Beranda News Budaya TIGA PUISI KARYA JOSEPH BRODSKY*

TIGA PUISI KARYA JOSEPH BRODSKY*

211
BERBAGI
Joseph
Brodsky
adalah penyair dan esais kelahiran Rusia (24 Mei 1940 – 28 Januari 1996),
penerima Nobel Sastra 1987. 
Ia diusir oleh pemerintah Uni Sovyet setelah
diadili sebagai “parasit sosial” pada tahun 1964. Setelah itu ia
menjadi eksil di beberapa negara Eropa, sampai akhirnya ia
diterima sebagai warga negara AS pada tahun 1972. 
Berikut ini tiga buah puisi karya Brodsky yang diterjemahkan oleh Ahmad Yulden Erwin:

SURAT KEPADA SEORANG ARKEOLOG

Warga negara, musuh, anak mama, pemadat, memaki
sampah, pengemis, babi, refujew, verrucht;
kulit kepala sering tersiram air mendidih
hingga otak kecil merasa benar-benar matang.
Ya, kami telah tinggal di sini: dalam beton ini,
bata, kayu
reruntuhan yang sekarang tiba saatnya menjerit.
Semua kabel kami disilangkan, berduri, kusut, atau
terjalin.
Juga: kami tak mencintai perempuan kami, meski
mereka sekandung.
Dentang suara linggis menghantam peti mati;
masih lebih lembut daripada mencaci diri kami
sendiri.
Orang asing! hati-hati langkahi bangkai kami:
segala serupa bangkai bagimu adalah pembebasan sel
kami.
Tinggalkan nama kami sendiri. Jangan rekonstruksi
vokal mereka,
konsonan, dan sebagainya: mereka tak serupa
burung-burung
tapi anjing pelacak gila yang mau memakan
jejaknya sendiri, kotoran, dan kulit, dan kulit.

DAEDALUS DI SISILIA

Sepanjang hidup ia membangun sesuatu, mencipta
sesuatu.
Sekarang, untuk seorang ratu dari Kreta, seekor
sapi palsu,
juga untuk suami yang istrinya tak setia kepada
raja. Kemudian labirin, 
waktu untuk raja sendiri, untuk sembunyi dari
tatapan bingung
seorang keturunan badung. Atau semacam alat untuk
terbang, ketika
raja menemukan dirinya begitu sibuk dengan komisi
baru.
Putra dari perjalanan pulang tewas terhempas ke
laut,
seperti Phaeton, yang, kata mereka, juga ditolak
atas perintah
ayahnya. Di sini, di Sisilia, kaku di atas pasir
teriknya,
kini duduk seorang tua, mampu mengangkat
tubuhnya ke udara, jika dirampok segera ia malih
rupa.
Sepanjang hidup ia membangun sesuatu, mencipta
sesuatu.
Sepanjang hidup dari gerombolan ahli bangunan, dari
para penemu,
ia mesti melarikan diri. Seakan penemuan dan ilmu
bangunan 
sangat ingin membersihkan diri dari cetak biru
mereka,
ingin anak-anak malu terhadap orang tua mereka.
Agaknya, 
itulah replikasi dari sebentuk rasa takut. Ombak
merayap ke pasir; 
di belakang, kilau gading pegunungan lokal.
Namun sudah ia temukan, pas masih muda,
jungkat-jungkit kelam,
betapa kencang pencarian harmoni antara gerak dan
diam.
Seorang tua lihat ke bawah, terhubung dengan
pergelangan kaki rapuhnya
(agar tidak tersesat) tak lain seuntai benang
panjang,
berdiri tegak sambil mendengus, dan kepala terjulur
menyambut Hades.

NYONYA BELANDA

Dalam satu hotel: buku keberangkatan
lebih penting ketimbang kedatangan.
Diguyuri hujan Koh-i-noors bulan Oktober
hanya stroke tersisa dari otak telanjang.
Di negeri ini daratan ditimbun demi kanal,
bir berbau Jerman dan camar-camar bengal
di udara seperti sudut kotor suatu halaman.
Pagi menerobos ruang bersama mayat
ketepatan waktu, menempatkan telinganya
ke rusuk radiator dingin, mendeteksi bawah nol:
neraka harus dimulai di suatu tempat.
Segaris dengan itu, malaikat ikal
nampak lebih pirang, putih kulit keberuntungannya
alangkah indah, sementara ranjang menjelma kumparan
putus asa dalam mesin cuci di ruang bawah tanah.

—–

*Terjemahan Ahmad Julden Erwin @ 2012 – 2014