Beranda Views Opini Tips Menjadi Penulis Buku: Dissplin, Fokus, dan Terlibat

Tips Menjadi Penulis Buku: Dissplin, Fokus, dan Terlibat

92
BERBAGI

Oleh Nusa Putra*

Menulis merupakan keterampilan. Seperti semua keterampilan, menulis membutuhkan latihan dan harus dilakukan terus-menerus agar menjadi kebiasaan yang semakin mudah dikerjakan dan menghasilkan tulisan berkualitas. Bila jarang dilakukan, kemampuan menulis akan semakin tumpul dan bertambah sulit untuk dimulai lagi. Lama tidak menulis, membuat kita malas melakukannya. Karena seperti mulai dari awal lagi.

Itulah yang menyebabkan mahasiswa dari berbagai strata terlambat bahkan gagal menyelesaikan skripsi, tesis atau disertasinya. Juga yang menjadi penyebab para doktor dan profesor doktor tidak menulis artikel atau buku, atau tidak dapat menyelesaikannya padahal sudah hampir rampung.

Tindakan kunci yang harus dilakukan agar tetap bisa menghasilkan tulisan adalah disiplin, fokus dan terlibat. Namun harus diakui, melaksanakannya tidak selalu mudah. Tetapi bisa mudah juga. Ini rahasianya berdasarkan pengalamanku.

Saya  sudah menuliskan pengalamanku menulis enam buku dalam satu tahun dan diterbitkan semuanya dalam buku kecil Menulislah Seperti Shalat yang diterbitkan di awal 2014. Setelah buku itu terbit undangan sebagai pembicara tentang kiat menulis terus mengalir. Pesertanya mulai dari anak sekolah sampai dosen perguruan tinggi. Tidak sedikit guru besar dari berbagai bidang ilmu dan dari perguruan tinggi ternama  mengajakku berdiskusi. Pertanyaan yang paling banyak dikemukakan adalah, bagaimana Anda mengatur waktu agar tetap bisa menulis, pekerjaan kan sangat padat? Pada umumnya mereka tidak memiliki atau tepatnya sulit mengatur waktu agar tetap menulis di tengah kesibukan yang padat karena pekerjaan yang bertumpuk. Beberapa bertanya tentang bagaimana caranya memotivasi diri agar bisa menyelesaikan tulisan yang sudah dikerjakan tetapi belum juga rampung. Beberapa guru besar sampai menunjukkan naskah bukunya yang hampir jadi tetapi terbengkalai.

Ada seorang teman yang diberi tugas menerbitkan tulisan para profesor dan doktor di sebuah perguruan tinggi negeri menyatakan keheranan dan kebingungannya. Sudah setahun ia ditugaskan, sangat sedikit bahan yang bisa dikumpulkan. Bahan yang sudah dikumpulkan itu masih jauh dari layak untuk diterbitkan. Kesannya dibuat asal-asalan. Teman lain yang bertugas menyeleksi usulan dosen untuk menulis buku ajar mengeluh. Sangat sedikit proposal yang masuk. Masa akhir pengumpulan diundurkan berkali-kali, kuota juga tidak tercapai. Karena yang memasukkan proposal masih kurang dari target, semua yang sudah memasukkan dinyatakan lolos. Meski jika digunakan indikator untuk seleksi, hanya sedikit yang bisa lolos. Inilah sekelumit kenyataan perguruan tinggi kita.

Atas berbagai pertanyaan dan perkembangan baru, aku merasa sebaiknya perlu menambahkan penjelasan tentang proses menulis berdasar beberapa pengalaman baru. Pengalaman baru dimaksud adalah keberhasilanku menerbitkan 17 buku selama 2104. Buku terakhir yang akan terbit pertengahan Desember kutulis bersama putra bungsuku yang baru kelas sembilan. Judulnya Games dan Makna Hidup.

Kesibukanku bertambah secara bermakna, baik dari segi waktu dan kualitas pekerjaan. Senin aku mengajar empat kelas, dua kelas mengajar Bahasa Indonesia yang berfokus pada keterampilan menulis, dan dua kelas untuk mata kuliah Manajemen Konflik yang mengharuskan mahasiswa melakukan penelusuran kualitatif ke berbagai lokasi yang pernah terjadi konflik di Jabodetabek. Itu artinya aku mengajar dari pukul 08.00 sampai dengan 16.50. Selasa dan Rabu ngantor di sebuah badan tingkat nasional. Kamis sampai dengan Minggu juga bekerja untuk badan tersebut, biasanya di hotel di Jakarta atau di luar Jakarta. Pekerjaan utama adalah memeriksa berkas yang menggunung.

