Tetap Sukses di Masa Pandemi, Inilah yang Dilakukan Pengusaha Batik Tulis Deandra

  • Bagikan
Andri Saprianto memberi warna pada motif di atas kain putih atau mori/Foto: Mas Alina

Teraslampung.com, Bandar Lampung – Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 menyebabkan banyak perusahaan gulung tikar. Banyak pula perusahaan yang masih bertahan, tetapi dengan mengurangi jumlah karyawan untuk menekan biaya produksi. Namun, tidak begitu halnya dengan bisnis batik tulis yang dilakukan Andri Sapriyanto (33), warga Jalan  Garuda No.3 Kelurahan Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung.

Ketika banyak pelaku UMKM mengeluhkan berkurangnya omzet sehingga terpaksa mengurangi jumlah karyawan, pemilik UMKM Batik Deandra ini  justru menambah karyawan. Hal itu karena omzet Batik Deandra relatif stabil bahkan cenderung naik.

“Omzet kami per bulan rata-rata Rp50 juta. Bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Sebelum pandemi Covid-19 karyawan kami ada 14 orang, sekarang bertambah menjadi 24 orang,” kata Andri kepada Teraslampung.com, Sabtu, 4 September 2021.

Pekerja sedang membatik/Foto: Mas Alina

Menurut Andri, berkurangnya mobilitas warga karena ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak membuat omzet Batik Deandra berkurang. Para pelanggan tetap setia memesan produk batik yang dirintis Andri sejak 2016 itu. Karena pesanan tetap banyak itulah makanya Andri pun menambah karyawan sejak setahun terakhir.

Andri mengaku bersyukur karena pada saat warga yang kesulitan ekonomi karena terdampak Covid-19 ia justru bisa menambah karyawan. “Kami menambah karyawan, karena meskipun ada pandemi Covid-19, tetapi pesanan batik tetap mengalir,” katanya.

Tentang rekrutmen karyawan, Andri mengaku memakai konsep pemberdayaan. Yakni dengan memberdayakan atau melibatkan warga di sekitar rumahnya. “Sejak kami merintis usaha pada 2016 lalu, kami memang meniatkan bukan hanya untuk diri kami sendiri. Saya dan istri maunya maju bersama-sama masyarakat. Kalau usaha saya maju, diharapkan warga yang saya ajak berusaha juga ikut maju,” katanya.

Belajar dari Nol, Modal Rp10 Juta

Andri mengaku sebelum memulai usaha batik tulis ia sudah bekerja di UMKM batik di Bandarlampung. Beberapa bulan bekerja, ia pun lantas berpikir untuk merintis usaha batik sendriri. Usia Andre menginjak angka 28 tahun saat memulai bisnis batik tulis. Ia baru saja berumah tangga.

Ia makin tertarik menekuni usaha batik tulis setelah ia mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Perindustrian Provinsi Lampung. Tidak puas dengan keterampilan yang sudah diperolehnya dari pengalamannya bekerja sebagai pembatik dan mengikuti pelatihan, ia ingin belajar langsung dari ahlinya. Ia pun kemudian berangkat ke Yogyakarta untuk belajar membuat batik tulis sekaligus belanja aneka batik tulis di Pasar Ngasem, Jl. Polowijan, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Merasa bekal keterampilannya sudah cukup, tekad Andri makin bulat: merintis  bisnis batik tulis yang khas Lampung.

Untuk memulai usahanya, Andri pun menggadaikan sertifikatnya di bank. Bermodal uang Rp10 juta dari hasil menggadaikan sertifikat rumah itulah Andri dan istrinya mulai merintis usaha batik tulis pada September 2016.

Andri mengaku memilih batik tulis karena batik tulis lebih awet dibanding dengan batik cap. Selain itu, kata Andri, batik tulis juga lebih berpeluang bisa memberdayakan orang yang lebih banyak.

