terima kasih untuk kawan kawan di Komunitas dan Dinas Promosi Pariwisata Lampung yang sudah saya repotkan. Jempol untuk kalian, meski memang di sana sini masih banyak yang harus dibenahi. Salam dari dua kawan Jepang saya.

“Bagus.Terima Kasih! Haik!! ” begitu saja katanya.

*******

Dadan Bahtera adalah penyair dan fotografer. Tinggal di Bandarlampung

Tulisan Terkait: Terpasung Pesona Gunung Anak Krakatau (1)

Loading...