Persoalannya adalah bagaimana mempraktikkan disiplin, fokus dan terlibat untuk menulis di antara pekerjaan yang padat itu. Jika menegakkan disiplin yang sangat ketat, bisa-bisa akan membuatku menjadi semacam mesin dan kehilangan banyak dimensi kemanusiaan. Lantas apa yang dilakukan dan bagaimana caranya agar tetap bisa produktif menulis. Bukankah harus disediakan waktu untuk membaca, berbincang, berdiskusi dan melakukan pengamatan lapangan?

Secara sederhana inilah yang kulakukan:

Pertama, tetap melanjutkan kebiasaan menulislah seperti shalat. Artinya tiap hari menulis berkali-kali dengan disiplin, fokus dan terlibat. Agar kebiasaan ini tetap dapat dilaksanakan dengan kuantitas dan kualitas yang meningkat ada yang kuubah. Dulu waktu emasku atau waktu terbaikku untuk menulis adalah setelah shalat malam sampai dengan subuh ditambah sesudah subuh. Kini diubah, setiap saat adalah waktu emas untuk menulis. Kapan dan di mana pun, bila ada kesempatan menulis, menulislah, meski hanya satu kalimat. Hasilnya sangat luar biasa. Tulisan mengalir terus. Perubahan kebiasaan ini sebagai bagian dari upaya untuk mendapatkan kebiasaan baru yang lebih bermanfaat dan bermakna. Perubahan ini ada kaitannya dengan butir berikutnya.

Kedua, memantapkan niat. Sejak awal aku niatkan bahwa kegiatan menulis meruapakan amal shalehku. Pada 2014 ini usiaku genap 50 tahun. Artinya secara matematis aku makin dekat pada ujung kehidupan. Kita tidak pernah tahu kapan kita wafat, di mana dan dengan cara apa. Namun yang jelas adalah penambahan usia dilihat dari tanggal kelahiran bermakna semakin dekat pada tanggal kematian. Setiap kali menulis, aku berusaha untuk membuat tulisan terbaik karena berpikir boleh jadi ini tulisan terakhirku.

Rupanya niat ini berhasil memotivasiku untuk menggunakan kesempatan dan waktu yang ada untuk tetap dan terus menulis. Inilah pentingnya niat. Dalam agamaku ditegaskan bahwa amal itu tergantung niat. Aku sejak awal berniat menulis sebagai amal shaleh. Niat ini sungguh memicuku terus menulis. Karena itulah aku tidak menggunakan semua tulisanku untuk keperluan naik pangkat, karena bukan untuk itu aku menulis. Sudah sekitar lima belas tahun aku tidak ngurusi kenaikan pangkat. Aku merasa bila tulisanku digunakan untuk kenaikan pangkat, maka sudah tidak sesuai dengan niat awalnya.

Ketiga, meningkatkan perhatian, sensitivitas dan keberanian menggunakan beragam cara berfikir. Aku menonton berita di media elektronik, dan mendengar berita dari radio, membaca banyak media massa, dan mengikuti berbagai perbincangan di media sosial. Semua bahan yang kudapat kupilah, pilih dan oleh jadi tulisan. Karena itu aku menulis tentang dinamika politik, kasus korupsi, kejahatan seksual terhadap anak dan berbagai kejadian yang berkembang dalam masyarakat. Bila ada teman yang curhat atau menelpon dan menyatakan pendapatnya, aku pilah, pilih dan oleh jadi tulisan. Tentu bukan apa yang dicurhatkan, tetapi substansi masalahnya yang juga dirasakan orang lain.

Sebagai contoh tulisan berjudul Kesembuhan dan Spiritualitas kubuat karena ada teman yang menelpon dan menyatakan pendapatnya yang negatif tentang spiritualitas dalam pengobatan, bersamaan dengan itu ada dua kolegaku di badan nasional yang keluarganya mengalami sakit parah. Aku gabungkan semuanya untuk tulisan itu. Pertanyaan anakku atau mahasiswa pun sering kuolah jadi tulisan. Apa pun yang kulihat di jalan atau di mana pun, selalu akau coba maknai jadi tulisan. Saat menunggu pesawat di bandara aku melihat rombongan orang hendak umroh yang jumlahnya sangat banyak, aku segera menuliskan pendapatku tentang kejadian itu selama menunggu pesawat, tidak perlu menunda. Begitupun saat di pesawat, ada penumpang yang ngotot tidak mau mematikan hpnya, aku kenali mereka sebagai guru besar karena sering diundang oleh badan nasional tempatku bekerja, aku tulis juga.

