Terserang Glaukoma Hingga Buta, Warga Lamsel Ini Butuh Uluran Tangan

  • Bagikan
Sopyan (31) didampingi istrinya, Susi (27), warga Dusun Sumberejo, Desa Campang Tiga, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan menderita sakit kedua bola matanya hingga keluar dan tidak bisa melihat lagi membutuhkan uluran tangan.

Zainal Asikin I Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN—Menderita sakit pada kedua bola matanya hingga keluar dan tidak bisa melihat lagi, jalan hidup Sopyan (31), warga asal Dusun Sumberejo, Desa Campang Tiga, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan kini hanya bisa pasrah. Kondisi keluarganya yang miskin, membuat ia tidak mendapatkan pertolongan dokter dengan cepat. Ia pun kini tidak bisa bekerja sebagai buruh kasar untuk menafkahi keluarganya.

“Ya beginilah mas hidup kami apa adanya. Kondisi saya sekarang ini, hanya di tempat tidur saja hari-harinya. Mau ngapa-ngapain sudah nggak bisa, karena kedua mata saya tidak bisa melihat lagi,”kata Sopyan kepada teraslampung.com, Minggu (1/8/2021) siang.

Sopyan bersama istrinya, Susi (27), dan satu orang anak perempuannya yang masih kecil tinggal di sebuah rumah yang berukuran 4×6 meter berdinding bilik bambu. Bilik bambu rumahnya sudah mulai lapuk dimakan rayap. Rumah berlantai tanah yang lebih pas disebut gubuk itu pun berdiri di atas tanah orang lain.

“Tanahnya menumpang milik orang lain,” katanya.

Sopyan menceritakan awal penyakit yang dideritanya. Sebelumnya, Ia juga pernah mengalami sakit pada kedua bola matanya beberapa tahun lalu. Tapi tidak sampai parah seperti sekarang ini, yakni kedua bola matanya hingga keluar dan sama sekali sudah tidak bisa melihat apapun.

“Dulu juga pernah sakit mata saya, tapi cukup minum obat warung saja seperti paramex sudah sembuh. Sakit sekarang ini yang parah, kedua mata saya sudah tidak melihat sama sekali,”ungkapnya sembari menahan sakit kedua matanya.

Sebelum kedua matanya sakit separah ini dan tidak bisa melihat lagi, kata Sopyan, awalnya ia membantu di sebuah acara resepsi hajatan. Kemudian Ia kerja mencabuti bulu ayam di tempat penjualan ayam potong sampai lembur tiga malam. Saat itu kepalanya terasa pusing dan sakit yang sudah tidak tertahan lagi.

“Karena kepala saya terasa sakit, malam itu langsung saya tidur di rumah dan saya sudah tidak sadar apa-apa lagi. Begitu bangun tidur paginya, kedua mata saya ini sakitnya tidak karuan dan tiba-tiba sudah keluar seperti ini dan tidak bisa melihat lagi,” katanya.

Menurutnya, dari kejadian itu sampai sekarang ini, sudah ada sekitar satu bulan lebih Ia menderita sakit kedua bola matanya hingga keluar dan tidak bisa melihat lagi dan belum mendapat penanganan medis sama sekali.

“Kalau ke medis belum, karena kalau ke medis biayanya pasti besar dan saya tidak punya uang untuk itu. Saat itu saya jalani terapi, dari terapi itu katanya kedua mata saya ini terkena racun kembang sawit dan terlalu banyak minum obat warung paramex,”ujarnya.

Saat disinggung apakah tidak memiliki kartu BPJS. Sopyan mengaku ada, tapi kartu BPJS yang dimilikinya sudah non-aktif. “Ada kartu BPJS-nya, tapi katanya sudah nggak bisa dipake (non-aktif),”tandasnya.

