Beranda Hukum Kriminal Tiga Keanehan dalam Pembunuhan-Mutilasi Anggota DPRD Bandarlampung

Tiga Keanehan dalam Pembunuhan-Mutilasi Anggota DPRD Bandarlampung

4731
BERBAGI
Pra-rekonstruksi pembujnuhan Pansor dengan tersangka Brigadir Medi Andika dan Tarmizi. Dalam prarekonstruksi ini Medi menolak memeragakan adegan dengan alasan tidak membunuh Pansor.

TERASLAMPUNG.COM — Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Polda Lampung melimpahkan berkas kasus pembunuhan anggota DPRD Bandarlampung, M. Pansor, dengan tersangka anggota Polres Bandarlampung, Brigadir Medi Andika, ke Kejaksaan Tinggi Lampung, Selasa (22/11/2016).

Hingga kini, Brigadir Medi Andika selalu bungkam. Bungkamnya polisi ‘berkesan baik’ di Facebook itu membuat kasus pembunuhan secara sadis itu terlihat janggal atau aneh.

Keanehan itu antara lain:

1. Istri (keluarga) M. Pansor melaporkan kasus hilangnya M. Pansor setelah seminggu korban tidak pulang ke rumah. Kenapa keluarga baru cemas setelah orang tercintanya seminggu tidak pulang? Apakah Pansor selama ini sering pergi berhari-hari tanpa berkomunikasi dengan istri?

2. Istri M. Pansor menghindari wartawan dan tidak ada tuntutan atau sikap yang diungkapkannya kepada polisi yang memeriksa kasus meninggalnya suaminya. Hal ini terasa aneh. Bagaimana mungkin seorang istri yang ditinggal mati suaminya emosinya datar saja ketika diperiksa polisi? Umumnya, keluarga korban pembunuhan atau keluarga yang tersangkut kasus hukum akan mengungkapkan tuntutan atau pemintaan agar polisi berlaku adil.  Bahkan, banyak keluarga korban pembunuhan yang menuntut agar aparat penegak hukum memberikan hukuman mati atau hukuman seumur hidup kepada pelaku pembunuhan.

3. Hingga kini motif pembunuhan yang dilakukan Brigadir Medi Andika tidak jelas. Penyidik kepolisian kesulitan mengorek motif pembunuhan. Kenapa penyidik tidak bisa membuat Brigadir Medi Andika buka suara? Apakah karena Medi Andika juga anggota polisi sehingga begitu sulit penyidik mengungkap motif pembunuhan keji itu?