Keberanian berpikir kupraktikkan dengan cara melihat apa yang biasa dengan sudut pandang yang tidak biasa dan berbeda. Aku sering lewat Jalan Kramat Raya. Banyak tukang las, ketok dan cat duco, kulihat mereka membuka praktik di depan Kantor PBNU, lalu aku buat tulisan berjudul PBNU, Las, Ketok dan Cat Duko, begitupun saat aku melintasi Jalan Kingkit di Jakarta Pusat. Dengan cara ini aku menulis Manfaat Lupa, Indahnya Ketidaktahuan, Keteladanan Iblis dan sejumlah tulisan lain yang sejenis.

Keempat, memvariasikan beragam kegiatan dalam satu waktu. Saya wajib mengikuti sejumlah acara di badan nasional tempatku bekerja. Kami bekerja di berbagai hotel karena mengundang ratusan orang. Aku gunakan waktu istirahat untuk melakukan eksplorasi sebagai bahan tulisan. Saat ada acara di Bali, aku datang lebih cepat. Acara dimulai pada malam hari. Saya datang siang, sempat jalan sore ke Pantai Kuta dan membuat tulisan Sore Pantai Kuta. Waktu istirahat malamnya aku gunakan waktu untuk menelusuri kehidupan malam di Bali. Saya menulis Gay(a) Banget. Esoknya saat istirahat saya gunakan lagi jalan ke Pantai Kuta, lahir tulisan Siang Bolong Pantai Kuta.

Saya berjalan kaki menelusuri jalan di dekat pantai Kuta. Saya melihat nama hotel dan restauran sama dengan di Mekkah. Aku duduk di pinggir jalan dan menulis Bali, Mekkah dan Kapitalisme. Setelah itu aku jalan kaki ke Legian. Di tugu peringatan bom Bali saya duduk dan berkeliling. Berbincang dengan sejumlah orang dan menulis Bom Bali. Selagi berkegiatan di Hotel Sari Pan Pasifik Jalan Thamrin Jakarta, saat rehat kugunakan waktu menelusuri kehidupan malam, hasilnya tulisan Gigolo Jalanan. Pada saat membimbing mahasiswa KKL ke Madura, Bromo dan Jogja aku membuat banyak tulisan di jalan. Bagiku kegiatan apapun harus digunakan untuk membuat tulisan. Jangan sampai ada yang terlewat.

Kelima, memanfaatkan kejadian khusus sebagai bahan tulisan. Ramadhan tahun ini sungguh penuh berkah bagiku. Ada tiga kegiatan penting yang menarik perhatian banyak orang yaitu puasa Ramadhan, piala dunia sepak bola, dan pemilihan presiden. Saya manfaatkan ketiganya sebagai bahan tulisan. Setiap kali selesai nonton piala dunia aku menulis. Saya  juga dengan cermat mengikuti pemilihan presiden. Karena itu selama Ramadhan saya menulis tiga buku yaitu Indahnya Ramadhan dan Serunya Pilpres, Nasib itu Bulat: Sepak Bola dan Kita, dan Pesona Kuasa. Sungguh Ramadhan yang berkah dan penuh kebahagiaan.

Keenam, menjadikan keseharian, kebiasaan dan beragam kejadian yang menyangkut diri sendiri dan orang terdekat menjadi tulisan. Saya sangat senang mendengarkan lagu. Banyak lagu bagus yang menghibur. Saya mencoba menafsirkan lagu itu dan jadilah buku Problematika Manusia. Istriku dioperasi, rahimnya harus dibuang. Sahabatku Syarifudin meninggal, ada teman yang meneraktir makan, juga ada teman yang mengalami kejadian lucu. Semuanya kujadikan bahan tulisan, juga berbagai kejadian masa lalu yang menarik.

Ketujuh, menulis sebagai kenangan dan penghargaan bagi orang-orang yang berjasa bagi hidupku. Saya memiliki banyak guru sejak SD. Baik guru formal maupun nonformal. Saya  secara khusus membuat tulisan untuk mereka sebagai bentuk apresiasi dan doa. Ini menunjukkan banyak bahan atau topik yang bisa dijadikan tulisan sekaligus menunjukkan nilai-nilai baik dalam hidup.

Kedelapan, melakukan eksplorasi. Saya memang sangat sibuk, namun tak mau kehilangan kesempatan untuk tetap mengembangkan diri dan mengasah keterampilan meneliti. Karena itulah saya secara khusus melakukan penelusuran kualitatif, hasilnya lahirlah buku Penari Erotis dan Jablay ABG, Langkah-langkah Nanda Dian Nusantara Memberdayakan Anak Marginal Perkotaan. Eksplorasi ini sangat penting dilakukan agar tetap bisa menjaga stabilitas kemanusiaan dan tidak larut tenggelam dalam kegiatan teknis mekanis.

Kesembilan, menulis kapan dan di mana pun. Saya memanfaatkan waktu sependek apapun untuk menulis. Di jalan saat ke UNJ atau kantor Cipete dan perjalanan dinas digunakan untuk menulis. Perjalanan dinas adalah waktu yang sangat baik untuk menulis. Dari rumah ke bandara, di bandara, dan di pesawat bisa digunakan untuk menulis.

