Beranda Views Opini Tidak Cukup dengan Puasa dan Tarawih

Tidak Cukup dengan Puasa dan Tarawih

53
BERBAGI

Oleh Gunawan Handoko

Umat muslim selalu mengelu-elukan dan merindukan kedatangan bulan Ramadan. Begitu memasuki pertengahan bulan Sya’ban atau lazim disebut Nisfu Sya’ban, nuansa Ramadan sudah mewarnai kehidupan umat Islam. Masjid dan mushola mulai berhias sedemikian rupa, untuk menyambut Tamu Agung. Media sosial tidak kalah meriah dengan banyaknya posting permintaan ma’af disertai dengan aneka gambar menarik tentang Ramadan.

Pertanyaannya, apakah kita secara sungguh-sungguh akan melaksanakan ibadah Ramadan sesuai dengan apa yang menjadi perintah Allah SWT dan sunah Rasulullah SAW, atau hanya sekadar untuk ikut-ikutan dengan orang banyak agar kita dianggap sebagai umat muslim yang bertaqwa? Bahwa di bulan Ramadhan ini yang penting melaksanakan puasa atau shaum selama 29 atau 30 hari, ditambah dengan shalat Tarawih dan memperbanyak tadarus serta dzikir, selesailah sudah kewajibannya. Padahal, sesungguhnya apa yang disebutkan tadi barulah merupakan ibadah individu, dalam rangka meningkatkan kesalehan individu seorang muslim di hadapan Allah.

Masih ada 1 ibadah lagi yang tidak kalah penting yang harus dilaksanakan, yakni Ibadah sosial melalui infak dan sedekah sebagai sarana bagi seorang muslim untuk meningkatkan kesalehan sosial. Inilah salah satu hikmah di antara sekian hikmah dan rahasia puasa Ramadan, yaitu memupuk semangat solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, kepedulian sesama, dan kesetiakawanan sosial.

Dengan hikmah dan rahasia ini, manusia dilatih agar dapat mengurangi atau menghilangkan sikap bakhil atau kikir dan sifat individualis dalam dirinya, untuk selanjutnya menjadi insan yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Itulah sebabnya, selain kewajiban berpuasa, umat muslim yang berharta juga diperintahkan untuk membayar zakat, infak, sedekah, dan amal kebajikan lainnya. Ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat diukur sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa dengan  membuang jauh-jauh sifat bakhil.

Jika kita mau berkaca secara jujur, tidaklah mungkin seorang fakir akan menderita kelaparan atau kekurangan sandang, kecuali disebabkan kebakhilan pada diri umat muslim yang berharta. Kemiskinan yang terjadi di masyarakat kita bukan semata-mata disebabkan kemalasan untuk bekerja, tapi lebih diakibatkan dari pola kehidupan yang tidak adil atau sering disebut kemiskinan struktural.

Semua terjadi karena rasa kesetiakawanan sosial di antara umat muslim khususnya sudah memudar sehingga terjadi jarak antara kelompok kaya dengan miskin. Diakui memang, menyadarkan umat muslim agar tergerak hatinya untuk memiliki sifat kedermawanan bukanlah hal yang mudah.

Kesediaan melakukan pengorbanan untuk orang lain haruslah didasari demi mengharapkan keridaan-Nya. Sebab, berkorban adalah sebuah ajaran tentang mengurangi kepentingan diri pribadi untuk kepentingan orang lain dalam rangka mencapai kemuliaan di hadapan Allah.

Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk mengobarkan kembali semangat solidaritas sosial sebagai wujud kesalehan individu dan strategi muroqobah seorang hamba dengan Allah serta menambah kecerdasan dan kesalehan sebagai makhluk sosial. Karena sesungguhnya harta kita yang abadi adalah yang telah kita sedekahkan di jalan Allah dan menjadi simpanan kita di akhirat nanti. Selebihnya merupakan milik Allah yang dititipkan kepada kita.

Dengan menghilangkan sifat bakhil, diharapkan akan menyempurnakan ibadah puasa dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi di hadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat muttaqin, Insha’ Allah.