Batal Dapat Penanganan Medis di RSUD Bob Bazar

Susi Armitasari (27), istri Sopyan kepada teraslampung.com mengatakan, karena dari terapi itu tidak ada tanda-tanda kesembuhan dan penyakit yang diderita suaminya semakin parah, Susi pun meminta tolong tetanganya untuk membawa suaminya ke RSUD Bob Bazar Kalianda, pada Senin (19/7/2021) pagi lalu.

“Sampai di RSUD Bob Bazar, suami saya ini sempat diperiksa di ruangan IGD dan setelah itu disuruh ke bagian laboratorium yang ada didepan RSUD Bob Bazar,”ujarnya.

Setelah itu, kata Susi, suaminya dibawa masuk ke ruangan dan disitu katanya dilakukan swab antigen. Taklama kemudian, ia disodori berkas dengan petugas RSUD Bob Bazar untuk tanda tangan. Tapi ia tidak mengetahui, ataupun membaca isi dari berkas yang ditandatanginya itu.

“Jadi petugas RS ini bilang, ‘ini buk tanda tangan’. Ya saya tanda tangan saja. Setelah itu, suami saya kok dinyatakan reaktif Covid-19,”kata Susi.

Saat disinggung apakah isi berkas yang ditandatanganinya itu soal pasien Covid-19. Susi mengaku tidak mengetahui persis berkas tersebut, karena ia tidak membacanya.

Kemudian petugas RSUD Bob Bazar ini mengatakan, ‘ini suami ibu positif Covid-19, mending diisolasi saja’. kata Susi menirukan ucapan petugas RSUD Bob Bazar. Saat itu juga, ia langsung menolaknya dan memutuskan untuk membawa suaminya pulang ke rumah.

“Saya menolak lah mas karena kondisi suami saya ini baik-baik saja, penciuman normal, makan juga biasa normal bukannya tidak ada rasa dan bandanya juga tidak panas dingin. Jadi yang dirasa sakit sama suami saya ini, ya cuma matanya saja,”ucapnya.

“Saya juga heran, suami saya inikan yang sakit kedua matanya kok bisa dicovidkan. Daripada nanti yang sakit matanya bukannya sembuh diobati, lebih baik saya bawa pulang saja suami saya,”ungkapnya.

Menurutnya, sebelum ada penyakit virus corona sekarang ini, suaminya memang sudah pernah sakit kedua matanya tapi tidak sampai parah seperti sekarang ini kedua bola matanya sampai keluar dan tidak bisa melihat apapun lagi.

“Kami hanya bisa berharap, suami saya dapat penanganan medis supaya bisa sembuh seperti semula dan bisa melihat lagi,”harapnya.

Susi menambahkan, meski tidak memilki uang, ia mencoba memeriksakan suaminya dan dibantu oleh tetangganya ke Rumah Sakit Graha Husada di Kota Bandarlampung, pada Rabu (28/7/2021) lalu. Hasil pemeriksaan di RS Graha Husada, suaminya didiagnosa dokter terkena penyakit Glaukoma.

“Kalau dokter bilang, katanya kena glaukoma. Misalnya dioperasi, kedua bola matanya harus dibuang semua karena sudah rusak dan pastinya buta. Saya bingung, harus bagaimana ini,”pungkasnya.

Dilansir aladokter.com, glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan bola mata ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata. Seseorang yang menderita kondisi ini dapat merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, hingga sakit kepala.

Pada dasarnya, mata memiliki sistem aliran cairan mata (aqueous humour) ke dalam pembuluh darah. Aqueous humour itu sendiri adalah cairan alami yang berfungsi menjaga bentuk mata, memasok nutrisi, dan membersihkan kotoran pada mata. Ketika terjadi gangguan pada sistem aliran cairan ini akan menyebabkan penimbunan cairan aqueous humour dan meningkatkan tekanan pada bola mata (hipertensi okular). Meningkatnya tekanan pada bola mata kemudian dapat merusak saraf optik.

  • Bagikan