Kesepuluh, ada kiat khusus untuk menulis buku ajar.Saya sudah menulis buku formal yang masuk kategori buku ajar yaitu:

1. Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi (INDEKS)
2. Research and Development: Penelitian dan Pengembangan Suatu Pengantar (RajaGrafindo)
3. Riset Patisipatori (Kementerian Agama)
4. Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam (Rosda Karya)
5. Penelitian Kualitatif Paud (RajaGrafindo)
6. Penelitian Kualitatif Pendidikan (RajaGrafindo)
7. Penelitian Kualitatif IPS (Rosda Karya)
8. Penelitian Kualitatif Manajemen (RajaGrafindo)
9. Metode Penelitian Kebijakan (Rosda Karya)
10. Metode Riset Campur Sari (INDEKS)
11. Penelitian Tindakan (Rosda Karya)
12. Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar (Balitbang Kemendikbud)

Beberapa buku keroyokan yaitu:

1. Filasafat Ilmu Lanjutan
2. Bunga Rampai Problematika Bahasa Indonesia
3. Pendidkan HAM, Demokrasi dan Konstitusi.
4. Buku Pelajaran Bahasa Insonesia (6 jilid)

Buku ajar merupakan buku formal, harus berisi konsep-konsep utama terkait denan materi yang diajarkan dari para ahli yang dipercaya dan berkaliber. Karena itu dibutuhkan kehati-hatian dan akurasi untuk menulis dan menggunakan berbagai pendapat. Juga harus ada contoh untuk memudahkan pemahaman konsep. Secara agak rinci kiatnya telah kuurai dalam buku Menulislah seperti Shalat.

Ringkasnya adalah sebagai berikut:

1. Membuat kerangka karangan. Aku membuatnya tetapi tidak pernah secara tertulis, hanya secara mental saja. Agar mudah diubah dan terus diperbaiki.

2. Memilah, memilih, dan mengolah bahan. Ada setidaknya dua cara yang biasanya kulakukan. Pertama, menuliskan dulu apa yang kukuasai menyangkut konsep-konsep dasarnya, kemudian mengecek dan memperkaya dengan memanfaatkan bahan yang telah dipilah dan dipilih. Kedua, memilah, memilih, dan mengolah bahan, kemudian seluruh bahan itu disintesiskan menggunakan sudut pandangku. Baru melengkapinya dengan contoh.

3. Secara kritis membaca ulang untuk memperbaiki dan memperkaya. Untuk beberapa buku saya beruntung karena Prof. Dr. Conny Semiawan, dan Prof. Dr. H.A.R Tilaar bersedia membaca dan memberi masukan. Biasanya saya juga meminta beberapa mahasiswa membaca. Mereka diharapkan memberi kritik dan masukan.

Dari uraian panjang di atas terlihat dengan jelas bahwa disiplin, fokus dan keterlibatan itu menjadi mudah jika kita memiliki niat yang kuat. Rupanya beberapa teman yang meminta masukan jujur mengatakan, niat yang kuat itulah yang rasanya justru sulit ditumbuhkan dan dijaga dengan konsisten. Niat yang kuat memiliki kekuatan mendorong, mengarahkan dan mempertahankan kita untuk bisa terus disiplin, fokus, dan terlibat.

Pastilah ada yang dikorbankan. Hidup memang selalu meminta pengorbanan untuk mencapai tujuan. Pada titik inilah kita harus menentukan pilihan. Mau larut dalam pekerjaan rutin yang teknis mekanis, atau memperkayanya dengan kreativitas dan produktivitas menulis.

Saya  mengurangi jam tidur dan dengan agak ketat menjaga makanan dan melakukan olah raga. Mengurangi waktu tidur untuk menambah waktu menulis. Menjaga makanan agar tetap sehat dan bugar. Berolah raga rutin dan teratur untuk bugar dan memiliki daya tahan jangka panjang. Bagusnya sejak rajin berolah raga dan menjaga makanan, berat badanku turun melampaui 15 kg dan membuatku makin bugar. Saya juga memanfaatkan kegiatan olah raga sebagai bahan tulisan. Setiap kali jalan pagi di berbagai tempat kumanfaatkan jadi tulisan, begitupun kehadiranku di pusat kebugaran hotel tempat menginap.

Jadi:
BILA NIAT KUAT, MEMILIKI KEBERANIAN MEMILIH DAN KERELAAN BERKORBAN, MAKA DISIPLIN, FOKUS DAN TERLIBAT JADI MUDAH.


* Dr.Nusa Putra, M.Pd, dosen UNJ