Beranda News Pilpres 2019 Tes Baca Al Quran untuk Capres, Amien Rais: Itu Lucu Sekali

Tes Baca Al Quran untuk Capres, Amien Rais: Itu Lucu Sekali

352
BERBAGI
Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais tiba di gedung Nusantara V MPR, Senayan, Jakarta pada Senin, 29 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.
Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais tiba di gedung Nusantara V MPR, Senayan, Jakarta pada Senin, 29 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

TERASLAMPUNG.COM — Ketua Dewan Kehormatan
Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menilai adanya usulan tes baca Al-Quran untuk para calon presiden yang bertarung dalam Pemilu 2019 merupakan hal yang tak relevan.

“Itu lucu sekali,” ujar Amien ditemui usai menjadi pembicara dalam Pengajian Refleksi Akhir Tahun yang digelar di masjid kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) unit 4 jalan ring road selatan Yogya Senin 31 Desember 2018.

Sebelumnya, polemik tantangan tes baca Al-Quran disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak di Banda Aceh, Sabtu, 29 Desember 2018.

“Untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca Al Quran kepada kedua pasangan calon,” kata Tgk Marsyuddin saat itu.

Namun Mantan Ketua MPR itu menilai tes baca Al Quran lebih cocok jika diterapkan untuk profesi yang lebih terkait. “Kalau untuk (memilih) pimpinan pondok pesantren boleh lah ya,” ujarnya.

Amien sangsi jika orang yang hafal Al Quran otomatis perilakunya akan sesuai ilmu yang dimiliki. Yakni sesuai ajaran Al-Quran.

“Sebab banyak juga orang yang hafal Al Quran tapi perangainya seperti orang tidak beriman, jadi itu bukan ukuran,” ujarnya.

Amin menggambarkan, banyak juga orang yang seolah berperilaku alim ternyata banyak pula yang masuk bui karena perilaku melanggar hukum.

Baca juga: Fadli Zon Sebut Pengkritik Amien Rais Parasit Demokrasi

“Sementara di satu sisi orang yang kelihatannya abangan, tapi perilakunya jujur, itu di mata Allah tentu lebih bagus,” ujarnya.

Amien Rais pun menilai tes baca Al-Quran juga akan lebih relevan jika diterapkan semisal untuk agenda memilih pimpinan di organisasi masyarakat Islam. Misalnya dalam muktamar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amien setuju saja.

“Tapi kalau memaksa diterapkan untuk memilih (presiden) itu tidak tepat, nanti ke mana-mana, yang ini harus hafal injil, dan sebagainya,” ujarnya.

Tempo.co

Loading...