Pekerja membuat gambar di atas kain putih/Foto: Mas Alina

“Awalnya hanya beberapa tetangga di sekitar rumah saya yang menjadi karyawan. Mereka saya ajari dulu bagaimana membuat batik tulis. Mulai dari menyiapkan kain dan membuat desain, melukis dengan canting di atas bidang kain yang sudah didesain, mengenalkan soal pewarnaan,  mengajari cara menghilangkan lilin yang dipakai untuk membatik, hingga kain menjadi batik tulis yang siap dikemas dan dijual,” katanya.

Awalnya hanya beberapa lembar kain batik yang diproduksi Andri. Pemasarannya pun masih terbatas di kalangan terdekat dan Dinas Perindustrian Lampung.

Merasa mendapatkan apresiasi, Andri makin rajin memasarkan batik tulis produksinya. Selain pameran, ia juga membangun jejaring. Pemasaran melalui online pun menjadi salah satu pilihannya agar Batik Deandra makin dikenal masyarakat.

Sebagai produsen baru, Andri menyadari ia belum banyak dikenal. Agar bisa dikenal, ia pun rajin mengikuti kegiatan pameran dan membangun jejaring. Selain rajin menghadiri pameran, Andri mengandalkan media sosial — terutama Instagram — untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk Tapis Deandra.

Kiat Bertahan di Masa Pandemi Covid-19

Jaringan pemasaran yang dibangun Andri melalui media sosial ternyata berbuah manis pada masa pandemi  Covid-19. Pada 2019 atau sebelum Covid-19 melanda Lampung dan sebagian daerah di Indonesia, dalam sebulan Andri bisa menjual 20 hingga 50 lembar kain batik. Kala itu ia memperkerjakan 14 karyawan.

Instagram Batik Deandra

Ketika pandemi Covid-19 melanda Lampung, pesanan batik tulis masih terus berdatangan. Bahkan jumlahnya bisa dua kali lipat. Itulah sebabnya ia pun menambah 10 karyawan lagi sehingga kini jumlah karyawan Batik Deandra menjadi 24 orang.

Dengan pekerja yang makin banyak, Andri menargetkan para pelanggan akan makin puas karena pesanan bisa dikerjakan lebih cepat.

Menurut Andri, kepuasan pelanggan merupakan hal utama yang ia pertahankan. Jika pelanggan puas, kata Andri, hal itu sudah menjadi promosi tersendiri bagi produk batik tulisnya.

“Kami sangat memperhatikan kepuasan pelanggan. Makanya, kami benar-benar menjaga kualitas produksi kenyamanan pelanggan dalam berbelanja,” katanya.

Yang tidak kalah penting bagi pemasaran batik tulis khas Batik Deandra, kata Andri, adalah komunikasi dengan para pelanggan dan calon pelanggan. Untuk itu,  ia memanfaatkan Instagram dan kanal business.site yang terintegrasi dengan Google Map.

Dengan cara itulah masalah ruang dan waktu bisa diatasi. PPKM yang diterapkan pemerintah selama masa pandemi pun tidak berpengaruh terhadap produksi dan pemasaran Batik Deandra.

Selain kualitas produk dan komunikasi dengan para pelanggan, kata Andri, ia juga selalu mencoba melakukan inovasi desain.

Menurutnya, desain Batik Deandra selalu diupayakan memenuhi selera para calon pelanggan. Karena Lampung identik dengan kopi,  lada, dan cokelat, maka Batik Deandra pun memproduksi kain bermotif bunga kopi, lada, dan cokelat. Ada pula motif gajah dan jung atau kapal.

“Banyak pelanggan yang puas karena kami menerapkan sistem edisi terbatas (limited edition). Artinya, jika sebuah lembaga atau kantor memesan sekian puluh kain batik, maka desain serupa hanya sekali itu diproduksi. Para konsumen pun puas karena ketika mengenakan batik tidak ada yang menyamai, kecuali orang satu kantor,” katanya.

Sebab itu, kata Andri, motif batik tulis yang dipakai para pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah kantor di Lampung Barat, misalnya, akan berbeda dengan motif batik yang dipakai PNS di Lampung Selatan.

