Terus Melenggang

Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS
Bagikan/Suka/Tweet:

Isbedy Stiawan ZS*

(1)

“Biarpun badai menghadang, peluru menerjang, fitnah menghantam, serta cacimaki meruang… aku akan tetap melenggang.”

Kata-kata itu menjadi sumbu bagi anak muda yang dulu amat dibenci, sebab seolah ia menganggap masyarakat kaum papa sehingga mesti disantuni. Bahkan, hanya sekilo gula putih, selembar kain sarung, dan beberapa bungkus mie instan, serta uang dua lembar Rp50 ribu.

“Dia benar-benar keterlaluan. Anak muda tak tahu diuntung, keliwat tak sopan!” tuding para orang tua, alias senior, yang menjadi pesaingnya dalam pemilihan kepala kampung kali ini.

Sehingga, para senior membuat strategi agar anak muda yang bau kencur ini tidak gampang melenggang ke kursi nomor satu kepala kampung. Bahkan, bila perlu dia diganjal oleh hukum akibat kecurangannya.

Tetapi, anak muda ini memang licin layaknya belut di dalam lubang persawahan, sehingga sangat sulit ditangkap hanya oleh 10 atau 20 jari. Ligat dan sigap. Jika ada tangan yang hendak mencekal, anak muda itu meliuk dan dan masuk segera ke kubangan sawah.

Dia begitu lihai. Lolos dari segala jeratan kecurangan: money politic, bagi-bagi paket gula dan sebagainya. Para pengawas dibuat tidak berkutik, ada saja jawaban dari tim pemenangan anak muda ini.

“Dia memang pintar, cerdik…” komentar seniornya. “Kita ingin dia gagal mengikuti pemilihan kepala kampung ini dengan cara dituduh menyuap rakyat. Eh, nyatanya tidak mempan. Akibatnya, dia terunggul di segala lini. Kalaupun gagal, hanya satu-dua wilayah dna tempat pemungutan suara (TPS). Aku tabik pada anak muda ini!”

Nyatanya anak muda ini dapat lolos dari badai yang menghadang, peluru yang menerjang, serta fitnahan yang menghantam. Nyatanya pula dia bisa melenggang. Jangan-jangan secepatnya dia sampai di kursi kepala kampung. Lalu mentertawakan para sneiornya yang menjadi rivalnya.

Tentu saja sambil mengejek: “Kalian pikir, senior bisa menang dalam segala hal? Biarpun aku masih yunior dan kalian bilang bau kencur, tapi ada yang lupa dari kalian: membunuh semangat saya untuk menjadi orang nomor satu!”

Anak muda yang dibilang masih bau kencur, setengah pasti akan melenggang dalam putaran pertama pemilihan kepala kampung (pilkakam) ini. Dia meninggalkan para senior dan sudah berpengalaman dalam segala hal jauh di belakang. Kelip….

(2)

“Jangan kalian kira anak muda tak bisa berbuat apa-apa. Jangan kalian sangka, anak muda bisa menyusu pada orang tua, atau hanya meminta ikan pada yang tua. Saya buktikan sekarang, saya bisa melenggang….”

Anak muda itu bergumam. Ia memandang para senior yang keok dari atas tumpukan gula putih. Dengan sebuah teropong, anak muda itu dengan jelas menyaksikan wajah para senior yang nelangsa.

“Beri giliran anak muda yang berkuasa,” katanya lagi.

Barangkali kata-kata ini yang kerap disenandungkan para kaum muda. Mereka, anak-anak muda di belahan dunia ini, selalu sudah jemu dengan kaum tua yang acap merasa menang sendiri, setiap katanya adalah seakan sabda, dan tak bisa terbantahkan.

Dan, anak muda ini seperti hendak menolak sterotipe pandangan para orang tua. Betapapun, dalam lubuk hatinya, ia memercayai main uang dalam politik adalah salah besar. Tetapi, pertanyaannya, adakah ukuran halal dan haram dalam perpolitikan saat ini, yang cenderung diukur secara matematis dan materialistis?

Ketika kekuasaan hanya bertumpu pada hal materi, maka rakyat juga akan menagih dari politik dari hal yang sama. Apabila kekuasaan selalu berakhir pada jabatan dan kekayaan, rakyat juga akan meminta bagian dari hasil jabatan dan kekayaan si pejabat.

Begitulah, takdir politik. Imbal-balik, utangp-iutang dalam meja politik dibayar tunai dalam tawar-menawar di meja politik pula. Dari pelaksana pemilu yang karena jabatannya hendak mendapatkan kekayaan, poltisi yang tejrun di poltik juga ingin mengubah nasib, maka tak haram rakyat pun memperlakukan poltik dari ukuran-ukuran untung dan rugi.

Soal inilah yang belum dikuasai para sneior pesaing anak muda ini. Atau sebab para senior tak memunyai uang lebih banyak dibanding yang dipunyai anak muda? Sehingga kalah? Padahal, satu orang senior pernah memenangkan “perjudian” di meja politik. Melalui jalan-jalan dan iming-iming ke Tanah Suci. Sayangnya janji ke Mekah yang tidak pernah dikabulkan, rakyat jadi enggan memilihnya lagi.

Nah, bisik anak muda ini, rakyat yang kecewa ini direkrut. Jadi modal, jadi benteng, jadi pagar untuk menahan badai yang menghadang, peluru yang menerjang, dan fitmah yang menghantam.

Anak muda itu pun melenggang. Menang?

*sastrawan, bekerja di teraslampung.com