Andri mengaku, meskipun batik tulis pengerjaannya lebih rumit tetapi memberikan kepuasan bagi dirinya dan bagi para pelanggan. Karena kepuasan itulah makanya para calon pembeli biasanya sudah memahami jika harga yang dipatok Batik Deandra lebih mahal dibanding batik cetak (printing).

“Kalau batik cetak kan dibuat secara massal, dengan mesin. Para calon pelanggan biasanya sudah mafhum kalau batik tulis harganya lebih mahal. Tapi memakainya puas,” ujarnya.

Meskipun begitu, kata Andre, ia tidak memasang harga yang terlalu tinggi untuk setiap lembar kain batik dengan ukuran sekitar 2 x 1 meter itu. Per lembarnya harganya antara Rp 300 ribu hingga Rp 1 jutaan.

Diapresiasi Istri Gubernur

Membuat batik tulis/Foto: Mas Alina

Sejak awal merintis usaha batik tulis Andri Sapriyanto sudah memiliki hubungan baik dengan Dinas Perindustrian Lampung. Acara pelatihan dan pameran yang kerap dilakukan Dinas Perindustrian Lampung selalu diikutinya. Termasuk acara “Smart Branding dan Pelatihan On Boarding UMKM” yang pernah dilakukan oleh Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Lampung bekerjasama dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Lampung pada 2020 lalu.

Pameran juga sering membawa berkah tersendiri bagi Batik Deandra. Selain produknya semakin dikenal, pameran dalam skala besar juga menambah omzet.

“Pada acara Lampung Fair misalnya, produk kami yang laku bisa naik dua kali lipat dibanding biasanya. Biasanya di kisaran 50 hingga 60 lembar, kalau pas ada Lampung Fair bisa sampai 100 lembar,” katanya.

Menurut Andri, acara pelatihan, workshop, dan pameran merupakan sarana yang sangat bagus untuk memperluas jaringan. Selain rajin mengikuti pelatihan yang digelar pihak lain, Andri juga sering menggelar workshop untuk para pelajar dan kalangan milenial yang ingin belajar membuat batik.

Workshop kami gelar di rumah secara gratis. Yang berminat bisa langsung datang ke tempat kami dan bisa langsung belajar,” katanya.

Cara pengembangan UMKM yang melibatkan masyarakat sekitar seperti yang dilakukan Andri pun mendapatkan apresiasi yang bagus dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lampung yang juga istri Gubernur Lampung, Ny. Riana Sari Arinal.

Pada beberapa kesempatan Ny. Riana Sari mengenakan batik tulis produk Batik Deandra. Ny. Riana Sari juga kerap mengimbau agar masyarakat Lampung membeli produk lokal Lampung. Hal itu, menurut Andre, menjadi berkah tersendiri bagi pengembangan Batik Deandra. Sebab, secara langsung atau tidak, istri Gubernur Lampung telah mempromosikan  Batik Deandra.

“Kami bersyukur, karena dengan begitu maka Batik Diandra makin dikenal. Dengan makin dikenal maka peluang bertambahnya pelanggan juga makin besar,” katanya.

Pengembangan UMKM seperti yang dilakukan Andri juga juga mendapatkan apresiasi dari pengamat ekonomi yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, Asrian Hendi Caya.

“Selama masa pandemi Covid-19 para pegiat UMKM memang harus kreatif. Para pegiat UMKM harus membangun jaringan dan rajin mengikuti perkumpulan, piawai memanfaatkan media sosial, melakukan digitalisasi pemasaran, dan tetap mempertahan kualitas produk,” kata Asrian.

Dengan memanfaatkan pemasaran melalui media sosial dan digitalisasi pemasaran, kata Asrian, ada atau tidak ada pandemi tidak akan berpengaruh terlalu signifikan terhadap pelanggan.

“Promosi murah bisa terus dilakukan secara online melalui media sosial. Pemasaran digital membuat pelanggan yang jauh terasa dekat. Masalah jarak dan waktu bisa diatasi,” katanya.

Mas Alina 

 

  • Bagikan